Skema Kesejahteraan Guru Digodok, Kemenag Soroti ASN dan Non-ASN

Kemenag menyiapkan skema kesejahteraan bagi guru ASN dan non-ASN serta penghargaan untuk pengabdi di daerah sulit. Detail skema masih dibahas internal.

Tisha Maulida Fazriah
Skema Kesejahteraan Guru Digodok, Kemenag Soroti ASN dan Non-ASN
Kementerian Agama (Kemenag) mematangkan skema peningkatan kesejahteraan guru. (Liputan6.com/ Tisha Maulida)

Kementerian Agama (Kemenag) menyiapkan skema peningkatan kesejahteraan bagi guru yang berstatus Aparatur Sipil Negara (ASN) maupun non-ASN.

Selain mematangkan skema tersebut, Kemenag juga menyiapkan apresiasi khusus untuk guru yang mengabdi di wilayah terpencil, daerah bencana, dan kawasan terisolasi.

Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kemenag, Amien Suyitno, menilai perhatian terhadap kesejahteraan dan pengakuan substantif atas pengabdian guru masih perlu diperkuat. Pernyataan itu ia sampaikan pada peringatan Hari Guru Nasional 2026 di Gedung Kemenag RI, Selasa (3/11/2026).

“Guru itu penghargaan seberapa pun itu belum sebanding dengan jerih payahnya, bukan karena bentuk penghargaannya itu yang dipentingkan beliau-beliau, tapi lebih dari itu adalah bagaimana secara substantif guru-guru itu juga mendapat pengakuan,” kata Amien.

Ia menambahkan, pematangan skema dilakukan secara serius, tidak hanya melalui program Pendidikan Profesi Guru (PPG), melainkan juga lewat opsi lain sesuai arahan Presiden.

“Melalui arahan Pak Presiden, kita sedang memikirkan bagaimana skema guru bukan hanya yang ASN, tapi juga yang non-ASN dan saya belum bisa sampaikan di sini skema-skema itu karena masih diskusi sangat internal,” tandas Amien.

Menurut Amien, cakupan skema yang tengah disiapkan menyasar guru ASN—baik Pegawai Negeri Sipil (PNS) maupun Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK)—serta guru non-ASN.

Di sisi lain, Kemenag juga menyiapkan penghargaan bagi guru yang mengabdi di medan tugas penuh keterbatasan, termasuk daerah terdampak bencana dan wilayah terisolasi.

“Tadi disebut Pak Dirjen juga ada penghargaan. Dan penghargaan ini tentu bukan cuma penghargaan yang terintegrasi, tapi juga penghargaan yang sifatnya kebaktian atau berbaktinya guru di daerah-daerah tertentu. Daerah bencana, daerah terisolir,” jelas Amien.
“Makanya orang-orang seperti luar biasa tetap bisa mengabdi. Bahkan masih banyak guru kita di tengah-tengah harus mengabdi di daerah bencana dengan segala keterbatasannya,” terang Amien.

Kemenag Gelar Ceria dan Sehat Bersama Guru

Apresiasi kepada para pendidik juga diwujudkan melalui rangkaian kegiatan. Salah satunya agenda bertajuk Ceria dan Sehat Bersama Guru yang diinisiasi Kemenag.

“Makanya tadi ada agenda ceria, sehat bersama guru. Itu pasti diinisiasi karena guru-guru harus sehat. Kalau guru enggak sehat, enggak bisa bekerja dengan baik,” terang Amien.

Kegiatan tersebut akan digelar berbarengan dengan upacara peringatan Hari Guru pada 25 November 2026, sekaligus menghadirkan agenda akademik.

“Selebihnya nanti pasti ada upacara Hari Guru di tanggal 25 November-nya. Kemudian juga ada tambahan acara-acara yang mereka sebut ceria dan sehat bersama guru. Bahkan juga acara akademiknya itu ada simposium, terkait dengan pembelajaran berbasis AI,” kata Amien.

Amien menyebut rangkaian kegiatan ini dirancang untuk mendukung peningkatan kompetensi pendidik, tidak hanya bagi guru madrasah, tetapi juga seluruh guru di bawah naungan Kemenag.

Rekomendasi