Gus Rozin Masuk Bursa Ketum PBNU, Bawa Gagasan Poros Tengah Satukan NU

Kehadiran Gus Rozin dinilai dapat menjadi alternatif melalui apa yang disebut sebagai “poros tengah”, yakni pendekatan yang mengedepankan upaya mempertemukan berbagai kelompok di tubuh NU.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Gus Rozin Masuk Bursa Ketum PBNU, Bawa Gagasan Poros Tengah Satukan NU
Ketua Majelis Masyayikh Abdul Ghaffar Rozin (Istimewa)

Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-35 yang dijadwalkan berlangsung pada 27–31 Agustus 2026 di Pondok Pesantren Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, mulai menghangat seiring munculnya sejumlah kandidat Ketua Umum PBNU.

Salah satu nama yang disebut memiliki peluang dalam kontestasi tersebut adalah KH Abdul Ghaffar Rozin atau Gus Rozin. Kehadiran Gus Rozin dinilai dapat menjadi alternatif melalui apa yang disebut sebagai “poros tengah”, yakni pendekatan yang mengedepankan upaya mempertemukan berbagai kelompok di tubuh NU.

 "Jika Gus Rozin datang di penghujung perhelatan Muktamar, bukan berarti dia terlambat deklarasi dan sosialisasi, tetapi semata-mata memberikan kesempatan kepada PBNU untuk ishlah kaffah dan merekayasa atmosfer kepemimpinan PBNU yang kondusif, tanpa menyeret struktur level PWNU dan PCNU dalam pusaran konflik. Setelah dinanti dan tidak ada tanda ishlah yang sebenarnya, maka dengan nawaitu menjaga nilai-nilai luhur jam'iyah serta merawatnya menuju NU yang berdaulat, bermartabat, dan bermanfaat, bismillah dia menjadi kandidat melalui jalur "poros tengah", yaitu poros yang mempertemukan, bukan poros baru yang diametral," kata Mufid Rahmat, kader NU asal Boyolali, dalam keterangannya, Jumat (14/8).

Menurut Mufid, Gus Rozin memiliki modal pengalaman organisasi, pendidikan, jaringan pesantren, serta rekam jejak pengabdian yang dinilai relevan dengan kebutuhan NU saat ini.

Mufid menyebut langkah Gus Rozin masuk dalam bursa Ketua Umum PBNU bukan sekadar bagian dari kontestasi, melainkan didorong keinginan menjaga nilai-nilai jam'iyah dan membangun suasana kepemimpinan yang lebih kondusif.

“Poros tengah” yang ditawarkan Gus Rozin, menurut Mufid, bukan dimaksudkan sebagai kubu baru yang berhadapan dengan kelompok lain, melainkan sebagai jalan untuk mempertemukan berbagai pihak di internal NU.

Lima Prinsip Kepemimpinan Gus Rozin

Dalam pandangan Mufid, NU membutuhkan sosok pemimpin yang kuat tetapi tetap mengedepankan keteladanan, musyawarah, dan pelayanan kepada umat.

Dia menyebut Gus Rozin menawarkan lima prinsip kepemimpinan, yakni akhlakul karimah sebagai landasan moral, musyawarah dalam pengambilan keputusan, keadilan dalam menetapkan kebijakan, khidmah sebagai orientasi kepemimpinan, serta maslahah sebagai tujuan akhir setiap kebijakan.

Mufid menilai prinsip tersebut relevan dengan karakter NU yang memiliki basis massa besar serta latar belakang warga yang beragam dari sisi pendidikan, kultur, ekonomi, dan tingkat religiusitas.

“NU tidak butuh ‘wawu panjang’ (wah), tetapi butuh uswah; pemimpin sekaligus teladan,” ujar Mufid dalam pandangannya mengenai sosok Gus Rozin.

 

Punya Latar Belakang Pesantren dan Pendidikan

Gus Rozin disebut memiliki latar belakang pendidikan agama dan umum. Selain pendidikan pesantren, ia tercatat menempuh pendidikan filsafat di STF Driyarkara Jakarta, Tarbiyah di IAI Al-Aqidah Jakarta, serta program Manajemen Pendidikan dan Leadership di Monash University, Australia. Ia juga menempuh program doktoral di UIN Walisongo Semarang.

Dari sisi jaringan pesantren, Mufid menyebut Gus Rozin memiliki keterkaitan dengan sejumlah pesantren besar, antara lain Tambakberas dan Denanyar di Jombang, Maslakul Huda di Kajen, Pati, Al-Munawwir Krapyak di Yogyakarta, serta Lirboyo di Kediri.

Gus Rozin juga disebut memiliki pengalaman panjang dalam organisasi NU. Pengalamannya antara lain dimulai dari IPNU, GP Ansor, Rabithah Ma'ahid Islamiyah (RMI), hingga jajaran Katib Syuriah PBNU. Saat ini, ia disebut menjabat Ketua PWNU Jawa Tengah serta Ketua Majelis Masyayikh.

Mufid menilai pengalaman panjang tersebut menjadi salah satu modal bagi Gus Rozin untuk memahami dinamika dan persoalan yang dihadapi NU.

 

Pengalaman Mengelola Pesantren dan Lembaga

Selain aktivitas organisasi, Gus Rozin disebut aktif mengelola sejumlah lembaga di lingkungan pesantren. Ia merupakan pengasuh Pondok Pesantren Maslakul Huda, Kajen, Pati, sekaligus terlibat dalam pengelolaan lembaga pendidikan, kesehatan, keuangan syariah, dan berbagai usaha pesantren.

Menurut Mufid, kondisi tersebut membuat Gus Rozin memiliki pengalaman dalam mengelola berbagai sektor sekaligus dapat lebih fokus pada pengabdian di NU.

Ia juga menilai karakter kepemimpinan Gus Rozin yang disebut tidak banyak menggunakan pendekatan konfrontatif dapat menjadi modal untuk meredakan ketegangan di internal organisasi.

 

Usung Penguatan Tata Kelola dan Kaderisasi

Dalam pandangan Mufid, Gus Rozin membawa sejumlah gagasan untuk pengembangan NU ke depan. Beberapa di antaranya mencakup penguatan Aswaja, khittah dan qanun asasi, tata kelola organisasi yang transparan, penguatan ekosistem pendidikan NU, serta kaderisasi yang sistematis dan berkelanjutan.

Selain itu, terdapat gagasan pengembangan NU Satu Data, penguatan kemandirian ekonomi, serta peningkatan diplomasi dan kolaborasi NU di tingkat nasional maupun global.

Mufid menilai gagasan tersebut menunjukkan pendekatan yang ingin menggabungkan visi jangka panjang dengan persoalan praktis yang dihadapi organisasi.

“Gus Rozin tidak sekadar hadir, tetapi dia hadir dengan visi strategis yang populis dan realistik,” ujar dia.

Kontestasi Ketum PBNU Dinilai Bukan Sekadar Persaingan

Mufid berpandangan bahwa kontestasi Ketua Umum PBNU dalam Muktamar ke-35 seharusnya tidak berhenti pada persoalan siapa yang menjadi pemenang.

Menurut dia, hal yang lebih penting adalah memastikan pemimpin yang terpilih mampu menjadi perekat berbagai kelompok di tubuh NU dan memiliki kapasitas menyelesaikan persoalan organisasi.

Dengan rekam jejak dan pengalaman yang dimilikinya, Mufid menilai Gus Rozin berpotensi menjadi salah satu figur yang menawarkan kepemimpinan NU yang lebih teduh dan mengedepankan kebersamaan.

Namun, keputusan akhir mengenai Ketua Umum PBNU tetap berada dalam mekanisme Muktamar NU ke-35. Kontestasi diperkirakan akan mempertemukan sejumlah kandidat dengan latar belakang, jaringan, serta gagasan yang berbeda.

Rekomendasi