Sejumlah peternak dan pengusaha ayam petelur di Sulawesi Selatan menggelar aksi unjuk rasa di Kantor Gubernur dan DPRD Sulsel, Senin (10/9). Selain melakukan unjuk rasa, para pengusaha dan peternak ayam petelur juga membagikan telur dan ayam kepada pengguna jalan.
Penanggung Jawab Demo Peternak Rakyat Sulawesi, Basuki Suyuti mengatakan unjuk rasa dengan membagikan telur dan ayam kepada warga sebagai simbol terpuruknya peternak ayam petelur akibat murahnya harga telur. Akibatnya, para peternak ayam petelur mengalami kerugian karena di saat bersamaan harga pakan naik.
"Itu (bagi-bagi telur dan ayam) sebagai simbol jika teman-teman peternak ayam petelur ini sudah tidak mampu lagi. Kalau kami jual (telur) jelas rugi, lebih baik kita bagikan kepada warga saja," ujarnya kepada wartawan.
Basuki mengungkapkan akibat mahalnya harga pakan, peternak ayam petelur harus nombok sekitar Rp3.000-4.000 per rak. Dia merasa, kondisi tersebut akan membuat peternak ayam petelur mengalami kerugian cukup besar.
"Saat ini, harga telur di tingkat peternak berada di kisaran Rp20 hingga 21 ribu per kilogram atau sekitar Rp38 hingga Rp40 ribu per rak. Ini masih jauh dari HAP (harga acuan penjualan) dari pemerintah yang sebesar Rp26.500," keluhnya.
Di saat harga telur turun, harga pakan jenis konsentrat mengalami kenaikan mulai dari Rp 100-1500 per kilogram. Sementara harga pakan campuran, pada kisaran Rp7.500.
"Harga pakan jenis konsentrat sebelumnya sekitar Rp8.000 per kilogram saat ini sudah naik mulai dari Rp9 hingga 9.500 per kilogram," bebernya.
Basuki berharap pemerintah segera mengambil langkah konkret untuk memperbaiki kondisi harga pakan dan telur. Menurutnya, tanpa intervensi pemerintah, semakin banyak peternak rakyat berpotensi gulung tikar.
"Permasalahan di dunia peternakan sangat kompleks dan krusial. Butuh peran penuh pemerintah untuk menjaga kelangsungan usaha peternakan rakyat ke depan," tutupnya.