Proses inseminasi buatan atau intrauterine insemination (IUI) telah menjadi salah satu solusi bagi pasangan suami istri yang mengalami kesulitan untuk mendapatkan keturunan. Namun, tidak semua pasangan memerlukan prosedur ini. Menurut dr. Shanty Olivia S. J, Sp.OG Subsp F.E.R, dokter spesialis kebidanan dan kandungan subspesialis fertilitas endokrinologi dan reproduksi, terdapat sejumlah faktor yang menentukan kapan prosedur inseminasi harus dilakukan.
Dalam diskusi bersama Rumah Sakit Pondok Indah Puri Indah, Shanty menyebutkan beberapa kondisi yang disarankan untuk menjalani inseminasi, seperti gangguan kesuburan yang tidak diketahui penyebabnya (unexplained infertility), endometriosis ringan, dan gangguan sperma ringan.
“Faktor lain termasuk gangguan penyakit tertentu yang membutuhkan pencucian sperma khusus, seperti infeksi hepatitis, HIV, atau hepatitis C, penyempitan leher rahim pada wanita, serta gangguan ovulasi,” jelas Shanty dilansir dari Antara.
Advertisement
Keberhasilan inseminasi bergantung pada berbagai syarat medis. Dari sisi istri, kondisi rahim dan saluran tuba harus sehat karena hasil pembuahan akan menempel di rahim. Saluran tuba yang tersumbat dapat menghambat masuknya sperma ke sel telur.
“Istri juga harus memiliki siklus ovulasi yang baik agar ada telur yang siap dibuahi. Selain itu, usia menjadi faktor penting—idealnya di bawah 40 tahun karena kualitas dan jumlah telur perempuan menurun drastis setelah usia tersebut,” ungkap Shanty.
Sementara itu, dari sisi suami, gangguan sperma berat seperti azoospermia (tidak ada sperma) dapat mengurangi peluang keberhasilan inseminasi.
Advertisement
Menurut dr. William Sp.And, dokter spesialis andrologi lulusan Universitas Airlangga, pria perlu melakukan persiapan untuk mengoptimalkan kondisi sperma. Salah satu caranya adalah memperbaiki pola hidup, seperti mengurangi konsumsi makanan cepat saji, meningkatkan aktivitas fisik, dan menjaga berat badan ideal.
“Mungkin pakai obat-obatan tertentu atau memperbaiki gangguan hormonal hingga mencapai standar syarat minimal. Jika sudah optimal, barulah proses inseminasi bisa dilakukan,” kata William.
William juga menekankan pentingnya menjaga kualitas sperma melalui olahraga ringan seperti jalan santai, yoga, atau jogging. Olahraga berat sebaiknya dihindari karena dapat menyebabkan kelelahan yang justru menurunkan kualitas sperma.
Selain itu, kualitas tidur yang optimal sangat penting. “Hormon testosteron pria diproduksi tengah malam hingga pagi hari, mencapai puncaknya sekitar pukul 6-9 pagi. Tidur cukup 7-8 jam memengaruhi pematangan sperma,” tambahnya.
Asupan nutrisi juga menjadi faktor penting. Konsumsi sayur dan buah berwarna-warni dapat mendukung pembentukan sperma yang sehat. Pria juga disarankan menjaga suhu testis di kisaran 33-34 derajat Celsius dengan tidak memakai celana ketat.
Advertisement
Meski angka keberhasilan inseminasi hanya sekitar 10-20 persen, prosedur ini tetap menjadi pilihan bagi pasangan yang telah mencoba pembuahan alami selama lebih dari satu tahun tanpa hasil.
Namun, ada faktor-faktor yang bisa menghambat keberhasilan, seperti sperma yang gagal membuahi sel telur, embrio yang tidak berkembang, atau embrio yang tidak menempel di rahim.
Oleh karena itu, evaluasi medis yang cermat sangat diperlukan sebelum menjalani proses inseminasi. Pasangan suami istri harus memahami kondisi masing-masing dan bekerja sama dengan dokter untuk meningkatkan peluang keberhasilan.
Inseminasi adalah jalan yang memberikan harapan baru bagi pasangan yang ingin memiliki buah hati. Dengan persiapan yang matang, pola hidup sehat, dan bantuan teknologi medis, peluang keberhasilan dapat ditingkatkan.
Bagi pasangan yang mempertimbangkan prosedur ini, penting untuk memahami kondisi kesehatan masing-masing dan berkonsultasi dengan dokter ahli. Dengan demikian, perjalanan menuju kehamilan dapat dihadapi dengan optimisme dan keyakinan yang lebih besar.