Bangunan Berisi Sarang Burung Walet Disulap Jadi Dapur MBG di Luwu, SPPG Janji Evaluasi Usai Tuai Sorotan

Bangunan sarang burung walet kini telah dialihfungsikan menjadi dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kecamatan Suli, Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan.

Fauzan
Oleh Fauzan - Reporter
Bangunan Berisi Sarang Burung Walet Disulap Jadi Dapur MBG di Luwu, SPPG Janji Evaluasi Usai Tuai Sorotan
Bangunan bekas sarang burung walet, yang dijadikan dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kecamatan Suli, Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan, jadi perbincangan hangat di masyarakat. (Liputan6.c (© 2025 Liputan6.com)

Koordinator Wilayah Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kabupaten Luwu Sulsel, Taliya M, memberikan penjelasan mengenai kontroversi terkait bangunan bekas sarang burung walet yang digunakan sebagai dapur untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kecamatan Suli, Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan.

Dalam percakapan melalui telepon, Taliya mengkonfirmasi bahwa dapur MBG yang terletak di Jalan Poros Makassar--Palopo memang berasal dari bangunan sarang burung walet, tetapi ia menegaskan bahwa tidak pernah ada burung walet yang beraktivitas di lokasi tersebut.

"Sehingga bisa lolos dan di-acc itu karena kemarin sudah dibersihkan di bagian atas. Jadi sudah bukan sarang walet lagi. Tidak pernah terjamah hewan tersebut. Semua lubang walet sudah dibersihkan dan ditutup. Rencananya mau dijadikan kantor untuk dapurnya, tapi masih menunggu anggaran," kata Taliya kepada Liputan6.com, Sabtu (27/9).

Taliya juga menambahkan bahwa bangunan tersebut telah terverifikasi sebagai SPPG, dan dapur MBG direncanakan untuk mulai beroperasi pada tanggal 6 Oktober 2025.

Namun, seiring dengan munculnya keresahan di kalangan masyarakat, pihak SPPG memutuskan untuk menunda pengoperasian dapur tersebut. Taliya mengungkapkan bahwa saat ini mereka masih dalam tahap koordinasi dengan berbagai pihak terkait.

"Karena ada opini masyarakat, ya kami tutup lagi sementara. Kami terima sarannya. Saat ini masih konsultasi dengan kepala SPPG dan pihak-pihak terkait. Rencananya 6 Oktober beroperasi, tapi sekarang kami diskusikan ulang dengan pihak dapur. Apalagi sudah muncul pemberitaan dan opini dari masyarakat, jadi untuk sementara belum running," jelasnya.

Lebih lanjut, Taliya menekankan pentingnya evaluasi terhadap proses verifikasi dapur MBG untuk mencegah terulangnya kejadian serupa di masa mendatang.

"Kita akan lakukan evaluasi lagi untuk proses verifikasi di lapangan dengan lebih baik," pungkasnya.

Penjelasan Pengelola Dapur MBG

Sementara itu, Kepala Dapur MBG Suli, Ade Reza Syahputra Aris, menegaskan bahwa bangunan tersebut bukanlah sarang burung walet. Ia menjelaskan bahwa bangunan itu awalnya direncanakan untuk dijadikan sarang walet, tetapi pemiliknya memutuskan untuk membatalkan rencana tersebut.

"Tidak benar itu, tidak ada aktivitas walet di bangunan tersebut. Menurut pemilik, rencananya mau dijadikan penginapan, bukan sarang walet. Bahkan di dalamnya sudah dibuat kamar-kamar," ungkap Reza saat dihubungi terpisah.

Ia juga menambahkan bahwa sekarang seluruh bangunan telah mengalami perubahan total dan berfungsi sebagai dapur MBG. Lubang-lubang walet yang sebelumnya ada di bagian luar bangunan sudah ditutup.

"Yang di depan sudah ditutup pakai baliho supaya jelas kalau ini dapur SPPG. Sampingnya juga sudah ditutup pakai kalsiboard," jelasnya.

Reza menegaskan bahwa tidak ada keluhan dari warga terkait keberadaan dapur MBG. Ia bahkan meminta warga yang merasa keberatan untuk langsung menghubungi pihak SPPG, bukan melalui media.

"Tidak ada warga yang resah, karena memang tidak ada aktivitas walet di sini. Kalau memang ada yang resah, seharusnya sudah komplain langsung ke SPPG sejak kemarin. Suruh saja warga yang namanya dirahasiakan itu datang langsung komplain dan buktikan, jangan dibawa ke media," tegasnya.

Dapur MBG Bekas Sarang Burung Walet Mulai Aktif 6 Oktober

Baru-baru ini, diberitakan bahwa dapur MBG yang berada di dalam bangunan sarang burung walet telah dinyatakan memenuhi syarat untuk beroperasi. Rencananya, dapur ini akan mulai berfungsi pada tanggal 6 Oktober 2025, dengan tujuan menyediakan makanan bagi ribuan siswa di Kecamatan Suli.

"Belum terealisasi MBG-nya, tanggal 6 Oktober sepertinya baru mulai," ungkap Kabid SMP Pemkab Luwu, Andi Tenri, saat dihubungi pada Sabtu (27/9).

Namun, kekhawatiran muncul dari sejumlah orangtua siswa mengenai kebersihan makanan bergizi gratis yang akan dihasilkan dari dapur tersebut. Mereka merasa cemas, terutama karena hingga kini sarang burung walet di bangunan tersebut masih aktif. "Iya, masih aktif sarang waletnya karena masih terdengar suara pemanggil walet kalau sore. Kami orang tua tentu khawatir dengan kebersihan makanannya," kata salah seorang orangtua siswa yang memilih untuk tidak disebutkan namanya.

Ia juga merasa heran bagaimana sarang walet tersebut bisa lolos dari proses verifikasi untuk menjadi dapur MBG, terutama karena tidak ada renovasi total yang dilakukan pada bangunan itu. "Itu juga jadi pertanyaan, kenapa bisa sarang walet dijadikan dapur MBG. Semoga makanan yang dibuat nanti tidak sampai membuat anak-anak keracunan seperti yang sering diberitakan di televisi," harapnya.

Senada dengan itu, Muliati, orang tua siswa lainnya, juga menyampaikan keresahannya. Ia berharap agar proses produksi makanan di dapur tersebut benar-benar terjamin kebersihannya. "Selama bersih mungkin tidak masalah, tapi tetap saja itu kan sarang burung walet," ujarnya dengan nada khawatir.

Rekomendasi