IMF memperingatkan tekanan di pasar energi global belum mereda. Lembaga itu menyoroti penurunan drastis arus kapal yang melewati Selat Hormuz, sementara harga minyak dan gas masih berada di level tinggi.
Direktur Departemen Komunikasi IMF, Julie Kozack, menuturkan penurunan itu signifikan dibanding masa pra-perang. "Arus lalu lintas kapal melalui Selat Hormuz saat ini hanya sekitar sepersepuluh dari tingkat sebelum perang," ujar Kozack dalam konferensi pers IMF, dikutip Minggu (13/9/2026).
IMF menilai situasi tersebut patut dicermati karena Selat Hormuz merupakan salah satu jalur utama perdagangan energi dunia. Tekanan belum berakhir, apalagi kebutuhan energi berpotensi meningkat seiring berkembangnya teknologi kecerdasan buatan (AI).
Advertisement
Kebutuhan Energi Naik Imbas Ledakan AI
Menurut Kozack, lonjakan pemanfaatan AI ikut mendorong konsumsi energi di sejumlah negara. "Pada saat yang sama, kita tahu bahwa ledakan perkembangan AI meningkatkan permintaan energi di sejumlah negara," kata Kozack.
Pada saat bersamaan, musim dingin di belahan bumi utara segera tiba dan berpotensi menambah permintaan. IMF menilai kombinasi faktor ini membuat ketidakpastian pasar energi tetap tinggi. Harga produk olahan seperti diesel dan bahan bakar pesawat juga disebut masih sangat tinggi.
Kozack juga menegaskan banyak negara telah mengandalkan cadangan minyak dan gas strategis untuk meredam gejolak, namun langkah tersebut bukan solusi permanen karena persediaannya harus dipulihkan kembali.
Advertisement
IMF Perkirakan Ekonomi Dunia Tumbuh 3%
Kondisi energi menjadi salah satu variabel yang diperhatikan IMF dalam memantau perekonomian. Sejauh ini, ekonomi global dinilai cukup tangguh menghadapi guncangan di sektor energi.
IMF masih melihat laju pertumbuhan ekonomi dunia berada di sekitar 3%, meski lembaga tersebut menekankan tingkat ketidakpastian tetap tinggi.
Tekanan energi yang belum mereda disebut sebagai salah satu risiko yang dapat memengaruhi prospek ekonomi global ke depan.