Sejumlah universitas di Inggris mulai membuka jurusan pembuatan konten seiring perubahan lanskap bisnis di era digital. Program ini tak hanya mengajarkan cara memproduksi materi untuk Instagram, TikTok, dan YouTube, tetapi juga membahas pembangunan audiens, kerja sama dengan brand, hingga monetisasi. Informasi ini dikutip dari BBC, Selasa (29/9/2026).
Bagi Destiny McGowan (21), lulusan jurusan pembuatan konten di Nottingham Trent University, fokus perkuliahan tersebut sejalan dengan tujuannya menjadi wirausahawan. "Saya selalu ingin menjadi seorang entrepreneur, jadi saya mencari keterampilan yang saya yakin bisa saya dapat dari jurusan ini," ujarnya.
Di luar unggahan seputar mode di akunnya, Destiny membuat video untuk pihak lain dan direkrut sebagai host live TikTok guna mempromosikan produk di depan kamera. Ia menyebut sudah memperoleh pendapatan dari aktivitas kontennya, sekaligus mendapat akses ke peralatan, teknologi, dan jaringan industri. "Orang-orang menakjubkan yang saya temui melalui panel dari universitas mungkin tak bisa digapai orang lain sebelum lima hingga 10 tahun," dia menjelaskan.
Advertisement
Biaya dan Kampus Penyedia Jurusan Pembuatan Konten
Nottingham Trent menyatakan program yang diluncurkan pada 2022 itu memberikan pengalaman langsung kepada mahasiswa. Di Inggris Raya, sejumlah kampus lain turut menawarkan jurusan serupa; University of Brighton, misalnya, menekankan kemampuan menghasilkan konten yang berbeda dari yang lain.
Dari luar Inggris, Arizona State University di Amerika Serikat menyebut kualifikasi sejenis memungkinkan mahasiswa mengubah kreativitas menjadi konten yang relevan dengan penonton.
Dari sisi biaya, program tiga tahun di Nottingham Trent dan Brighton untuk mahasiswa Inggris Raya dipatok 9.790 pound sterling per tahun, setara Rp 232,8 juta (asumsi kurs pound sterling terhadap rupiah di kisaran 23.782). Adapun biaya tahunan standar di Arizona State adalah 11.000 pound sterling, atau Rp 261,6 juta bagi penduduk negara bagian tersebut.
Advertisement
Skeptisisme: Gelar Dinilai Tak Vital bagi Industri
Knightenator (31), pembuat konten penuh waktu asal Inggris Raya, meragukan harga kuliah itu sepadan dan menyebut kemungkinan besar tidak akan mengambil jurusan tersebut.
Sejak 2015 ia membuat video game dan travel di media sosial. Kini akun Twitch-nya diikuti 65.000 orang dan lebih dari 100.000 di TikTok. Ia tidak mengungkap pendapatan, tetapi mengakui sebagian besar penghasilannya berasal dari promosi brand.
Menurutnya, gelar ini tidak begitu relevan dengan hal yang dinilai penting oleh perusahaan. "Sejujurnya, dari pengalaman saya, sepertinya perusahaan tidak akan begitu peduli jika Anda memiliki gelar pembuat konten," tuturnya.
Knightenator menambahkan saran dan informasi untuk pemula tersedia luas di internet tanpa harus kuliah tiga tahun. "Jika Anda ingin menjadi pembuat konten, banyak tips di luar sana, dan tidak harus berkomitmen menjalani kuliah selama tiga tahun," dia menjelaskan.
Ia menyarankan calon kreator menonton karya orang lain lalu menemukan ciri konten yang khas. "Saya rasa tidak begitu sulit pada zaman ini untuk bisa melakukannya," kata Knightenator.
Advertisement
Pendukung: Bekal Bisnis di Ekonomi Kreator
Di sisi lain, pembuat konten makanan, mode, dan gaya hidup asal Arizona, Aiesha Beasley (36), mengaku akan mengambil jurusan tersebut bila tersedia pada awal kariernya. Ia meyakini program seperti ini dapat membantunya menemukan jalur yang jelas untuk berpenghasilan.
Aiesha menekankan perlunya pola pikir bisnis agar hobi bisa menjadi pekerjaan. "Anda memang harus punya pemikiran bisnis tentang: Bagaimana caranya mengubah ini dari hobi menjadi sesuatu yang menghasilkan uang?" tutur Aiesha.
Ia menilai jurusan semacam ini berada di garis depan dalam mengakui pembuatan konten sebagai bagian penting pemasaran. Program tersebut, menurutnya, dapat membantu pemilik bisnis, seorang entrepreneur, maupun mereka yang membangun brand personal.
Perkembangan ini sejalan dengan laju ekonomi kreator. Laporan tahun lalu menyebut kreator YouTube menyumbang 2,2 miliar pound sterling atau Rp 52,3 triliun bagi perekonomian Inggris Raya. Sementara survei 2024 menunjukkan satu dari tiga orang berusia 18–30 tahun di Amerika Serikat ingin menjadi influencer.
Advertisement
Kampus: Kebutuhan Keterampilan Profesional, Bukan Sekadar Influencer
Ketua program studi sekaligus dosen senior bidang pembuatan konten di Nottingham Trent University, Jacky Gurr, menyebut sebagian besar mahasiswa di jurusan ini tidak bercita-cita menjadi influencer.
Menurut Gurr, pembuatan konten adalah keterampilan profesional yang makin dibutuhkan beragam organisasi, baik untuk yang menjalankan bisnis sendiri, bekerja di perusahaan, bergabung dengan agensi, maupun menjadi pekerja lepas bagi banyak klien.
"Keterampilan ini bisa diajari. Mahasiswa belajar cara menyusun dan memproduksi konten video, membangun kampanye, mengerti penonton, menganalisis data performa, hingga mengadaptasi strategi berdasarkan darinya," tutur Gurr.
Ia menambahkan aspek bisnis dalam pembuatan konten menjadi bagian penting kurikulum, termasuk monetisasi dan sisi komersial industri.
Namun bagi siapa pun yang mengira gelar sarjana akan membawa kesuksesan instan sebagai influencer, Gurr memberi peringatan, "Sebagian besar kesuksesan sebagai influencer bergantung pada keberuntungan, dan kami tidak bisa mengajarkan keberuntungan atau kepribadian."