Modus Sewa, Dua WNA di Bali Bawa Kabur 25 PlayStation 5

Kasus dugaan penggelapan dan penipuan itu dilaporkan ke Polda Bali.

Moh Kadafi
Oleh Moh Kadafi - Reporter
Modus Sewa, Dua WNA di Bali Bawa Kabur 25 PlayStation 5
Ilustrasi PlayStation. (Mohsen Vaziri / Shutterstock.com)

Viral di media sosial dua warga negara asing (WNA) asal Negara Algeria atau Aljazair, diduga menggelapkan dan menipu sejumlah rental play station (PS) 5 di wilayah Bali dengan total kerugian diperkirakan ratusan juta.

Salah satu korban penipuan tersebut adalah Jason Yang, pemilik Rental MantaPS di daerah Sesetan, Kecamatan Denpasar Selatan, Kota Denpasar, Bali. Kasus dugaan penggelapan dan penipuan itu dilaporkan ke Polda Bali.

"Tim MantaPS bersama beberapa rental lainnya. Dan pengacara telah melapor ke Polda Bali hari ini, untuk memberikan keterangan," kata Jason saat dikonfirmasi Kamis (20/8).

Kronologi

Jason menerangkan, kronologi penipuan maupun penggelapan dilakukan dua WNA bernisial AS dan AN dari Aljazair terjadi pada tanggal 25 Juli 2026. Saat itu, AS menyewa unit PS 5 di MantaPS atau rental milik Jason secara bertahap sampai total 3 unit, dimulai dari 1 unit PS 5 dengan tambahan 2 stik di hari tersebut.

Korban kemudian mendatangi kediaman AS di vila wilayah Canggu, Kecamatan Kuta Utara, Kabupaten Badung, untuk menyerahkan PS disewa AS.

Awalnya, AS melakukan pembayaran langsung atau dilunasi di tempat dan ingin menyewa selama 1 Minggu dan nantinya akan diperpanjang lagi serta akan membayar deposit, bahkan memberikan paspornya untuk difoto sebagai bentuk jaminan.

Selanjutnya tanggal 26 Juli 2026, AS menghubungi admin rentalnya untuk menyewa unit kedua PS 5, selama 1 Minggu dengan tujuan menyewakan kepada temannya yang ikut komunitas forex-nya dari pengakuan AS. Dan berjanji akan memberikan foto paspor dan bukti booking vila temannya dan juga sudah membayar uang penyewaan di muka serta membayar deposit, karena itu Jason tidak ada kecurigaan dengan AS.

Tetapi pada tanggal 29 Juli 2026, seorang WNA bernisial AN menyewa PS di rentalnya lewat perantaranya bernisial AG. Mereka menyewa 1 unit PS 5 dengan masa 2 Minggu. Persyaratan mereka lengkap, dari foto paspor, bukti booking vila dan sampai uang deposit pun dibayar.

"Kami sama sekali tidak curiga. Saat itu saya juga menunjukkan foto paspor (AS) kepada (AN) untuk saya tanyakan, apakah ia mengenal orang ini dan (AN) mengaku bahwa dia tidak kenal sama sekali," ujar dia.

Selanjutnya di tanggal 31 Juli 2026, AS kembali menghubungi admin rental Jason untuk menyewa PS unit ketiga dan langsung menyewa selama 2 Minggu hingga tanggal 14 Agustus 2026 dan terjadi kesepakatan. Tetapi, alamat pengantaran berbeda, yakni di sebuah vila di wilayah Uluwatu, Kecamatan Kuta Selatan, Badung.

Jason mengatakan, AS mengaku PS yang disewanya akan dimainkan oleh pacarnya dan yang akan menerima adalah pacarnya. Tetapi, sesampainya di vila yang berada di Uluwatu malah bertemu AS dan dia yang menerimanya.

"Kami menanyakan mengapa ia yang menerima PS-nya. Dan (AS), mengatakan dia di sini hanya sementara karena ada acara keluarga. Kami pun menanyakan keberadaan PS kami yang berada di vila (di Canggu) dan mengaku bahwa PS-nya masih di sana. Lalu ia melunasi pembayaran sewa dan membayar deposit," jelas dia.

Namun, menurut Jason tanda-tanda aneh mulai kelihatan di tanggal 1 Agustus 2026, di mana unit pertama yang disewa oleh AS sudah masa tenggat pengembalian. AS mengaku ingin memperpanjang masa sewa dan ketika ditagih pembayaran, AS menunda-nunda atau slow respon dan kemudian menghilang.

Kemudian, di tanggal 2 Agustus 2026 ketika pihaknya mencoba menghubunginya menggunakan dua nomor yakni nomor utama rental PS-nya dan nomor pribadi Jason untuk menagih pembayaran dan hingga malam sekitar pukul 19.00-20.00 WITA, akhirnya AS membayar untuk extend unit pertama.

"Namun malam itu juga, kami menghubungi kembali (AS) untuk menagih pembayaran extend unit kedua. Dan dia membalas dengan menanyakan apakah benar sudah tenggat waktunya dan kami katakan sudah, meski begitu dia menghilang tanpa kabar," kata dia.

Selanjutnya, di tanggal 3 Agustus 2026 pihaknya menghubungi kembali AS serta memberikan penjelasan mengenai tanggal extendnya agar AS tidak berpura-pura lupa serta menagih keterlambatan pembayaran extend PS unit 2 yang dia sewa. Kemudian, di siang harinya AS merespon nomor admin utama rental Jason dan mengatakan sore itu akan dibayarkan.

Kemudian, setelah ditunggu hingga pukul 18.00 WITA, tidak ada pembayaran ataupun konfirmasi dari pihak AS. Sehingga Jason kembali menghubunginya via chat dan spam telfon, meski sudah ditelpon hingga tengah malam pun AS tidak memberikan respon hingga menjelang pukul 00.00 WITA.

Namun setelah itu, AS merespon dan mengatakan besok harinya pasti dia bayar lunas semuanya dan meminta pengertian karena dia sedang berulang tahun dan jika disesuaikan pada paspornya AS memang berulang tahun pada tanggal 3 Agustus.

Saat keesokannya, sekitar pukul 10.00 WITA, karena tak kunjung mendapat kabar pembayaran dari AS meski telah dihubungi berkali-kali akhirnya Jason menuju vila yang ada di wilayah Canggu untuk mengecek apakah unit PS pertama yang dikirim ke sana masih berada di vila tersebut.

"Kebetulan pagarnya (vila) bergaris. Sehingga masih dapat melihat ke area ruang tamu. Ternyata PS-nya sudah tidak berada di bawah TV, lalu admin rental-nya mencoba menghubungi dan menanyakan keberadaan PS mengapa tidak ada di vila. Bahkan, terdapat seorang perempuan yang keluar dari vila itu dan mengatakan tidak ada nama (AS) yang tinggal di vila itu hanya perempuan tersebut bersama temannya," ujar dia.

Lalu, Jason segera menuju ke vila yang berada di Uluwatu, tetapi di tengah perjalanan AS mentransfer atau membayar perpanjangan masa sewa PS. Namun, Jason karena sudah khawatir jika PS-nya tidak kembali tetap menuju ke vila yang ada di Uluwatu.

Tetapi, sesampainya di sana ternyata vila tersebut sudah kosong melompong. Sementara, AS justru memaki admin rentalnya dengan mengatakan,“Tell your staff to fucking stop calling, its really annoying,".

Di hari yang sama tanggal 4 Agustus 2026, karena merasa tidak tenang tim rental Jason menanyakan di Grup Komunitas Rental PS se-Bali, apakah ada rental lain yang memiliki pengalaman menyewakan PS-nya ke AS dan dia terkejut bahwa tidak hanya dirinya saja yang menyewakan ke AS. Namun juga terdapat beberapa rental seperti City Station Rental (4 unit PS 5), perorangan yang tinggal di Tegal Wangi (2 unit), Get Yoyr Game Bali (3 unit).

Mengetahui itu, pihaknya sudah panik melihat tingkah laku AS yang berpindah- pindah vila, dan menyewa PS dalam jumlah yang tidak wajar. Kemudian, tim rentalnya mencoba memancing agar AS muncul. Dan kebetulan saat itu AN melalui perantaranya AG ingin kembali menyewa PS, lalu Jason dan lainnya menggunakan itu untuk menyiasati agar AS bisa muncul.

Setelah admin rentalnya sampai di tempat, Jason bersama rental PS lainnya menyusul dan meminta AN yang sudah diketahui tempatnya untuk menghubungi AS datang. Belakangan, AN mengaku bahwa dia kenal dengan AS.

Dan tak lama kemudian, AS datang dengan mengendarai mobil dan menjelaskan apa yang dia lakukan dengan sejumlah PS yang dia sewa dalam jumlah banyak dan AS mengaku dia menyewakan kembali sejumlah PS tersebut kepada teman-teman Algeria-nya.

"Dengan harga yang lebih tinggi dibanding harga yang diberikan kepadanya. Dia (AS) juga menawarkan bisa memberikan komisi kepada rental- rental yang mau. Namun kami semua menolak, kami hanya meminta agar seluruh PS untuk kembali jika masa sewa sudah selesai dan tidak boleh memperpanjang lagi," ujarnya.

Kemudian, pihaknya juga meminta agar dia memberikan alamat serta foto- foto paspor dari teman-temannya yang menyewa PS darinya dan AS langsung mengirim foto paspornya namun tidak mengirimkan alamat tempat tinggal karena alasan sudah larut malam dan teman temannya sudah tidur dan berjanji besok paginya akan mengirimkan alamat lengkapnya.

Selain itu, AS melakukan pembayaran yang telat dan datang ketika sejumlah rental mencarinya. Tetapi, karena merasa AS tidak niat menipu hingga akhirnya Jason kembali menyewakan PS-nya ke rekan AS yaitu AN.

"Merasa bahwa dia tidak berniat untuk menipu. Sehingga kami tetap berani menyewakan unit kedua untuk (AN) ternyata mereka berkomplot jika dihitung total ada 5 PS MantaPS yang disewa oleh (AS dan AN)," ungkapnya.

Kemudian, dari tanggal 8 sampai 14 Agustus 2026, Jason mengatakan AS mulai melancarkan aksi drama dan ngulur waktu. Tanggal 8 hingga 9 Agustus 2026 sudah seharusnya pengembalian unit pertama dan unit kedua namun terus saja diundur.

"Padahal kami sudah minta dengan mengatakan unitnya akan digunakan untuk event dan kami harus membayar ganti rugi kepada vendor atau bepura-pura agar ia terdesak untuk mengembalikan dan kami juga sudah melayangkan denda sebesar Rp 1.000.000 per unit per hari atas keterlambatan pembayaran," ujarnya.

"Namun dia hanya membayar Rp 1.000.000 pada tanggal 10 Agustus dan susah dihubungi kembali alasannya muter-muter, mulai dari tertahan di Karangasem, mengaku PS-nya lagi dipakai streamer, sampai janji mau beliin unit PS baru buat gantiin punya kami," lanjutnya.

Dan puncaknya di tanggal 14 Agustus 2026, AS mendesak minta alamat rumah Jason dengan alasan mau mengembalikin PS sendiri.

"Karena curiga, kami tolak dan minta jemput langsung agar bisa mengecek kondisi unit sekalian. Setelah itu, dia langsung hilang kontak total dan pada periode ini ada beberapa rental yang sudah mengunggah permasalahan ini di sosial media dan ternyata perlahan korban terus bertambah, hingga menjadi 9 rental PS dengan total 25 unit PS yang disewa serta 1 rental kamera," ujarnya.

Kemudian, pegawai rental kamera mendatangi vila tempat tinggal AS pada tanggal 14 Agustus 2026 untuk menagih kembali kamera dan tempatnya ternyata udah kosong melompong.

"Di sana cuma ditinggalin tas PS. Tapi begitu dibuka, unit PS udah diambil dan diganti sama bohlam lampu bekas. Tanggal 18 Agustus kemarin, sempat ada laporan saksi mata yang lihat WNA mirip banget sama (AS) di sebuah hotel daerah Kuta. Kami bareng gabungan rental langsung meluncur ke sana. Tapi setelah dicek bareng sekuriti lewat CCTV dan data tamu, ternyata cuma mirip dan orangnya beda," ujarnya.

Kemudian, di hari yang sama dirinya mendapat kabar pahit dari data Imigrasi bahwa AS sudah kabur dari Bali.

"Di hari yang sama, kami dapat kabar pahit dari hasil pengecekan data Imigrasi dan pelacak AirTag milik korban rental kamera. Si (AS) ternyata udah kabur dari Bali menuju Malaysia sejak tanggal 14 Agustus 2026, dan sekarang udah aman di kampung halamannya di Algeria," ujarnya.

Namun, di tengah rasa hopeless atau tanpa harapan itu muncul satu titik terang. Di tanggal 18 Agustus 2026, ada satu rental yang datang bawa bukti bahwa temannya si AS yaitu AN yang punya peran langsung dan ikut menyewa beberapa unit PS yang hilang ini, diketahui masih berada di Pulau Bali.

"Dari hasil pelacakan awal (AN) diketahui masih berada di Bali. Kasus ini sendiri udah resmi kami laporkan ke Polsek Kuta Utara dan sudah kami koordinasikan ke Imigrasi Ngurah Rai mendampingi tim advokat," ujarnya.

"Harapan kami saat ini tinggal satu, semoga pihak berwenang dan publik bisa bantu mengamankan (AN) yang masih ada di Bali ini. Supaya keberadaan unit-unit kami bisa terlacak dan kasus ini bisa tuntas," ujarnya.

Jason mengatakan, ada 5 unit PS 5 di rentalnya yang disewa diduga dibawa kabur oleh AS dan AN dan kalau seluruh rental ada sebanyak 25 unit PS 5.

"Dugaan kami dijual sih. Kalau (kerugian) kami pribadi itu kisaran Rp 74.390.000. Total PS 5 saya ada 5 unit, 3 unit di (AS) dan 2 unit di (AN). Dan tidak ada dikembalikan satupun," ujarnya.

Jason juga menduga, puluhan PS 5 itu dijual di Malaysia karena ada akun anonim di Facebook di grup rental PS di Malaysia yang menjual 20 unit PS 5.

"Kami juga baru dapat info, di tanggal 14 Agustus depart-nya (waktu keberangkatan) tidak langsung ke Aljazair, dia ke Malaysia dulu. Dan di sana ada grup rental Malaysia di Facebook itu tiba-tiba ada akun anonim baru dan menjual 20 unit PS 5. Kami curiganya bahwa PS kami ada di sana," ujarnya.

Rekomendasi