Fenomena kematian mendadak di lapangan hijau

Fenomena di balik kasus meninggalnya para pemain sepakbola saat pertandingan.

Destriyana
Oleh Destriyana - Reporter
Fenomena kematian mendadak di lapangan hijau
Seorang pemain sepakbola meninggal setelah terkena serangan jantung. merdeka.com/aberrantnews.com

Beberapa pemain bola harus menghadapi kenyataan mengenai bahaya kematian saat pertandingan. Berdasarkan catatan wikipedia.org, lebih dari 80 pemain sepakbola meninggal di lapangan sejak tahun 1889 sampai 2012. Penyebab umum dari insiden tersebut adalah cardiopulmonary arrest yang merujuk pada serangan jantung mendadak. Ironisnya, mereka yang meninggal merupakan para atlet profesional, yang notabenenya selalu menjalankan diet sehat dan latihan fisik secara rutin. Lantas, mengapa banyak pemain bola yang meninggal akibat serangan jantung?FIFA sebagai Federasi Sepakbola Dunia dibuat kelimpungan menghadapi berbagai kasus meninggalnya pemain sepakbola saat pertandingan. Baru-baru ini, jagat persepakbolaan digegerkan kematian Piermario Morosini, pemain Livorno yang meninggal ketika menjalani pertandingan Liga Italia Seri B, saat melawan Pescara. Piermario jatuh pada menit ke-31 dan segera mendapat pertolongan medis di lapangan. Namun takdir berkehendak lain. Pesepakbola Italia berusia 25 tahun ini harus merenggang nyawa di Rumah Sakit Pescara, Italia, pada tanggal 14 April 2012. Pemain bola lain yang mengalami kejadian serupa adalah D. Venkatesh. Pemain asal Bangalore Mars ini menggantikan rekannya pada menit ke-73. Saat wasit meniup peluit pertanda berakhirnya pertandingan, Venkatesh tiba-tiba menggelapar di atas tanah. Menurut laporan, ia terkena serangan jantung mendadak.Fenomena kematian atlet sepakbola saat pertandingan tidak hanya disebabkan oleh serangan jantung. Beberapa kasus kematian lainnya terjadi akibat adanya infeksi tetanus. Jumlahnya memang sangat kecil bila dibandingkan kasus serangan jantung. Joe Powell, pemain Woolwich Arsenal, menderita keracunan darah dan tetanus setelah mengalami patah lengan pada tahun 1896. Kasus berbeda juga terjadi pada Nikola Gazdić, pesepakbola Hajduk Split, yang meninggal akibat penyakit TBC stadium akhir. Sebuah penelitian medis menemukan bahwa kasus serangan jantung mendadak pada atlet profesional lebih tinggi daripada non-atlet. Kematian Piermario Morosini saat pertandingan pada bulan April lalu hanya salah satu dari lima kasus kematian akibat serangan jantung mendadak di lapangan dalam beberapa bulan terakhir. Oleh karena itu, tidak mengherankan perawatan medis darurat untuk olahraga sepak bola menjadi salah satu topik yang paling hangat dibicarakan pada Konferensi Medis kedua di Budapest, berdasarkan laporan FIFA.com.Dalam konferensi ini, para ahli medis membahas berbagai isu kesehatan yang sedang marak diperbincangkan. Serangan jantung mendadak di lapangan adalah satu dari sekian banyak isu yang mereka bahas. Profesor Efraim Kramer, spesialis jantung, mengatakan: "Jika ada pertandingan sepakbola, Anda memerlukan defibrillator. Jika Anda tidak memilikinya, Anda lebih baik memesan peti mati."Defibrillator atau alat pacu jantung merupakan perangkat medis yang dapat memberikan shock listrik yang menyebabkan depolarisasi sementara dari jantung dengan denyut tidak teratur, sehingga memungkinkan munculnya kembali aktivitas listrik jantung yang terkoordinir. Tim dokter dan eksekutif sepakbola terkemuka yang berkumpul di Budapest HungExpo juga mendengar cerita salah satu insiden serangan jantung mendadak dalam beberapa bulan terakhir yang berakhir bahagia. Gelandang Bolton Wanderers, Fabrice Muamba, ambruk di lapangan saat timnya menjalani pertandingan Piala FA melawan Tottenham Hotspur pada bulan Maret lalu. Namun, berkat respon cepat dan efektif dari semua orang yang terlibat, mulai dari staf medis hingga wasit. Akhirnya Muamba berhasil diselamatkan.Pertolongan pertama di lapangan menjadi aspek penting dalam upaya penyelamatan korban. Masalah kesehatan pemain menjadi prioritas FIFA saat ini, terutama kasus serangan jantung.Penyebab utama terjadinya serangan jantung sebagian besar dikarenakan tingginya kadar kolesterol, tekanan darah tinggi, obesitas, diabetes, dan stres. Serangan jantung terjadi ketika aliran darah ke jantung berkurang atau benar-benar diblokir. Kondisi tersebut akan menyebabkan rasa nyeri di dada. Jika tidak segera diobati, jaringan jantung yang terkena akan mati. Serangan jantung yang mendadak dan tak terduga juga dipengaruhi faktor usia dan gen. Kedua faktor ini berperan penting bagi riwayat kesehatan seseorang. Setiap orang dapat mewarisi risiko serangan jantung dari orang tua mereka, menurut medicalnewstoday.com. Selain itu, penyakit jantung juga sangat dipengaruhi gaya hidup tidak sehat dan konsumsi makanan tidak sehat. Mencegah adalah solusi terbaik untuk menghadapi serangan jantung. Itulah yang kini gencar dilakukan oleh FIFA.

Rekomendasi