Krisis bahan bakar kian terasa di Eropa seiring memanasnya ketegangan geopolitik. Lonjakan harga bahan bakar minyak (BBM), dengan diesel sebagai pendorong utama, membuat biaya perjalanan harian warga membengkak dan menekan perekonomian kawasan.
Menurut Euronews, Kamis (24/9), laporan terbaru Transport & Environment (T&E) mencatat sejak awal konflik AS–Iran, kenaikan harga BBM telah mengikis sekitar 53 miliar euro atau Rp 1.078 triliun (asumsi kurs 1 euro = Rp 20.357) dari perekonomian Uni Eropa.
T&E juga memperkirakan tambahan beban biaya perjalanan warga Eropa mencapai 270 juta euro (Rp 5,4 triliun) per hari, dengan 203 juta euro (Rp 4,1 triliun) di antaranya ditanggung pengguna kendaraan diesel. Dari total ongkos ekstra tersebut, 40 miliar euro (Rp 814 triliun) dipicu lonjakan harga diesel.
Advertisement
Ketergantungan Diesel Eropa dan Tekanan ke Konsumen
Eropa menjadi salah satu pasar paling bergantung pada diesel. Porsi konsumsi diesel mencapai sekitar 43% dari total produk minyak di Uni Eropa—16 poin persentase di atas rata-rata global dan nyaris dua kali lipat konsumsi di Amerika Serikat.
Kebutuhan terbesar datang dari transportasi darat. Sektor ini menyerap 77% pasokan diesel Uni Eropa, dengan pemakaian utama oleh mobil penumpang, disusul truk besar, bus, dan van.
Dampaknya langsung terasa di dompet konsumen. T&E mencatat pengemudi kendaraan diesel di Uni Eropa rata-rata membayar 142 euro (Rp 2,8 juta) lebih mahal dalam 28 minggu terakhir dibanding tahun sebelumnya. Per 14 September 2026, biaya mengisi tangki penuh berkapasitas 50 liter naik 30 euro (Rp 610.000) dibanding sebelum perang.
Tekanan serupa menghantam sektor logistik. Pengusaha truk jarak jauh di Jerman mencatat kenaikan pengeluaran hingga 236 euro (Rp 4,8 juta) per minggu, atau sekitar 6.000 euro (Rp 122,1 juta) selama periode pengamatan.
Advertisement
Rantai Pasok Terguncang, Margin Kilang Meroket
Kenaikan harga diesel dipicu gangguan pasokan dan produksi. Konflik di Timur Tengah memangkas ekspor bahan bakar olahan, sementara ketegangan di Eropa Timur melumpuhkan operasional sejumlah kilang minyak Rusia.
Data T&E menunjukkan ekspor diesel dan solar dari Timur Tengah serta Rusia anjlok hampir 75% pada Agustus 2026 dibanding periode yang sama tahun lalu.
Kondisi ini mendorong lonjakan margin kilang (crack spread). Selisih harga minyak mentah dengan harga grosir diesel menembus lebih dari US$ 100 (Rp 1,7 juta) per barel (asumsi kurs US$ 1 = Rp 17.883), jauh di atas rentang normal US$ 10–30 per barel.
Akibat tekanan tersebut, harga rata-rata tertimbang diesel di Uni Eropa mencapai 2.159 euro (Rp 43,9 juta) per liter pada 14 September 2026—rekor tertinggi sejak Komisi Eropa mulai menghimpun data pada 2005.
Pasokan berpotensi makin ketat memasuki musim gugur karena permintaan minyak pemanas, kebutuhan sektor pertanian, dan transportasi barang meningkat, bersamaan dengan jadwal pemeliharaan kilang. Risiko pembatasan pasokan kian besar setelah Presiden AS Donald Trump mengisyaratkan rencana mengekang ekspor diesel dari Amerika Serikat.
Advertisement
Langkah Penghematan dan Arah Transisi Energi
Untuk meredam beban jangka pendek, T&E merekomendasikan skema penghematan yang digagas Badan Energi Internasional (IEA). Kebijakan bekerja dari rumah tiga hari per pekan diperkirakan dapat memangkas tagihan BBM pengendara hingga 20%.
Langkah pendukung lainnya antara lain menurunkan batas kecepatan di jalan tol, mengoptimalkan layanan transportasi publik, serta memperluas edukasi berkendara hemat energi.
Dalam jangka panjang, percepatan adopsi kendaraan listrik menjadi kunci mengurangi kerentanan Eropa terhadap guncangan harga minyak. T&E mencatat kehadiran hampir 8 juta mobil listrik di Uni Eropa mampu menghindarkan konsumsi 46 juta barel minyak pada 2025, sekaligus menghemat biaya impor minyak hingga 2,9 miliar euro (Rp 59 triliun).