Bawa Inovasi Hijau ke Forum PBB, Bos Petrokimia Gresik Soroti Green Jobs

Jadi satu-satunya dirut asal Indonesia di forum PBB, Petrokimia Gresik bawa inovasi hijau dan ajak talenta muda bangun ekonomi berkelanjutan.

Idris Rusadi Putra
Oleh Idris Rusadi Putra - Reporter
Bawa Inovasi Hijau ke Forum PBB, Bos Petrokimia Gresik Soroti Green Jobs
Bawa Inovasi Hijau ke Forum PBB, Dirut Petrokimia Gresik Soroti Green Jobs

PT Petrokimia Gresik membawa pengalaman transformasi industri dan pertanian berkelanjutan Indonesia ke panggung global di New York, Amerika Serikat. Perusahaan Solusi Agroindustri anggota holding PT Pupuk Indonesia (Persero) ini memamerkan kiprah inovasi keberlanjutannya, termasuk GladiAgro: Next-Gen Soil Revival yang sebelumnya meraih penghargaan tertinggi dalam SDGs Innovation Accelerator for Young Professionals 2026.

Direktur Utama Petrokimia Gresik, Daconi Khotob, menghadiri 2026 UN Private Sector Forum di Markas Besar PBB, New York. Dalam forum khusus yang mempertemukan sekitar 150 pemimpin senior dunia usaha, pemerintah, dan PBB tersebut, Daconi menjadi satu-satunya direktur utama dari Indonesia yang berkesempatan hadir.

Agenda yang diselenggarakan UN Global Compact di bawah pimpinan Sanda Ojiambo serta dihadiri Sekretaris Jenderal PBB António Guterres ini membahas percepatan transisi energi bersih, investasi, infrastruktur, hingga kebijakan kolaboratif global.

Tak berhenti di situ, Daconi juga tampil sebagai pembicara dalam forum Global Talent for Sustainable Development di KJRI New York. Di hadapan para diaspora, mahasiswa, dan praktisi keberlanjutan, ia menekankan pentingnya kesiapan talenta Indonesia dalam menghadapi lonjakan green jobs.

"Transformasi menuju ekonomi hijau pada dasarnya juga merupakan transformasi tenaga kerja. Investasi pada teknologi harus berjalan bersama dengan investasi pada manusia. Teknologi hijau hanya akan memberikan manfaat apabila didukung talenta yang mampu merancang, mengoperasikan, dan mengembangkannya," ujar Daconi.

Ia turut mengajak talenta-talenta terbaik Indonesia di luar negeri untuk membawa pulang pengetahuan dan pengalaman guna membangun negeri.

"Kami berharap talenta-talenta terbaik Indonesia yang saat ini belajar maupun berkarya di luar negeri dapat membawa kembali pengetahuan dan pengalamannya untuk berkontribusi bagi Indonesia. Transformasi ke depan membutuhkan SDM yang memiliki kompetensi, perspektif global, dan kemampuan menjawab perubahan industri," tambahnya.

 

Solusi Pemulihan Kesehatan Tanah dan Dekarbonisasi

 

Daconi menjelaskan bahwa Petrokimia Gresik memegang peran unik di dua sisi transformasi. Di hulu, perusahaan berfokus pada efisiensi dan penurunan emisi karbon. Sementara di hilir, inovasinya bersentuhan langsung dengan produktivitas dan kesehatan tanah.

Inovasi GladiAgro, misalnya, dikembangkan untuk merespons hasil pengujian Petrokimia Gresik terhadap 40.282 sampel tanah di 27 provinsi yang menunjukkan 91,9 persen lahan pertanian Indonesia kekurangan kandungan karbon organik.

"Transformasi hijau kami tidak berhenti di gerbang pabrik, tetapi berlanjut sampai ke lahan pertanian. Di industri, kami harus membuat proses produksi semakin efisien dan rendah karbon. Di sektor pertanian, kami juga harus membantu petani menjaga kesehatan tanah, menggunakan input secara lebih tepat, dan meningkatkan produktivitas secara berkelanjutan," jelasnya.

Mencetak Talenta Hijau untuk Masa Depan

Mengusung perspektif “Green Jobs: From Green Transformation to Green Talent”, Daconi menggarisbawahi bahwa era rendah karbon menuntut perubahan kompetensi tenaga kerja melalui reskilling dan upskilling.

"Engineer tetap engineer, agronom tetap agronom, dan akuntan tetap akuntan. Tetapi teknologi yang mereka gunakan, kompetensi yang mereka butuhkan, dan ukuran keberhasilan pekerjaannya akan berubah. Karena itu, penguatan talenta perlu dilakukan melalui reskilling, upskilling, pengalaman industri, serta kolaborasi lintas disiplin,” terangnya.

Langkah ini sejalan dengan roadmap dekarbonisasi Petrokimia Gresik menuju Net Zero Emission (NZE) 2060, dengan target awal menekan emisi hingga 30 persen pada 2030. Strategi tersebut mencakup efisiensi energi, pemanfaatan sumber terbarukan, hingga pengkajian green hydrogen untuk produksi hybrid green ammonia.

Rekomendasi