Komite Olahraga Masyarakat Indonesia (Kormi) Kota Tangerang, Banten, menyoroti potensi besar permainan tradisional sebagai solusi untuk mengatasi ketergantungan generasi muda terhadap media sosial. Organisasi ini mengusulkan agar aktivitas tersebut dapat diintegrasikan ke dalam kurikulum pendidikan di Kota Tangerang. Inisiatif ini diharapkan mampu membentengi anak-anak dari efek buruk dunia digital.
Ketua Kormi Kota Tangerang, Sulfi Afriadi, menyatakan bahwa usulan ini selaras dengan program Peraturan Pemerintah (PP) tentang Tata Kelola dan Perlindungan Anak di Ruang Digital atau yang dikenal sebagai PP Tunas. Melalui interaksi sosial yang lebih banyak, anak-anak diharapkan dapat mengembangkan diri secara lebih seimbang. Langkah ini menjadi respons terhadap tantangan era digital yang kian masif.
Usulan tersebut muncul sebagai upaya konkret Kormi Kota Tangerang dalam menciptakan lingkungan yang lebih sehat bagi tumbuh kembang anak. Dengan mengembalikan permainan tradisional ke lingkungan sekolah, diharapkan akan tercipta keseimbangan antara aktivitas digital dan interaksi fisik. Ini merupakan langkah strategis untuk masa depan generasi penerus bangsa.
Advertisement
Advertisement
Manfaat Permainan Tradisional dalam Pembentukan Karakter
Sulfi Afriadi menjelaskan bahwa sejumlah permainan tradisional telah menarik minat anak-anak dalam berbagai kegiatan sosialisasi yang diadakan. Permainan seperti bakiak, egrang, dan ketapel menjadi favorit dan menunjukkan potensi besar untuk kembali populer di kalangan pelajar. Ketertarikan ini menjadi dasar kuat bagi Kormi untuk mendorong implementasi di sekolah.
Anak-anak bahkan mengungkapkan harapan agar permainan-permainan ini dapat hadir di lingkungan sekolah mereka, baik sebagai bagian dari muatan lokal maupun kegiatan ekstrakurikuler. Kormi Kota Tangerang memandang bahwa permainan tradisional memiliki manfaat signifikan dalam proses pendidikan dan pembinaan karakter generasi muda di Kota Tangerang. Ini bukan hanya sekadar hiburan, melainkan juga sarana edukasi yang efektif.
Permainan tradisional dapat dioptimalkan sebagai aktivitas alternatif yang efektif untuk melindungi generasi muda dari dampak negatif ketergantungan media sosial. Interaksi fisik dan sosial yang terjadi selama bermain sangat penting untuk perkembangan psikis anak. Ini juga sejalan dengan substansi Peraturan Pemerintah (PP) Tunas Nomor 17 Tahun 2025 yang mendorong pembatasan akses konten, data pribadi, dan keamanan digital bagi anak-anak yang belum lama ini diterapkan.
Advertisement
Advertisement
Sinergi dengan Kebijakan Perlindungan Anak Digital
PP Tunas Nomor 17 Tahun 2025, yang baru saja diterapkan, mendorong pembatasan akses konten, perlindungan data pribadi, dan keamanan digital bagi anak-anak. Kormi Kota Tangerang melihat permainan tradisional sebagai alat yang tepat untuk mendukung tujuan peraturan pemerintah ini. Dengan demikian, upaya perlindungan anak tidak hanya bersifat regulatif, tetapi juga proaktif melalui aktivitas positif.
Kormi Kota Tangerang sangat berharap usulan yang telah disampaikan dapat ditindaklanjuti sebagai kolaborasi untuk mencetak generasi muda daerah itu lebih unggul dan berprestasi. Kolaborasi antara berbagai pihak sangat dibutuhkan untuk mencetak generasi muda daerah yang lebih unggul dan berprestasi. Sinergi ini akan menjadi kunci keberhasilan program jangka panjang.
Menurut Sulfi, permainan tradisional menawarkan banyak manfaat sebagai ruang perkembangan psikis anak melalui interaksi sosial yang menarik. Pengalaman ini sangat berharga sebelum mereka terjun ke lingkungan masyarakat yang lebih luas. Ini adalah investasi penting untuk masa depan sosial dan emosional anak-anak.
Advertisement
Sumber: AntaraNews