Relawan Jokowi Soal Wacana Gibran-Dedi Mulyadi: Sulit Dikalahkan

Gaya politik Gibran dan Dedi Mulyadi dinilai mulai menyatu, terutama dalam cara bertemu dan melayani masyarakat.

Arie Sunaryo
Oleh Arie Sunaryo - Reporter
Relawan Jokowi Soal Wacana Gibran-Dedi Mulyadi: Sulit Dikalahkan
Ketua Umum Rampai Nusantara Mardiansyah Semar usai menemui Jokowi. (merdeka.com/arie sunaryo).

Wacana duet antara Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka dan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi (KDM) untuk Pilpres 2029 ramai diperbincangkan publik.

Ketua Umum Rampai Nusantara Mardiansyah Semar menilai duet tersebut sebagai kekuatan dahsyat sulit dikalahkan.

"Menarik ya, karena mungkin saja dan mungkin saja, karena mau tidak mau KDM itu simbol dari suara Jawa Barat yang cukup besar," ujar Mardiansyah saat ditemui usai bersilaturahmi ke kediaman Presiden ke-7 RI Joko Widodo di Sumber, Solo, Rabu (30/9).

Menurutnya, kunci kemenangan politik nasional ada di Pulau Jawa. Dedi Mulyadi identik dengan Jawa Barat, sementara Gibran kuat di Jawa Tengah dan Jawa Timur.

"Jadi kalau bicara politik kekuasaan, itu kan Jawa itu jadi kunci suara. Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat. Nah Jawa Barat itu identik dengan KDM, Mas Gibran identik dengan Jawa Tengah dan Jawa Timur, ya selesaikan, klop, kan gitu," ujar dia.

Dia menilai wajar jika muncul kegelisahan dari pihak lain melihat kedekatan keduanya. Gaya politik Gibran dan Dedi Mulyadi dinilai mulai menyatu, terutama dalam cara bertemu dan melayani masyarakat.

"Kalau misalnya KDM sekarang semua orang mulai bicara berpasangan dengan Mas Gibran, terus sudah mulai sepertinya ada kegelisahan-kegelisahan dari pihak-pihak yang lain, saya rasa wajar-wajar aja, karena memang ini kekuatan dahsyat," kata dia.

"Karena Mas Gibran dan KDM itu sepertinya memang udah agak mulai menyatu ya. Dari cara-cara berpolitiknya, cara-caranya ketemu masyarakat, dan lain sebagainya, saya rasa baik-baik aja tuh, bagus juga," imbuh dia.

Mardiansyah menegaskan, arahan Jokowi sejak awal tetap mendukung Prabowo-Gibran hingga 2029 bahkan 2034. Namun jika ada dinamika politik, Gibran punya takdir politiknya sendiri.

"Harapan kita sebenarnya kan dari awal ya, termasuk arahannya Pak Jokowi, itu kita dukung Prabowo-Gibran sampai 2029, bahkan sampai 2034. Tapi kalau Pak Prabowo-nya tiba-tiba enggak mau sama Mas Gibran lagi, ya masa mau dipaksa? Ya pasti kan ada takdir politik sendiri buat Mas Gibran ya," ujar dia.

"Kalau misalnya memang takdir politiknya nanti berpasangan dengan KDM, bagus-bagus aja kalau menurut saya sih. Bagus-bagus aja, dan kayaknya agak sulit dikalahkan juga ya," kata Mardiansyah.

Di sisi lain, Mardiansyah meminta pihak-pihak lain berhenti mengusik Jokowi dan keluarga, termasuk isu ijazah Gibran yang kini ramai hingga ke MK.

Menurut dia, Jokowi sempat menyinggung soal itu dalam pertemuan dan menegaskan tidak ada masalah dengan dokumen sekolah Gibran.

"Saya sih pesan buat yang lain-lain sudahlah, enggak usah ngoprek-ngoprek lagi Pak Jokowi dan keluarga, sudah cukuplah. Karena bicara soal ijazah Mas Gibran lah, apa segala macam, tadi sempat disinggung juga sama Pak Jokowi. Kalau Pak Jokowi itu udah melihat dokumennya sekolahnya Mas Gibran, enggak ada masalah sama sekali. Jadi tenang-tenang aja beliau," kata dia.

"Orang saya udah cek dokumennya, saya udah saya juga yang mengantar dia sekolah dan segala macam, enggak ada masalah itu Mas. Jadi saya enggak ada kekhawatiran sama sekali soal sidang MK-nya," kata Mardiansyah kata menirukan pernyataan Jokowi.

Menurutnya, isu ijazah hanya politisasi untuk mendiskreditkan Gibran. Dia mengingatkan masih banyak persoalan bangsa lebih penting untuk diurus.

"Bahwa memang ini ada politisasi dari berbagai pihak untuk mencoba mendiskreditkan Mas Gibran, silakan. Tapi saya cuma berpesan begini, bangsa kita ini kan sedang banyak juga soal, jauh lebih penting energinya buat yang lain lah dibanding ngurusin ijazah. Nanti Jan Ethes juga dimasalahin lagi, kan gitu lho, kan konyol juga," pungkasnya.

Rekomendasi