Musik bukan hanya sekadar hiburan, melainkan juga investasi berharga bagi perkembangan otak anak. Dilansir dari ANTARA, dokter spesialis anak lulusan Universitas Airlangga, Dr. dr. Lisa Pangemanan, Sp.A, Subsp.T.K.P.S(K) , menyarankan orang tua untuk mengenalkan musik sejak dini. Saran ini didasarkan pada penelitian yang menunjukkan bahwa musik memiliki dampak positif terhadap perkembangan kognitif, sosial-emosional, dan fisik anak.
Dalam seminar daring tentang peran musik dalam perkembangan anak, Lisa Pangemanan menekankan pentingnya mengenalkan musik sejak usia dini. Ia menyarankan orang tua untuk memulai dengan memperdengarkan musik yang menenangkan. Musik yang digunakan pada masa kecil, seperti lagu anak-anak dan lullaby, dapat memberikan kenyamanan dan rasa aman pada anak.
"Prinsipnya adalah tolong kenalkan musik dari sedini mungkin. Kita bisa menggunakan musik yang zaman kita dulu kecil ada musik yang untuk anak-anak, kemudian lullaby, yang kita dapatkan sesuatu yang memberikan kenyamanan," kata Lisa.
Advertisement
Musik dapat meningkatkan kemampuan kognitif anak, seperti memori, perhatian, kemampuan memecahkan masalah, dan kemampuan berbahasa. Proses belajar musik melibatkan berbagai area otak, sehingga merangsang koneksi saraf dan meningkatkan plastisitas otak. Neuroplastisitas adalah kapasitas neuron dan jaringan saraf di otak untuk mengubah koneksi dan perilaku sebagai respons terhadap informasi baru, rangsangan sensorik, perkembangan, kerusakan, atau disfungsi.
Anak-anak yang belajar musik cenderung memiliki skor lebih tinggi dalam tes IQ dan kemampuan akademik. Musik juga dapat meningkatkan kesadaran fonologis, yang penting untuk perkembangan kemampuan membaca dan menulis. Ritme dan melodi dalam musik membantu anak memahami struktur bahasa dan meningkatkan kemampuan verbal.
"Kalau misalnya kita mau bicara yang di usia dua tahun, itu sudah sangat bisa sih. Karena kenyataannya untuk yang les-les musik itu ada yang di usia dua tahun," ujar Lisa.
Advertisement
Bermain musik, baik secara individu maupun kelompok, mengajarkan anak-anak tentang kerja sama, disiplin, dan ekspresi diri. Berpartisipasi dalam kegiatan musik dapat meningkatkan rasa percaya diri, mengurangi stres, dan meningkatkan kemampuan empati. Musik juga dapat membantu anak-anak mengenali dan mengekspresikan emosi mereka.
Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Dr. dr. Piprim Basarah Yanuarso, Sp.A, Subsp.Kardio(K) , menjelaskan bahwa musik dapat merangsang berbagai area otak, termasuk lobus temporal untuk pendengaran, lobus frontal untuk emosi, dan cerebellum untuk koneksi motorik. Musik juga dapat meningkatkan konektivitas antar neuron, terutama pada usia 0 hingga 6 tahun, yang dikenal sebagai seribu hari pertama kehidupan.
"Dan ini juga meningkatkan konektivitas antar neuron, terutama pada golden age, usia 0 sampai 6 tahun ya, kita kenal dengan seribu hari pertama kehidupan," kata Piprim.
Advertisement
Mengenalkan musik pada anak sejak dini tidak harus berarti memaksa mereka untuk menjadi musisi profesional. Pengenalan musik dapat dilakukan dengan cara yang menyenangkan dan alami. Beberapa cara yang dapat dilakukan orang tua antara lain:
- Mendengarkan musik beragam genre: Paparkan anak pada berbagai jenis musik, dari klasik hingga pop, jazz, dan tradisional.
- Bernyanyi bersama: Nyanyikan lagu anak-anak, lagu daerah, atau lagu kesukaan keluarga.
- Menari bersama: Gerakan tubuh saat mendengarkan musik juga merangsang perkembangan otak.
- Mengikuti kelas musik: Jika anak menunjukkan minat, daftarkan mereka ke kelas musik yang sesuai dengan usia dan kemampuannya.
- Membeli mainan musik: Xylophone, drum kecil, atau mainan musik lainnya dapat merangsang kreativitas dan eksplorasi musik anak.
Dokter Lisa menambahkan bahwa bayi sudah bisa merespons suara pada tiga bulan terakhir usia kehamilan. Pada masa ini, orang tua sudah bisa mulai memperdengarkan musik kepada anak. Bahkan, bernyanyi untuk anak, meskipun orang tua merasa tidak memiliki kemampuan vokal yang baik, tetap dapat memberikan manfaat.
"Kan bisa dengan bernyanyi, karena anak itu akan juga merasa tenang, walau mungkin orang tuanya buta nada atau segala macam, itu bukan merupakan alasan untuk tidak mengenalkan musik dari awal," kata Lisa.
Advertisement
Musik juga dapat digunakan sebagai terapi untuk membantu anak-anak dengan gangguan perkembangan seperti autisme, Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD), dan cerebral palsy. Terapi musik pasif dapat membantu memperbaiki kemampuan akademik anak, termasuk kemampuan aritmatika, menggambar, dan membaca, serta perhatian dan perilaku anak.
"Pemilihan musik seperti halnya pemilihan obat, yang harus tepat pasien, tepat dosis, tepat cara, dan tepat waktu. Oleh karena itu tepat jenis musik, tepat frekuensi, dan durasi pemberian musik," jelas Lisa.
Dengan mengenalkan musik sejak dini, orang tua dapat memberikan investasi berharga bagi perkembangan otak anak. Musik dapat merangsang pertumbuhan kognitif, sosial-emosional, dan fisik anak, serta membantu mereka mengembangkan potensi diri secara maksimal.