Mengejar Rezeki di Tengah Riuh Aksi Hari Buruh

Keramaian aksi Hari Buruh menjadi peluang bagi pedagang minuman. Dari Monas hingga Sudirman, dagangan laris manis, sementara massa terbantu mendapatkan minuman di tengah panasnya aksi.

Febika Indriyani
Oleh Febika Indriyani - Reporter
Mengejar Rezeki di Tengah Riuh Aksi Hari Buruh
Pedagang starling laris manis pada saat ada aksi demo

Riuh massa aksi Hari Buruh tak hanya membawa suara tuntutan ke jalanan. Di sela-sela kerumunan, pedagang minuman ikut membaca arus massa, berpindah dari satu titik ke titik lain untuk mencari pembeli.

Sejak Kamis (24/9) pagi, Yadi seorang pedagang minuman sudah menjajakan dagangannya di kawasan Monas, Jakarta. Ketika keramaian bergeser, dia ikut berpindah ke Jalan Jenderal Sudirman.

Perpindahan lokasi itu membawa berkah tersendiri. Hingga siang hari, dua kardus minuman yang dibawanya sudah ludes terjual.

"Sudah habis, alhamdulillah sudah habis dua kardusan,” kata Yadi saat ditemui di sela aksi, Kamis (24/9).

Dia mengatakan, penjualan saat ada demo memang cenderung lebih ramai dibandingkan hari biasa. Dalam kondisi normal, satu kardus minuman yang dibawanya bahkan belum tentu habis dalam sehari.

"Kalau hari biasa, kalau nggak ada acara atau demo, paling satu kardus itu belum habis sehari," ujar dia.

Hingga siang, dia belum dapat memastikan berapa banyak dagangan yang akan terjual sampai hari berakhir. Namun, dia memperkirakan penjualan masih bisa bertambah karena sejak pagi sudah berada di kawasan Monas sebelum kemudian berpindah ke Sudirman.

Menurutnya, omzet saat ada demo bisa meningkat sekitar 30 persen dibandingkan hari biasa. Bagi pedagang keliling, kerumunan massa bukan sekadar lalu-lalang orang. Di tengah panas dan padatnya suasana aksi, keramaian juga menjadi tempat bertemunya kebutuhan dan kesempatan.

 

Dari Kerumunan Rezeki Mengalir

Pedagang starling laris manis pada saat ada aksi demo
Pedagang starling laris manis pada saat ada aksi demo
Pedagang starling laris manis pada saat ada aksi demo
Pedagang starling laris manis pada saat ada aksi demo

Hal serupa dirasakan Zein Satria, pedagang alpukat kocok dari Eskocok Sultan. Sudah sekitar enam bulan berjualan keliling, Zein mengaku kerap mendatangi lokasi demonstrasi karena keramaian dapat mendongkrak penjualan.

“Ini bisa naik sekitar 40-50 persenan,” kata Zein saat ditanya mengenai kenaikan omzet ketika ada demo.

Menurut Zein, penjualan dalam aksi massa bahkan dapat melibatkan lebih banyak gerobak. Saat ada demo, pihaknya bisa mengerahkan sekitar 10 hingga 20 gerobak untuk berjualan di sekitar lokasi.

Bukan hanya mengandalkan pembeli yang datang satu per satu, pesanan dalam jumlah besar juga terkadang masuk dari koordinator kelompok.

Zein mengatakan, pengalaman berjualan di tengah demo sudah beberapa kali dilalui. Saat aksi sebelumnya di sekitar DPR, misalnya, pihaknya mendapat pesanan langsung dari relawan. Ketika stok habis, mereka tidak lantas menutup dagangan, melainkan meminta diantarkan stok minumannya lagi.

“Kalau sudah dipesan gitu, kayak sudah pasti langsung habis. Kita ambil refill lagi,” ujarnya.

Pada aksi Hari Buruh kali ini, dua gerobak yang dibawanya bahkan sudah menjual sekitar 400 cup. Saat ditemui, Zein masih menunggu stok tambahan yang sedang diantar.

Namun, mencari rezeki di tengah kerumunan bukan berarti tanpa perhitungan. Zein bersama timnya tetap memperhatikan situasi sekitar.

Untuk satu gerobak, biasanya ada dua orang yang bertugas. Satu orang melayani pembeli, sementara satu lainnya menjaga sekaligus mengantisipasi kondisi di sekitar.

“Kita cari titik amannya. Karena untuk demo itu kadang ada titik chaos-nya, ada titik amannya juga,” katanya.

Jika situasi mulai tidak kondusif, mereka memilih menarik diri dan berpindah ke lokasi yang lebih aman.

Bagi Zein, membaca situasi menjadi bagian dari pekerjaan. Dagangan boleh mengejar kerumunan, tetapi keselamatan tetap menjadi batas.

Pedagang Jadi Penawar Dahaga Massa

Pedagang starling laris manis pada saat ada aksi demo
Pedagang starling laris manis pada saat ada aksi demo

Di tengah panasnya aksi, keberadaan pedagang minuman menjadi penolong bagi massa yang kehausan. Bagi peserta aksi, pedagang tak sekadar berjualan, tetapi juga memudahkan mereka mendapatkan minuman tanpa harus meninggalkan lokasi.

Abed, salah seorang peserta aksi yang datang dari Purwakarta, menilai keberadaan pedagang di sekitar lokasi sangat membantu.

“Iya membantu juga bagi kita-kita,” kata Abed.

Cuaca panas membuat kebutuhan minum selama mengikuti aksi semakin terasa. Abed bahkan membeli 11 cup es kopi untuk dirinya dan teman-temannya sesama peserta aksi.

“Kalau tadi saya beli 11 (cup), enggak tahu yang lain mungkin lebih dari itu,” ujarnya.

Pembelian dalam jumlah banyak juga dilakukan peserta aksi secara berkelompok. Bagi Abed dan rekan-rekannya, keberadaan pedagang di sekitar lokasi membuat mereka bisa mendapatkan minuman tanpa harus meninggalkan area aksi.

“Yang penting mah pedagang merasa diuntungkan, customer juga merasa diuntungkan,” katanya.

Di tengah hiruk-pikuk Hari Buruh, botol dan cup minuman pun menjadi bagian kecil dari cerita lain di balik aksi. Ketika massa menyuarakan tuntutan, para pedagang sibuk menghitung dagangan yang berpindah tangan.

Bagi mereka, keramaian adalah arus yang harus dibaca. Selama massa datang dan dahaga muncul, roda dagangan pun ikut berputar.

Rekomendasi