Hadiri wisuda UIN Semarang, Menag cerita perjuangan Imam Bukhari

Hadiri wisuda UIN Semarang, Menag cerita perjuangan Imam Bukhari. Menag Lukman Hakim bercerita mengenai perjuangan Imam Bukhari mengumpulkan hadis, tujuannya agar masyarakat saat ini cermat dan teliti menyikapi berita hoax.

Parwito
Oleh Parwito- Reporter
Hadiri wisuda UIN Semarang, Menag cerita perjuangan Imam Bukhari
Menag hadiri acara wisuda di Kampus UIN Semarang. ©2017 merdeka.com/parwito

Saat berpidato di acara wisuda UIN Semarang, Menteri Agama (Menag) Lukman Hakim Saifuddin menceritakan kisah ahli hadis, Abu Abdullah Muhammad al-Bukhari atau akrab dikenal Imam Bukhari yang begitu selektifnya dalam mengumpulkan sabda Nabi Muhammad SAW. Sampai-sampai kesalahan sedikit pun terhadap perawi yang berkisah tentang nabi tidak digunakanya sebagai rujukan."Saya akan berbagi kisah, kisah nyata dialami Imam Bukhari, ahli hadis tokoh Islam ternama kita. Mungkin memiliki relevansi dengan bersliwernya berita-berita hoax. Imam Bukhari ahli hadis cermat dan teliti menjaga betul akan faliditas hadis Rasul," ungkap Lukman Hakim memulai ceritanya, Selasa (31/1).Lukman Hakim menyatakan bahwa Imam Bukhari tidak hanya menjaga konsistensi terhadap isi hadis, namun juga terhadap perawi yang dia susun."Maka dia tergolong ahli hadis dengan integritas dan kesalehannya. Suatu saat keluarkan kumpulan perawi terbaik. Kenapa dikeluarkan? Karena saya saksikan dia tidak jujur dengan dirinya sendiri. Apa bukti? Bukhari jelaskan, saya (Imam Bukhari) pernah lihat dalam rangka giring ternak masuk ke kandang iming-imingi makanan tetap dipegang dalam genggaman dan makanan tidak diberikan peternak sampai ternak masuk ke kandangnya," ucapnya. "Dia iming-imingi. Hal itu bagi Imam Bukhari yang bersangkutan tidak jujur dengan dirinya sendiri. Subhanallah. Sampai begitunya Imam Bukhari menjaga integritas para perawinya. Ini setidaknya kisah menginspirasi kita dalam sikapi arus informasi karena teknologi informasi yang luar biasa ini," ungkapnya.Lukman Hakim menilai, di balik cerita tentang Imam Bukhari itu, pentingnya memperkuat lembaga Islam, sebagai benteng terkait pemahaman Islam."Beberapa kali, kunjungan pejabat luar negeri ke Kementerian, saya bertukar pikiran, hampir semua berharap agar Indonesia dapat jadi contoh. Umat Islam jadi contoh. Indonesia lebih mampu dalam sumbangsih menata peradilan dunia yang saat ini kondisi semakin memerlukan bersama umat manusia di jagad ini," terangnya.Lukman Hakim mengimbau lembaga pendidikan Islam ikut berperan dalam upaya menghargai toleransi, menjaga kemajemukan dan tidak merasa paling benar."Kita tidak boleh menganggap remeh, antar umat beragama sangat mudah dibenturkan, saling membidahkan, saling mengkafirkan dalam hal bersifat khilafiyah dan ijtihad. Lembaga pendidikan harus ikut berperan untuk menghargai toleransi dan kemajemukan dan tidak merasa yang paling benar. Minggu lalu seluruh rektor se-Indonesia, saya minta ke depan tantangan kita tidak sederhana, saya meminta kita harus bangun pusat moderasi Islam. Kemenag ada niat besar usung moderasi agama. Di tengah kemajemukan dan kebhinnekaan, ini sunatullah," terangnya."Dunia, alam semesta, keragaman adalah sunatullah, agama dalam konteks Indonesia, nilai agama itulah selama ini sejak ratusan tahun lalu ikut kontribusi merajut, menjalin, merangkai kemajemukan luar biasa di hampir semua sektor. Agama berkembang Tanah Air adalah agama berpaham moderat. Tidak Islam, Kristen, Hindu, Buddha dan lain sebagainya. Sebagai PTN Islam negeri harus terdepan ikut arus utamakan dengan moderasi Islam," pungkasnya.

Rekomendasi