Pemerintah Kabupaten Kepulauan Selayar menetapkan status tanggap darurat bencana pascagempa berkekuatan magnitudo 7,4 mengguncang Larantuka, Nusa Tenggara Timur (NTT). Jumlah rumah warga terdampak gempa bertambah berdasarkan pendataan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kepulauan Selayar.
Kepala BPBD Kepulauan Selayar, Ahmad Ansar mengatakan, gempa berkekuatan magnitudo 7,4 membuat dua kecamatan yakni Pasimarannu dan Pasilambena terdampak cukup parah. Berdasarkan data BPBD Kepulauan Selayar, setidaknya 3.353 kepala keluarga (KK) di Pasimarannu dan 2.158 KK di Pasilambena terkena dampak gempa.
"Jumlah pengungsi di Pasimarannu ada 3.900 jiwa yang tersebar di 17 titik pengungsian. Sementara di Pasilambena masih belum ada data riil-nya karena dua desa yaitu Garaupa dan Garaupa Raya masih belum didapatkan informasinya, tapi di sana ada 37 titik pengungsian," ujarnya kepada merdeka.com, Rabu (15/12).
Ansar mengungkapkan, jumlah warga luka bertambah satu orang sehingga total menjadi tujuh orang. Ia merinci tujuh korban luka yakni dua di Kecamatan Pasimarannu dan empat di Pasilambena.
"Total sampai saat ini tujuh orang luka. Dua di Pasimarannu dan lima di Pasilambena," bebernya.
Dari tujuh korban luka tersebut, kata Ansar, satu warga mengalami koma akibat tertimpa runtuhan saat terjadi gempa. Saat ini, korban atas nama Syarif Kamba sementara dalam perjalanan dirujuk ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Selayar.
"Di Pasilambena ada tiga luka ringan, satu luka berat yakni patah lengan. Satu lagi sementara dirujuk ke RSUD Selayar karena lagi koma usai tertimpa bangunan," tuturnya.
Sementara jumlah rumah rusak, Ansar menyebut jumlahnya bertambah menjadi 504 unit. Meski demikian, jumlah rumah rusak tersebut bisa bertambah karena belum masuk data dari Desa Garaupa dan Garaupa Raya.
"Data sementara 46 rusak berat di Pasilambena, tapi belum masuk data dari Garaupa dan Garaupa Raya. Kemudian untuk rusak berat di Pasimarannu 232 unit dan total keseluruhan 504," kata dia.
Ansar mengaku saat ini pihaknya sedang fokus untuk menyalurkan logistik ke dua kecamatan tersebut. Ia menyebut ada tiga cara untuk menyalurkan logistik ke daerah terdampak gempa.
"Pertama dengan menggunakan kapal kayu. Tapi kondisi wilayahnya (Pasimarannu dan Pasilambena) terjauh dan membutuhkan perjalanan 18 jam," ungkapnya.
Cara kedua, rencananya bantuan logistik akan disalurkan dengan menggunakan kapal milik TNI AL. Ketiga, penyaluran logistik menggunakan helikopter dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).
"Kemudian tadi kami dapat informasi dari BNPB, rencananya dia akan menggunakan helikopter ke Selayar untuk pengangkutan logistik supaya bisa ke sana," ucapnya.