Jelang Muktamar PBNU ke 35 yang akan digelar di Jombang, Jawa Timur, sejumlah nama digadang-gadang akan maju dalam bursa pemilihan Ketua Umum PBNU. Salah satu nama yang muncul adalah KH Abdul Ghaffar Rozin atau biasa disapa Gus Rozin.
Ketua PWNU Jawa Tengah ini telah melakukan silaturahmi kesejumlah daerah seperti Lampung, Sulawesi Selatan, Sulawesi Utara, Gorontalo, Bali, NTT, Kalimantan Timur hingga Kalimantan Utara. Dalam safarinya ini, Gus Rozin menemukan berbagai permasalahan yang disampaikan pengurus NU di daerah.
Gus Rozin menceritakan pengurus NU di luar Jawa, banyak menyampaikan persoalan keterbatasan pesantren, kaderisasi, sumber daya manusia, hingga akses terhadap pendampingan organisasi. Kondisi geografis juga membuat kebutuhan NU di luar Jawa tidak selalu sama dengan yang dihadapi NU di Jawa.
Kondisi ini membuat Gus Rozin menilai penguatan NU ke depan perlu lebih banyak bertumpu pada kebutuhan jemaah dan kondisi daerah, terutama di luar Pulau Jawa.
Gus Rozin mendorong agar penguatan NU dilakukan dari akar rumput. PWNU dan PCNU perlu diberi ruang yang cukup untuk mengembangkan organisasi berdasarkan kebutuhan masing-masing daerah.
“NU itu jemaah ada duluan, baru jam’iyyahnya. Penguatan NU perlu dilakukan melalui pendekatan dari bawah ke atas, bukan hanya dari tingkat atas,” jelas Gus Rozin, Minggu (16/8).
Advertisement
Soroti Pesantren
Dia juga menilai pesantren harus mendapat perhatian serius. Pesantren, kata Gus Rozin, merupakan bagian tidak dapat dipisahkan dari sejarah NU. Penguatan pesantren karena itu tidak hanya berkaitan dengan pendidikan, tetapi juga dengan masa depan NU sendiri.
Dalam pertemuan dengan pengurus NU di sejumlah daerah, persoalan pesantren menjadi salah satu pembahasan berulang. Di beberapa wilayah luar Jawa, bahkan masih terdapat daerah yang belum memiliki pesantren yang cukup representatif.
Bagi Gus Rozin, kondisi seperti itu membutuhkan kehadiran organisasi yang lebih praktis dan dekat. PBNU tidak harus mengambil alih semua urusan daerah, tetapi dapat membantu menghubungkan kebutuhan daerah agar bisa mendapat perhatian pusat.
Gagasan tersebut berjalan beriringan dengan pandangannya mengenai hubungan antara jamaah dan jam’iyyah. Penguatan struktur organisasi, menurut Gus Rozin, harus berjalan bersama dengan penguatan masyarakat yang menjadi basis NU.
Dalam suasana NU yang sedang menghadapi dinamika internal, dia juga mengingatkan pentingnya komunikasi dan ukhuwah. Perbedaan pendapat, menurutnya, perlu dikelola melalui ruang dialog agar tidak berkembang menjadi persoalan yang lebih besar.
"Membangun NU bukan hanya pekerjaan pengurus di tingkat pusat. Ada pekerjaan besar di pesantren, PWNU, PCNU, hingga masyarakat yang selama ini menjadi basis kehidupan Nahdlatul Ulama. Karena NU yang kuat adalah NU yang tumbuh bersama dan mampu mendengar kebutuhan jemaah," tutup Gus Rozin.