Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Umar Wirahadikusumah Sumedang, Jawa Barat, telah meluncurkan layanan operasi Stereotactic Brain Lesion (SBL) yang inovatif. Layanan ini khusus ditujukan untuk penanganan gangguan gerak, termasuk penyakit Parkinson. Ini merupakan terobosan penting dalam dunia medis di Jawa Barat.
Direktur RSUD Sumedang, dr. Enceng, menyatakan bahwa layanan ini adalah yang pertama tersedia di Jawa Barat. Operasi SBL juga masih tergolong jarang dilakukan di Indonesia. Kehadiran layanan ini diharapkan dapat memberikan harapan baru bagi banyak pasien.
Operasi SBL ini telah berhasil dilakukan pada seorang pasien yang telah menderita gangguan gerak selama delapan tahun. Keberhasilan ini menandai dimulainya era baru penanganan Parkinson di wilayah tersebut.
Advertisement
Advertisement
Terobosan Medis untuk Gangguan Gerak Stereotip
Operasi Stereotactic Brain Lesion (SBL) merupakan prosedur bedah saraf presisi yang menargetkan area spesifik di otak untuk mengurangi gejala Parkinson. Prosedur ini dapat memperbaiki tremor hingga 90% serta kekakuan dan kelambatan gerak hingga 70-80%. Teknik ini minim invasif dan menjanjikan harapan baru bagi penderita Parkinson.
Sebelum menjalani operasi, pasien yang berhasil ditangani tersebut bahkan tidak mampu beraktivitas normal. Ia hanya bisa terbaring di tempat tidur selama satu bulan terakhir akibat gangguan gerak parah pada tangan dan kakinya. Kondisi ini sangat mengganggu kualitas hidup pasien dan keluarganya.
Dr. Ari Setia Handoko, Sp.BS, seorang dokter spesialis bedah saraf yang aktif berpraktik di RSUD Sumedang, adalah sosok di balik keberhasilan operasi ini. Jadwal praktiknya dapat diakses melalui layanan daring RSUD. Keahlian beliau menjadi kunci utama dalam pelaksanaan prosedur canggih ini.
Advertisement
Operasi ini diperuntukkan bagi pasien dengan gangguan gerak stereotip, seperti tremor berat, yang menyebabkan kesulitan signifikan. Gejala tersebut dapat berupa kesulitan menulis, menggambar, hingga berjalan tidak seimbang. Contohnya, pasien notaris yang kesulitan menjalankan profesinya karena tremor.
Advertisement
Aspek Pembiayaan dan Rekomendasi Medis
Terkait dengan pembiayaan, dr. Enceng menjelaskan bahwa potensi penjaminan melalui BPJS Kesehatan masih perlu didiskusikan lebih lanjut. Pembahasan ini harus sesuai dengan ketentuan dan indikasi medis yang berlaku. Hal ini penting untuk memastikan aksesibilitas layanan bagi masyarakat luas.
Apabila dilakukan secara mandiri, biaya operasi Stereotactic Brain Lesion (SBL) ini dapat mencapai sekitar Rp74 juta. Angka ini tergolong tinggi bagi sebagian besar masyarakat umum. Oleh karena itu, diskusi mengenai penjaminan BPJS Kesehatan menjadi sangat krusial.
RSUD Sumedang menyarankan masyarakat yang memiliki indikasi gangguan gerak untuk tidak ragu berkonsultasi. Pasien dianjurkan untuk terlebih dahulu menemui dokter spesialis bedah saraf. Konsultasi ini bertujuan untuk memastikan kelayakan tindakan operasi, termasuk aspek pembiayaan yang relevan.
Advertisement
Sumber: AntaraNews