Di Surabaya, Megawati Soroti Jejak Bung Karno dan Arahkan Kader PDIP

Di konsolidasi PDIP Jatim, Megawati menegaskan peran Surabaya bagi Bung Karno dan menginstruksikan penguatan akar rumput kader.

Pebrianto Eko Wicaksono
Di Surabaya, Megawati Soroti Jejak Bung Karno dan Arahkan Kader PDIP
Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri

Ketua Umum DPP PDI Perjuangan (PDIP) Megawati Soekarnoputri menegaskan Jawa Timur, khususnya Surabaya, menempati posisi penting dalam sejarah perjuangan dan pembentukan pemikiran Presiden Pertama RI Soekarno (Bung Karno).

Ia menautkan pesan itu dengan jejak Bung Karno di Surabaya, Mojokerto, dan Blitar yang sarat rekam perjuangan serta penggemblengan diri.

Pernyataan tersebut disampaikan Megawati saat memberikan pengarahan pada Konsolidasi PDI Perjuangan Jawa Timur di Surabaya, Minggu (23/8/2026), dilansir dari Antara.

Surabaya 'Dapurnya Nasionalisme' dan Pidato Megawati

Dalam arahannya, Megawati menekankan posisi ideologis dan historis Jawa Timur dalam perjalanan Bung Karno.

"Dalam perspektif ideologis dan historis, Jawa Timur sangat penting karena Bung Karno lahir, dibesarkan, dan menggembleng diri di Jawa Timur ini. Surabaya, Mojokerto, dan Blitar penuh dengan rekam jejak sejarah perjuangan Bung Karno. Beliau sendiri menyebutkan Surabaya merupakan 'Dapurnya Nasionalisme'," kata Megawati.

"Sebab Bung Karno sendirilah yang mengatakan bahwa Surabaya adalah Dapurnya Nasionalisme. Artinya, di sini menjadi tempat penggodokan dan penggemblengan bagi lahirnya pejuang dan patriot-patriot bangsa yang tangguh," tutur Megawati.

Jejak Pendidikan Bung Karno di Kota Pahlawan

Megawati mengingatkan, di Surabaya Bung Karno menamatkan pendidikan di HBS (Hoogere Burgerschool) sekaligus berguru kepada H.O.S. Tjokroaminoto.

Dalam kondisi serba terbatas, Bung Karno tinggal di ruangan sempit tanpa jendela dan hanya menggunakan penerangan lampu teplok.

Menurut Megawati, dari ruang sederhana itu, Bung Karno mematangkan pemikiran intelektualnya melalui buku-buku dan berdialog secara konseptual dengan para tokoh dunia, antara lain Thomas Jefferson, George Washington, William Gladstone, Karl Marx, Sun Yat-sen, Mustafa Kemal Atatürk, Jean-Jacques Rousseau, hingga para pemikir dan pejuang kemerdekaan dari berbagai bangsa.

"Surabaya dengan demikian menjadi tempat di mana Bung Karno menggembleng diri menjadi patriot yang tangguh. Dari usia yang begitu muda, 16 tahun, beliau telah berimajinasi dan kemudian berjuang untuk Indonesia Merdeka," ujarnya.

Pelajaran untuk Anak Muda: Ide, Imajinasi, dan Keberanian

Presiden kelima RI itu menyebut generasi muda dapat belajar dari Bung Karno mengenai kekuatan pemikiran, imajinasi, keberanian, dan perjuangan.

Menurut Megawati, Bung Karno menjadi teladan seorang anak muda yang hidup dalam keterbatasan, namun memiliki visi besar dan pandangan jauh ke depan tentang masa depan bangsa.

"Surabaya pada tahun 1916 sudah menjadi pusat kapitalisme global. Namun Bung Karno bisa membuktikan bahwa kekuatan kolonialisme terbesar di dunia, yakni Hindia Belanda, bisa dikalahkan melalui kemerdekaan Indonesia. Jadikan ini sebagai pembelajaran bagi anak-anak muda untuk berani bermimpi. Bung Karno berjuang dari sosok pemuda miskin, namun punya cita-cita besar dan berjuang bagi cita-citanya," kata Megawati.

Instruksi ke Kader PDIP Jatim: Akar Rumput hingga Target 'Kandang Banteng'

Di tengah pragmatisme politik, Megawati menekankan pentingnya kekuatan ide, imajinasi, strategi, dan militansi. Ia mengingatkan kader PDIP agar tidak menempatkan uang dan kekuasaan sebagai segala-galanya dalam perjuangan politik.

Ia menyebut kekuatan utama PDIP terletak pada ideologi, semangat juang, serta kedekatan dan pergerakan bersama rakyat di akar rumput. Megawati meminta kader mampu menjadikan PDIP sebagai salah satu kekuatan politik terpenting di Pulau Jawa.

"Perkuatlah akar rumput. Jadikan spirit penggemblengan Bung Karno sebagai sumber energi, khususnya di Jawa Timur," ujarnya.

Megawati juga mengingatkan pentingnya membangun emotional bonding atau ikatan emosional, baik dengan rakyat maupun di antara sesama kader partai, guna memperkuat soliditas dan menjaga hubungan PDIP dengan masyarakat.

Ia berharap Jawa Timur kembali menjadi "Kandang Banteng", dengan target perolehan kursi setidak-tidaknya menyamai capaian PDIP pada Pemilu 2019. Megawati menegaskan militansi kader PDIP Jatim telah teruji dalam sejarah, termasuk saat menghadapi tekanan pada masa Orde Baru.

"Ingat, ketika menghadapi tekanan Orde Baru pun, Jawa Timur hadir sebagai kekuatan pendobrak. Pandegiling dan Sukolilo menjadi bukti militansi arek-arek Banteng Jawa Timur," kata Megawati.

Rekomendasi