Harga BBM Non-Subsidi Naik, Wamen ESDM Beri Penjelasan

Penetapan harga produk BBM non-subsidi, seperti Pertamax, berpatokan pada harga rata-rata minyak dunia.

Idris Rusadi Putra
Oleh Idris Rusadi Putra - Reporter
Harga BBM Non-Subsidi Naik, Wamen ESDM Beri Penjelasan
Harga BBM yang mengalami kenaikan merupakan jenis nonsubsidi, dimana mengikuti perkembangan pasar minyak dunia karena adanya gelojak di Timur Tengah. Perubahan harga diprediksi terjadi per 1 April 2026 pukul 00.00 WIB. Tampak dalam foto, para pengendara sepeda motor mengantre untuk mengisi bahan bakar di sebuah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) yang dioperasikan oleh Pertamina, perusahaan minyak dan gas milik negara Indonesia, di Yogyakarta, pada Sabtu 28 Maret 2026. (DEVI RAHMAN/AFP)

Penyesuaian harga Bahan Bakar Minyak (BBM) non-subsidi di dalam negeri dipastikan bergerak searah dengan pergerakan harga pasar minyak global.

Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Yuliot menjelaskan bahwa penetapan harga produk BBM non-subsidi, seperti Pertamax, berpatokan pada harga rata-rata minyak dunia yang dikombinasikan dengan kalkulasi internal Pertamina.

"Kalau untuk pertamax itu kan prinsipnya itu adalah sesuai dengan harga pasar," ujar Yuliot usai menghadiri gelaran The 12th IndoEBTKE ConEx 2026 di Jakarta, Rabu (2/9/2026).

Yuliot menambahkan bahwa Pertamina menggunakan rumus khusus dalam menentukan harga jual. Komponen tersebut memperhitungkan Biaya Pokok Penyediaan (BPP) serta margin keuntungan.

"Harga itu (pertamax) kan kan kami lihat itu harga rata-rata (minyak dunia). Dari harga rata-rata ya kira-kira berapa BPP dari Pertamina, kemudian ada margin," ucap Yuliot.

Rincian Kenaikan Harga BBM per September 2026

Per 1 April 2026, Harga BBM Nonsubsidi Diprediksi Naik 10 Persen
Para pengendara sepeda motor mengantre untuk mengisi bahan bakar di sebuah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) yang dioperasikan oleh Pertamina. (DEVI RAHMAN/AFP)

Penyesuaian tarif BBM per 1 September 2026 terlihat pada sejumlah produk non-subsidi Pertamina. Di kawasan Jabodetabek, harga BBM jenis Dexlite (CN 51) melonjak menjadi Rp23.700 per liter dari sebelumnya Rp19.700 per liter. Pertamina Dex (CN 53) juga naik dari Rp21.150 menjadi Rp25.200 per liter.

Kenaikan turut terjadi pada Pertamax Turbo yang kini dibanderol Rp19.600 per liter dari posisi Agustus sebesar Rp18.300 per liter. Sementara itu, Pertamax Green 95 naik menjadi Rp19.150 per liter mulai 2 September 2026, dari harga sebelumnya Rp16.600 per liter.

Di sisi lain, harga Pertamax bertahan di angka Rp15.950 per liter sejak 1 Agustus 2026. Jenis BBM penugasan dan subsidi juga tidak mengalami perubahan, yakni Pertalite tetap Rp10.000 per liter dan Biosolar Rp6.800 per liter.

Dipicu Ketegangan Geopolitik dan Kenaikan Minyak Mentah

Dinamika harga di tingkat domestik ini sejalan dengan melonjaknya harga minyak mentah internasional. Mengutip data Sputnik, harga minyak mentah Brent menembus angka 96 dolar AS per barel akibat gelombang baru serangan yang melibatkan Amerika Serikat dan Iran.

Pada perdagangan pukul 00.58 GMT, kontrak berjangka Brent pengiriman Desember terangkat 1,48 persen ke posisi USD 96,65 per barel. Adapun minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Oktober menguat 1,98 persen ke level USD 92,20 per barel.

Lonjakan ini terbilang signifikan mengingat harga sempat tertekan pada akhir Agustus 2026. Kala itu, Brent berada di kisaran USD 86,2 per barel setelah turun 2,4 persen, sementara WTI sempat merosot 5,5 persen ke posisi USD 80,40 per barel.

Rekomendasi