Wapres Ma'ruf Sebut Literasi Wakaf Masyarakat Indonesia Berkategori Rendah

"Sebagian besar persepsi wakaf masyarakat Indonesia masih bersifat tradisional, wakaf hanya berorientasi pada aset seperti tanah, gedung dan lain-lain, sehingga wakaf hanya dilakukan oleh golongan orang tua dan kaum the haves (golongan berada)," ungkap Wapres.

Muhammad Genantan Saputra
Wapres Ma'ruf Sebut Literasi Wakaf Masyarakat Indonesia Berkategori Rendah
maruf amin bicara dengan menteri senior singapura. ©2021 Merdeka.com/setwapres

Wakil Presiden Ma'ruf Amin mendorong peningkatan literatasi wakaf kepada masyarakat. Sebab indeks literasi wakaf masyarakat Indonesia berada dalam kategori rendah.

"Perlunya peningkatan literasi wakaf kepada masyarakat. Indeks literasi wakaf (ILW) yang dirilis Kementerian Agama pada tahun 2020 menyebutkan bahwa literasi masyarakat Indonesia berada dalam kategori rendah," katanya dalam acara Riau Berwakaf, Jumat (13/8).

Menurutnya, rendahnya literasi masyarakat terhadap wakaf tidak hanya berdampak pada rendahnya realisasi wakaf. Namun dapat menyebabkan timbulnya persepsi yang keliru tentang wakaf.

"Sebagian besar persepsi wakaf masyarakat Indonesia masih bersifat tradisional, wakaf hanya berorientasi pada aset seperti tanah, gedung dan lain-lain, sehingga wakaf hanya dilakukan oleh golongan orang tua dan kaum the haves (golongan berada)," ungkapnya.

Selain itu, lanjut Ma'ruf, masyarakat juga perlu memahami bahwa wakaf bersumber dari masyarakat dan akan dimanfaatkan sebesar-besarnya bagi kesejahteraan masyarakat. Kata dia, pemerintah berperan untuk memfasilitasi, mendukung dan mendorong kemajuan pelaksanaan wakaf tersebut.

"Untuk itu perlu lebih gencar lagi memberikan sosialisasi dan edukasi terkait wakaf kepada seluruh kalangan masyarakat khususnya kepada generasi milenial," ujar Ma'ruf.

Lebih lanjut, ia mendorong perlunya pengelolaan wakaf dengan penggunaan teknologi. Ma'ruf bilang, pandemi Covid membuat kebiasaan beralih menjadi digital.

"Perlunya teknologi digital Untuk Pengelolaan wakaf , perkembangan teknologi 4.0 dan terjadinya pandemi Covid 19 telah memaksa kita semua untuk mengubah prilaku ataupun kebiasaan cara hidup kita dari semula secara manual atau tatap muka menjadi sistem digital atau secara online," pungkasnya.

Rekomendasi