Sejarah Panjang Taman Puring, Dulu Pangkalan Oplet Hingga Insiden Kebakaran Terus Berulang
Krisis moneter yang melanda Indonesia pada pertengahan 1997 membawa perubahan lain bagi Taman Puring.
Kebakaran terjadi di Taman Puring Jalan Kyai Maja, Jakarta Selatan yang mengarah ke Pakubuwono. Dalam video yang diterima merdeka.com, terlihat api berkobar hebat, melahap bangunan yang ada.
"Terjadi kebakaran di Pasar Taman Puring Mayestik Jakarta Selatan, Senin (28/7) sore," demikian caption @RadioElshinta dikutip merdeka.com, Senin (28/7).
Kebakaran terjadi di dekat Polsek Taman Puring. Informasi yang dihimpun, imbas dari kebakaran hebat tersebut membuat Bus TransJakarta koridor 13 terhambat.
Hingga berita ini ditulis, belum ada keterangan terkait penyebab dan jumlah personel pemadam kebakaran yang diturunkan.
Taman Puring, merupakan sebuah nama yang tak asing bagi warga Jakarta, menyimpan segudang kisah perjalanan. Berlokasi strategis di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, area ini telah bertransformasi signifikan. Dari sekadar pangkalan oplet, kini menjadi pusat perdagangan yang ramai.
Sejak era 1960-an, kawasan ini telah menjadi saksi bisu berbagai perubahan sosial dan ekonomi. Kebijakan pemerintah hingga krisis moneter turut membentuk identitasnya. Tak hanya itu, Taman Puring juga dikenal karena rentetan insiden kebakaran yang pernah melandanya.
Jejak Sejarah Taman Puring: Dari Pangkalan Oplet hingga Pusat Perdagangan Unik
Kisah Taman Puring bermula pada dekade 1960-an, saat area ini berfungsi sebagai pangkalan oplet. Di sinilah para pedagang pikulan mencari nafkah, membentuk cikal bakal aktivitas ekonomi di kawasan tersebut. Kehidupan sederhana para pedagang menjadi fondasi awal dari pasar yang kini dikenal luas.
Pada tahun 1983, sebuah kebijakan penting dikeluarkan oleh Gubernur DKI Jakarta kala itu, Soeprapto. Sebagian lahan Taman Puring seluas sekitar 2000 meter persegi dialokasikan untuk menampung pedagang barang bekas dari seluruh Jakarta Selatan. Keputusan ini secara resmi mengukuhkan Taman Puring sebagai pusat barang bekas, berdampingan dengan sebuah taman rekreasi publik.
Krisis moneter yang melanda Indonesia pada pertengahan 1997 membawa perubahan lain bagi Taman Puring. Walikota Jakarta Selatan merespons kondisi ini dengan menyediakan tenda-tenda sementara. Tenda-tenda tersebut diperuntukkan bagi warga yang terdampak Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) agar dapat berdagang. Pasar ini awalnya hanya beroperasi pada hari Sabtu dan Minggu, sehingga dikenal sebagai "Pasar Tunggu".
Namun, seiring waktu, jumlah pedagang semakin bertambah pesat. Mereka mulai memenuhi badan jalan di Taman Puring setiap hari, bukan hanya di akhir pekan. Kondisi ini menyebabkan area taman yang tadinya hijau tertutupi oleh sekitar 400 kios pada akhir 1998, mengubah wajah kawasan secara drastis.
Taman Puring Menjadi Surganya Sepatu Murah
Penertiban besar-besaran dilakukan Pemerintah Daerah Jakarta Selatan pada 8 Januari 1999. Ratusan pedagang dipindahkan secara paksa ke lokasi baru, seperti Pasar Pondok Indah dan area dekat Stasiun Kebayoran Lama. Meskipun demikian, pedagang barang loak yang sudah ada sebelumnya tetap bertahan di kios-kios mereka, menjaga sebagian identitas asli Taman Puring.
Pasca-penertiban, Taman Puring mulai dikenal luas sebagai destinasi utama bagi pecinta sepatu. Kawasan ini menjadi tempat favorit untuk mencari sepatu murah, khususnya produk bermerek non-original atau "reject" dengan harga yang sangat terjangkau.
Berbagai jenis sepatu, mulai dari sneakers, boots, hingga hiking shoes, dari merek-merek ternama seperti Nike, Adidas, dan Converse, membanjiri lapak-lapak di sini.
Pergeseran fokus ini menunjukkan adaptasi pasar terhadap permintaan konsumen dan dinamika ekonomi. Selain sepatu, pasar ini juga memperdagangkan beragam barang lain. Barang elektronik, handphone, aksesori otomotif, pakaian, barang antik, alat rumah tangga, hingga suku cadang kendaraan, semuanya dapat ditemukan di Taman Puring.
Rentetan Insiden Kebakaran yang Melanda Taman Puring
Sejarah Taman Puring juga diwarnai oleh beberapa insiden kebakaran besar yang meninggalkan jejak kerusakan. Salah satu yang paling parah terjadi pada 29 Juni 2002. Ratusan kios di Pasar Taman Puring hangus terbakar sekitar pukul 03.15 WIB, diduga akibat hubungan arus pendek listrik.
Angin kencang memperparah situasi, membuat api cepat merembet dan menyulitkan petugas pemadam kebakaran. Bahkan, 25 tahanan di Kantor Kepolisian Sektor Metro Kebayoran Baru harus dievakuasi.
Tiga tahun berselang, pada 13 April 2005, kebakaran kembali melanda Pasar Taman Puring sekitar pukul 18.30 WIB. Api diduga berasal dari korsleting listrik di bagian atap pasar satu lantai. Meskipun api berhasil dipadamkan sekitar pukul 20.15 WIB dan tidak melahap seluruh bagian pasar, insiden ini sempat membuat ratusan pedagang panik menyelamatkan barang dagangan mereka. Kebakaran ini juga menyebabkan kemacetan lalu lintas di Jalan Kyai Maja dan Jalan Sinaggalang.
Insiden kebakaran terbaru yang tercatat adalah pada Senin sore, 28 Juli 2025. Api mulai mengamuk di kawasan Pasar Taman Puring, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, sekitar pukul 18.02 WIB. Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan (Gulkarmat) menerima laporan awal dari warga.
Api terlihat membesar di bagian bangunan rendah pasar yang beralamat di Jalan Kyai Maja No. 37–42, dengan enam unit mobil pemadam kebakaran dikerahkan. Kebakaran ini bahkan berdampak pada operasional TransJakarta koridor 13 karena arah asap dan api mengarah ke jalur busway.