Legislator Minta Pemerintah Waspada Impor Migas di Tengah Konflik Timur Tengah

Wakil Ketua MPR RI Eddy Soeparno mendesak pemerintah untuk waspada impor migas di tengah potensi persaingan global akibat konflik Timur Tengah, guna menjamin pasokan energi nasional.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Legislator Minta Pemerintah Waspada Impor Migas di Tengah Konflik Timur Tengah
Wakil Ketua MPR RI Eddy Soeparno menyoroti urgensi Rancangan Undang-Undang (RUU) Pengelolaan Perubahan Iklim untuk mewujudkan kepastian hukum dan penanganan bencana yang terpadu. (AntaraNews)

Wakil Ketua MPR RI dari Fraksi PAN, Eddy Soeparno, mendesak pemerintah Indonesia agar waspada terhadap persaingan impor migas yang kian ketat. Peringatan ini disampaikan di tengah berkecamuknya konflik di Timur Tengah yang berpotensi mengganggu stabilitas pasokan energi global.

Eddy secara khusus meminta Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) serta Pertamina untuk menyiapkan langkah antisipasi. Hal ini krusial demi memastikan kebutuhan migas nasional tetap terpenuhi tanpa hambatan berarti.

Kewaspadaan ini penting mengingat potensi penutupan lalu lintas migas melalui Selat Hormuz, yang dapat memicu negara-negara pengimpor besar mengalihkan sumber pasokan mereka. Kondisi tersebut bisa menyebabkan Indonesia harus berebut pasokan dengan raksasa importir lainnya.

Potensi Gangguan Pasokan dari Timur Tengah

Indonesia saat ini mengimpor sekitar 20 persen kebutuhan migasnya dari wilayah Timur Tengah, sementara sisanya berasal dari negara-negara seperti Nigeria, Angola, Australia, dan bahkan Brazil. Ketergantungan ini, meskipun tidak mayoritas, tetap memerlukan perhatian serius dari pemerintah.

Konflik yang terus memanas di Timur Tengah menimbulkan risiko signifikan terhadap jalur pasokan migas global, terutama melalui Selat Hormuz. Jika jalur vital ini terganggu atau ditutup, dampaknya akan terasa luas di seluruh dunia.

Eddy Soeparno menyoroti bahwa negara-negara seperti China, India, Jepang, dan Korea Selatan memiliki ketergantungan impor migas yang jauh lebih besar dari Timur Tengah. China mengimpor 11 juta barel per hari, India 6 juta barel per hari, sementara Jepang dan Korea Selatan masing-masing 2-2,5 juta barel per hari.

Apabila pasokan dari Timur Tengah terhenti, negara-negara raksasa importir ini akan segera mengalihkan impornya ke sumber-sumber lain yang juga menjadi pemasok migas bagi Indonesia. Hal ini berpotensi menyebabkan persaingan sengit dengan Indonesia dalam mendapatkan pasokan migas.

Strategi Antisipasi dan Diversifikasi Impor Migas

Untuk menghadapi skenario terburuk, Eddy Soeparno mendesak Pertamina agar segera menyusun strategi komprehensif. Antisipasi ini mencakup potensi gangguan pasokan serta lonjakan harga migas yang bisa terjadi sewaktu-waktu.

Langkah pertama yang harus dilakukan yakni memastikan komitmen negara-negara pemasok migas untuk Indonesia tidak tergoyahkan. Hal ini penting untuk menjaga stabilitas pasokan yang sudah ada.

Selain itu, pemerintah perlu mengantisipasi lonjakan harga migas jika terjadi kerusakan atau penghancuran ladang dan infrastruktur migas di negara-negara produsen besar. Negara-negara seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Qatar, Kuwait, dan Bahrain adalah produsen utama yang rentan terhadap konflik.

Diversifikasi sumber impor menjadi kunci utama dalam strategi jangka panjang. Eddy menyarankan percepatan diversifikasi impor dari negara-negara lain, termasuk Amerika Serikat, mengingat adanya perjanjian perdagangan yang mensyaratkan Indonesia membeli produk minyak mentah, LNG, LPG, dan produk petroleum lainnya.

Data Ketergantungan Impor Migas Global

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi