Daftar Destinasi Wisata Ditutup Akibat Gempa NTT

Pemerintah mengimbau wisatawan merencanakan perjalanan ke Flores mengutamakan keselamatan, memantau informasi dari sumber resmi, serta menghubungi hotline BPOLBF sebelum keberangkatan.

Muhamad Agil Aliansyah
Oleh Muhamad Agil Aliansyah - Reporter
Daftar Destinasi Wisata Ditutup Akibat Gempa NTT
Destinasi wisata di NTT. (Foto Antara).

Kementerian Pariwisata menyebut sejumlah destinasi wisata di Nusa Tenggara Timur (NTT) masih memerlukan perhatian khusus dan ditutup sementara sebagai langkah kehati-hatian demi keselamatan wisatawan pasca terjadinya gempa magnitudo 7,7.

Dalam keterangan resmi dikonfirmasi di Jakarta, Rabu (19/8) sebagaimana dilansir Antara, Kementerian Pariwisata melakukan pemantauan melalui Badan Pelaksana Otorita Labuan Bajo Flores (BPOLBF).

Pemantauan dilakukan melalui verifikasi lapangan secara berkala ke hotel, restoran, dan destinasi wisata, sekaligus pengoperasian hotline informasi pariwisata bagi wisatawan dan pelaku usaha untuk memastikan informasi yang disampaikan akurat dan dapat dipertanggungjawabkan.

Destinasi yang disebut masih ditutup itu antara lain Wae Rebo dan Ruteng Pu'u di Manggarai, Taman Nasional Kelimutu di Ende akibat longsoran dinding kawah, Taman Wisata Alam Laut (TWAL) Gugus Pulau Teluk Maumere di Sikka, serta sejumlah kawasan wisata di Kabupaten Ngada dan Nagekeo yang masih terkendala jaringan komunikasi dan pasokan listrik.

Sektor penerbangan juga mengalami sejumlah penyesuaian. Bandara Ende membatalkan seluruh penerbangan hingga 20 Agustus 2026, sedangkan Bandara Frans Sales Lega Ruteng membatalkan penerbangan Wings Air hingga 22 Agustus 2026.

Sementara itu, Bandara Komodo Labuan Bajo, Bandara Frans Seda Maumere, dan Bandara Gewayantana Larantuka tetap beroperasi dengan sejumlah penyesuaian jadwal penerbangan.

Guna memastikan wisatawan dan pelaku usaha memperoleh informasi yang akurat, BPOLBF membuka hotline informasi pariwisata melalui nomor 0811-3879-4555. Layanan tersebut menyediakan informasi terkini mengenai kondisi destinasi, aksesibilitas, serta akomodasi pascagempa.

Sejumlah Objek Wisata Berangsur Normal

Meski demikian, sejumlah destinasi utama yang ada di Labuan Bajo dan Taman Nasional Komodo sudah mulai berangsur normal. Pelabuhan Marina Labuan Bajo telah beroperasi normal dan akses pelayaran menuju Taman Nasional Komodo kembali dibuka.

Aktivitas wisata di Pulau Padar, Loh Liang di Pulau Komodo, Loh Buaya di Pulau Rinca, dan Gili Lawa juga kembali berjalan normal. Jumlah kunjungan wisatawan ke kawasan tersebut tercatat mencapai lebih dari 2.000 orang per hari pada 17 Agustus 2026.

Destinasi lainnya, seperti Pulau Kelor dan Kampung Adat Todo di Manggarai, tetap ramai dikunjungi dan beroperasi seperti biasa. Sementara itu, destinasi Batu Cermin telah kembali dibuka sejak 16 Agustus 2026.

Dari sisi akomodasi di Manggarai Barat, mayoritas hotel besar, antara lain Ayana, Crowne Plaza, Sudamala, Ta'aktana Marriott, dan Meruorah, dilaporkan dalam kondisi aman dengan kerusakan ringan.

Pasokan listrik dan jaringan internet juga telah kembali normal serta tidak terdapat laporan tamu yang mempercepat kepulangan.

Sementara itu, Hotel Jayakarta mengalami kerusakan struktural berat sehingga ditutup sementara. Seluruh tamu telah dievakuasi dan mendapat penanganan dari pihak hotel.

Kementerian Pariwisata menyatakan akan terus melakukan pendataan dan verifikasi terhadap kerusakan akomodasi, daya tarik wisata, dan fasilitas pendukung pariwisata di seluruh kabupaten terdampak.

Koordinasi juga terus dilakukan bersama Kementerian Perhubungan dan AirNav dalam mendukung pemulihan operasional bandara melalui skema Get Airport Ready for Disaster (GARD).

Pemerintah mengimbau wisatawan merencanakan perjalanan ke Flores untuk senantiasa mengutamakan keselamatan, memantau informasi dari sumber resmi, serta menghubungi hotline BPOLBF sebelum keberangkatan. Langkah tersebut penting mengingat aktivitas gempa susulan masih berlangsung di sejumlah wilayah.

Sebelumnya, gempa dengan magnitudo 7,7 mengguncang bagian wilayah NTT pada Sabtu (15/8) pukul 05.58 WITA atau 04.58 WIB berpusat di sekitar 30 km Mbay - Nagekeo pada kedalaman 15 km.

Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah Provinsi Nusa Tenggara Timur (BPBD NTT) per 18 Agustus 2026 pukul 09.00 WITA, tercatat 69 orang meninggal dunia, 331 orang luka-luka, dan 34.689 orang mengungsi.

Sebanyak 19.297 unit rumah dilaporkan mengalami kerusakan, dengan rincian 6.463 rumah rusak berat, 2.481 rumah rusak sedang, dan 12.006 rumah rusak ringan.

Aktivitas gempa susulan masih berlangsung. BMKG mencatat sebanyak 2.403 gempa susulan hingga 18 Agustus 2026 pukul 17.00 WIB, termasuk 24 kejadian dengan magnitudo di atas 5.

Dampak signifikan tercatat antara lain di Kabupaten Manggarai dengan 26 orang meninggal dunia dan Manggarai Timur dengan 25 orang meninggal dunia, serta 8 orang meninggal dunia di Nagekeo yang menjadi pusat gempa.

Sejumlah wilayah menetapkan status siaga bencana, antara lain Manggarai bagian utara, Ngada bagian utara, Ende, dan Flores Timur.

Rekomendasi