Guru Besar Tetap dalam Bidang Ilmu Keselamatan Transportasi, Fakultas Teknik Universitas Indonesia (UI), Prof. Martha Leni Siregar, menyerukan pendekatan baru dalam perencanaan infrastruktur. Beliau mendorong Desain Jalan Berbasis Batas Kemampuan Manusia untuk menekan angka fatalitas akibat kecelakaan lalu lintas yang terus menjadi perhatian serius.
Pernyataan penting ini disampaikan Prof. Martha dalam keterangannya di Depok, Jawa Barat, pada Sabtu (14/2). Menurutnya, terdapat korelasi langsung antara kecepatan kendaraan dan risiko kematian yang dialami korban kecelakaan.
Oleh karena itu, sistem transportasi harus dirancang secara komprehensif dengan mempertimbangkan kapasitas tubuh manusia saat menghadapi benturan. Fokus utama harus pada pencegahan proaktif kecelakaan, bukan hanya penanganan reaktif setelah insiden terjadi.
Advertisement
Advertisement
Pentingnya Pengaturan Kecepatan dan Pencegahan Proaktif
Prof. Martha Leni Siregar menegaskan bahwa pengaturan dan pengendalian kecepatan merupakan elemen krusial dalam sistem transportasi yang berkeselamatan. Upaya pencegahan kecelakaan harus dilakukan secara proaktif dan berkelanjutan.
Tujuan utama dari pendekatan ini adalah memastikan bahwa jika pun terjadi kecelakaan, tidak ada korban jiwa yang melayang atau cedera parah. Desain jalan yang tepat memegang peranan vital untuk menjaga agar kendaraan melaju dalam batas kecepatan yang aman bagi manusia.
Pendekatan ini berlandaskan pada prinsip bahwa semakin tinggi kecepatan, semakin besar risiko kematian. Oleh karena itu, kecepatan yang berkeselamatan harus menjadi prinsip inti dalam setiap tahap perencanaan, desain, dan pengelolaan sistem transportasi untuk mencapai target keselamatan maksimal.
Advertisement
Advertisement
Tantangan dan Kompleksitas Sistem Transportasi Indonesia
Indonesia menghadapi tantangan unik dalam menerapkan Desain Jalan Berbasis Batas Kemampuan Manusia. Prof. Martha menyoroti banyaknya jenis kendaraan dan perbedaan kecepatan yang signifikan antar-kendaraan di jalan.
Kondisi lalu lintas yang sangat beragam ini secara langsung meningkatkan risiko kecelakaan. Oleh karena itu, dibutuhkan sebuah sistem yang komprehensif untuk mengatur perbedaan kecepatan tersebut secara efektif.
Sistem ini harus mampu mengintegrasikan berbagai faktor, mulai dari infrastruktur jalan hingga perilaku pengguna, demi menciptakan lingkungan transportasi yang lebih aman. Tanpa pendekatan menyeluruh, upaya pencegahan akan kurang optimal.
Advertisement
Advertisement
Menggeser Paradigma Keselamatan Menuju Nol Fatalitas
Dalam pendekatan Sistem Berkeselamatan, Prof. Martha menjelaskan bahwa manusia dapat melakukan kesalahan. Oleh karena itu, sistem transportasi harus dirancang untuk mengantisipasi kesalahan tersebut, bukan hanya menyalahkan pengguna jalan.
Pertanyaan yang seharusnya diajukan adalah mengapa sistem yang ada memungkinkan benturan keras hingga melebihi batas kemampuan manusia, bukan lagi siapa yang salah. Ini menandai pergeseran paradigma fundamental dalam keselamatan transportasi.
Tujuannya adalah pencegahan cedera fatal, dengan menempatkan kecepatan yang berkeselamatan sebagai inti perencanaan, desain, dan pengelolaan. Keselamatan transportasi harus dianggap sebagai produk dari sistem itu sendiri, menuju target nol fatalitas.
Advertisement
Sumber: AntaraNews