Tahukah Anda 48% Pengguna Internet Anak-anak? Menkomdigi Ajak Orang Tua Aktif di Microsite PP Tunas

Menkomdigi Meutya Hafid mengajak orang tua aktif di Microsite PP Tunas, sebuah wadah pengetahuan untuk melindungi anak dari konten negatif di era digital yang kian masif.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Tahukah Anda 48% Pengguna Internet Anak-anak? Menkomdigi Ajak Orang Tua Aktif di Microsite PP Tunas
Menkomdigi Meutya Hafid mengajak orang tua aktif di Microsite PP Tunas, sebuah wadah pengetahuan untuk melindungi anak dari konten negatif di era digital yang kian masif. (AntaraNews)

Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi), Meutya Hafid, secara resmi mengajak seluruh orang tua di Indonesia untuk berpartisipasi aktif dalam mengisi dan memanfaatkan Microsite PP Tunas. Ajakan ini disampaikan usai peluncuran microsite tersebut di Blok M Hub, Jakarta, sebagai upaya konkret dalam mengelola penggunaan ruang digital oleh anak-anak.

Inisiatif ini bertujuan untuk menciptakan sebuah wadah pengetahuan yang positif, memungkinkan para orang tua memahami cara membimbing anak-anak mereka di era digital yang terus berkembang. Melalui platform ini, diharapkan terjadi pertukaran pengalaman dan tips parenting yang konstruktif di antara sesama orang tua.

Keterlibatan aktif dari orang tua dianggap krusial untuk menyediakan informasi mengenai aplikasi, gim, dan tontonan yang aman serta mendidik bagi anak-anak. Dengan demikian, risiko paparan terhadap konten negatif di internet dapat diminimalisir secara efektif.

Menkomdigi Meutya Hafid menekankan bahwa Microsite PP Tunas dirancang khusus untuk menjadi sumber pengetahuan utama bagi orang tua. Platform ini akan membantu mereka memahami dinamika dunia digital dan bagaimana anak-anak berinteraksi dengannya.

"Microsite ini, nantinya menjadi wadah pengetahuan bagi para bunda-bunda untuk kemudian mengerti bagaimana membawa anaknya di era digital. Jadi, kita harapkan microsite ini nanti diisi oleh sharing pengalaman dari bunda-bunda dan juga sharing tips parenting,” kata Meutya Hafid.

Melalui partisipasi aktif, orang tua dapat berbagi informasi mengenai berbagai konten digital. Ini termasuk rekomendasi gim, aplikasi, dan tontonan yang sesuai dengan usia anak, sehingga anak-anak dapat terhindar dari konten yang tidak pantas.

Keterlibatan ini diharapkan dapat membentuk lingkungan digital yang lebih aman dan positif. Orang tua menjadi garda terdepan dalam menyaring dan mengarahkan pengalaman digital anak-anak mereka.

Urgensi perlindungan anak di ruang digital semakin diperkuat oleh data penggunaan internet di Indonesia. Negara ini merupakan salah satu dengan tingkat konsumsi internet tertinggi dan paling aktif di dunia.

Meutya Hafid menyoroti bahwa dunia digital telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan anak-anak sejak dini. "Jadi, bayangkan dari sejak dini itu dunia digital sudah menjadi dunianya anak-anak di Indonesia. Karenanya upaya melindungi generasi muda dari paparan negatif di internet itu harus kencang,” ujar dia.

Merujuk data dari Komdigi, sebanyak 48 persen pengguna internet di Indonesia adalah anak-anak di bawah usia 18 tahun. Angka ini menunjukkan betapa mendesaknya regulasi dan upaya perlindungan digital bagi generasi muda.

Lebih lanjut, lebih dari 80 persen anak-anak Indonesia mengakses internet setiap hari dengan durasi rata-rata mencapai tujuh jam. Badan Pusat Statistik (BPS) juga mencatat bahwa 35,57 persen anak usia dini sudah memiliki kemampuan untuk mengakses internet.

Inisiatif Microsite PP Tunas ini sejalan dengan Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025, yang dikenal sebagai PP Tunas. Regulasi ini dirancang khusus untuk memberikan perlindungan komprehensif bagi anak-anak di ruang digital, termasuk media sosial dan gim daring.

PP Tunas secara spesifik mewajibkan setiap Penyelenggara Sistem Elektronik (PSE) untuk melakukan penyaringan konten. Konten yang berpotensi membahayakan anak-anak harus diidentifikasi dan ditangani dengan serius.

Selain itu, regulasi ini juga mengharuskan PSE menyediakan mekanisme pelaporan yang mudah diakses oleh publik. Hal ini memastikan bahwa setiap pelanggaran atau konten negatif dapat dilaporkan dengan cepat dan efisien.

Tujuan utama PP Tunas adalah memastikan proses remediasi yang cepat dan transparan terhadap konten berbahaya. Dengan demikian, lingkungan digital menjadi lebih aman dan terkontrol bagi anak-anak.

Menkomdigi berharap Microsite PP Tunas tidak hanya menjadi platform bagi orang tua, tetapi juga menarik kontribusi dari pakar dan ahli parenting. Kehadiran mereka akan memperkaya konten dengan informasi yang lebih mendalam dan terpercaya.

“Kita akan juga meminta pakar-pakar untuk mengisi konten-konten di microsite Tunas, termasuk misalnya mana sih aplikasi yang aman untuk anak, mana aplikasi yang untuk dewasa, mana games yang bisa dimainkan untuk anak-anak usia sekian-sekian dan juga mana games yang belum boleh sampai usia sekian-sekian,” harap Meutya.

Microsite ini diharapkan menjadi "rumah" bagi orang tua untuk belajar dan berbagi pengalaman terbaik dalam mendidik anak di ranah digital. Ini akan membantu mereka menghindari sikap terlalu permisif dalam membiarkan anak berselancar di internet.

"Jadi kita harapkan di microsite ini justru jadi rumah bagi para bunda-bunda untuk belajar, untuk sharing, dan memberikan yang terbaik untuk anak-anaknya,” jelas dia, menegaskan visi jangka panjang dari platform ini.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi