Di tengah riuh ribuan muktamirin yang datang dari berbagai penjuru negeri, ada cerita lain yang tak kalah menarik di gelaran Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur.
Bukan tentang panasnya perdebatan di ruang sidang, bukan pula tentang nama-nama yang mengemuka dalam bursa kepemimpinan NU. Di sela hiruk-pikuk agenda organisasi terbesar itu, sejumlah pedagang justru sibuk mengejar rezeki yang bertebaran di tengah kerumunan.
Mereka datang membawa beragam barang yang identik dengan NU. Mulai peci, pin berlambang NU, tasbih, kaus bertuliskan Muktamar ke-35, hingga jas yang menjadi salah satu pakaian khas para peserta. Lapak-lapak sederhana tumbuh di sekitar lokasi muktamar, seolah menjadi denyut ekonomi kecil yang ikut bergerak mengikuti irama perhelatan akbar tersebut.
Advertisement
Datang dari Jakarta
Di antara keramaian itu, Azwar Anas (46), pedagang asal Jakarta, berdiri menjaga dagangannya di dekat pintu masuk Pondok Pesantren Bahrul Ulum. Sejak Rabu (26/8), ia sudah membuka lapak dan menunggu satu per satu muktamirin yang berhenti untuk melihat barang dagangannya.
Pin NU menjadi salah satu barang yang ditawarkan. Harganya beragam, mulai Rp10 ribu hingga Rp35 ribu. Sementara jas dijual dengan harga sekitar Rp350 ribu.
“Harga pin ini beda-beda ada yang Rp35 ribu, Rp25 ribu sampai Rp10 ribu, kalau jas kisaran Rp350 ribuan,” kata Azwar di tempat berjualannya.
Namun, pada hari-hari awal muktamar, roda dagangannya belum berputar sekencang yang ia harapkan. Kerumunan memang padat, tetapi tidak semua orang datang dengan niat berbelanja.
Sebagian hanya berhenti sebentar. Ada yang melihat-lihat, bertanya harga, membandingkan model, lalu berlalu. Bagi Azwar, kondisi semacam itu sudah menjadi bagian dari ritual berdagang dalam setiap muktamar.
“Biasanya kalau sudah mulai voting baru orang mau belanja, nampak nilai belanja orang. Kalau masih awal begini slow saja, nanya dulu,” ujar dia.
Advertisement
Bukan Perdana Dagang di Muktamar NU
Azwar bukan pendatang baru dalam urusan mengais rezeki dari momentum Muktamar NU. Perhelatan kali ini menjadi muktamar ketiga yang ia ikuti sebagai pedagang suvenir.
Tiga kali muktamar, tiga kali pula ia menyaksikan bagaimana keramaian organisasi berusia panjang itu berubah menjadi peluang ekonomi bagi orang-orang di luar arena persidangan.
Baginya, muktamar bukan sekadar tempat para kiai, pengurus, dan muktamirin membicarakan masa depan jam'iyah. Di sisi lain, muktamar juga menghadirkan pasar yang hanya datang pada momentum tertentu.
Jika keberuntungan berpihak, hasil berdagang selama muktamar bisa menjadi pemasukan yang cukup besar. Azwar mengaku dalam satu gelaran Muktamar NU, pendapatannya dapat mencapai sekitar Rp15 juta hingga Rp40 juta.
Angka itu tentu bukan sesuatu yang datang dengan mudah. Ada modal yang harus dikeluarkan, barang yang harus dibawa dari Jakarta, ongkos perjalanan, serta risiko dagangan yang tidak seluruhnya laku.
Karena itu, setiap pembeli yang menghampiri lapaknya bukan sekadar angka dalam hitungan omzet. Ada harapan yang ikut menyertai setiap transaksi.
“Kami berharap karena datang dari jauh, semoga lancar semua, habis, walaupun enggak habis setidaknya separuh jalan. Tapi enggak tahu ekonomi sekarang bagaimana,” ucap dia.
Harapan itu menggantung di antara riuh langkah para muktamirin. Ketika di dalam arena suara-suara membahas arah organisasi, di luar pagar muktamar para pedagang menanti arah keberuntungan.
Mereka tidak memiliki hak suara dalam menentukan kepemimpinan NU. Mereka tidak duduk di ruang pleno dan tidak ikut menentukan keputusan organisasi. Tetapi mereka hadir sebagai bagian lain dari denyut Muktamar ke-35 NU.
Di tengah peci yang berjajar, pin-pin yang berkilauan, kaus muktamar yang bergelantungan, serta tasbih yang menunggu berpindah tangan, ada cerita tentang orang-orang yang datang dari jauh demi satu tujuan sederhana: membawa pulang rezeki.
Sebab, bagi mereka, keramaian muktamar adalah kesempatan. Setiap langkah muktamirin bisa menjadi peluang, setiap orang yang berhenti bisa menjadi pembeli, dan setiap transaksi menjadi secercah harapan untuk membawa pulang hasil setelah berhari-hari menunggu di tengah pesta besar Nahdlatul Ulama.