Pengungkapan laboratorium gelap pembuat sabu jenis blue ice di Kabupaten Pidie, Aceh, memaparkan cara kerja jaringan yang tersusun rapi. Kapolri Jenderal Suyudi Ario Seto menjelaskan bagaimana pabrik sabu Pidie itu memproses bahan baku hingga menjadi kristal siap edar, dengan kendali tenaga ahli kimia dan tahapan yang tertata.
"Proses yang mereka lakukan sangat sistematis, sangat terstruktur, dan menunjukkan bahwa jaringan ini dikendalikan oleh ahli kimia berpengalaman," ujar Suyudi dalam konferensi pers di Pidie, Jumat (23/10/2026).
Ia menerangkan, pengolahan dimulai dari tahap homogenisasi atau pencampuran bahan baku metamfetamin cair. Cairan tersebut sebelumnya disamarkan di dalam tong plastik bertuliskan Titan Pro untuk menyamarkan isinya.
"Selanjutnya, proses aerasi atau pemanasan, cairan tersebut dibuka agar terpapar udara (exposed to atmosphere), lalu larutan dimasukkan ke dalam panci/kaleng dan dipanaskan hingga mengental sebelum dituang ke dalam wadah cetakan tertentu," kata dia.
Begitu larutan mengental, adonan dibekukan. Tahap solidifikasi dilakukan dengan memasukkan ke freezer hingga membeku sempurna, lalu dikeluarkan dari mesin pendingin (demolding) untuk masuk ke proses berikutnya.
"Proses pencucian dan agitasi, untuk memisahkan zat-zat kimia tertentu, kristal beku dibalut menggunakan kain lalu dimasukkan ke dalam mesin cuci hingga terjadi proses pengadukan otomatis (stirring and washing)," ucap Suyudi.
Setelah melalui spin drying di mesin cuci, kristal dikeluarkan dan diangin-anginkan di atas lantai dengan bantuan paparan lampu serta kipas. Pengeringan berlanjut dengan penjemuran di alam terbuka (sun drying) hingga diperoleh padatan kering.
"Proses pengemasan akhir, kristal metamfetamin kering dimasukkan ke dalam kertas dan dibalut plastik untuk divakum tepat seberat 1 kilogram, dimasukkan ke dalam cetakan kayu, divakum kembali hingga padat, lalu dikemas ke dalam tas dan disimpan di ruang penyimpanan," papar dia.
"Pengungkapan laboratorium ini adalah pukulan telak bagi jaringan internasional sekaligus alarm keras untuk kita semua. TNI, Polri, segenap elemen pemerintah, beserta masyarakat harus senantiasa bergandengan tangan dan tidak boleh apatis dengan kondisi wilayah sekitar," terang Suyudi.
Kapolri juga mengimbau pemilik aset properti agar selektif saat menyewakan tempat usaha maupun hunian. "Hati-hati, saya berpesan terutama kepada pemilik ruko atau rumah kontrakan, harus betul-betul memastikan bahwa penyewa ruko atau rumah kita adalah orang-orang yang jelas dan dapat dipertanggungjawabkan. Pengungkapan clandestine laboratory ini menjadi pesan penting bahwa ancaman narkotika ada di sekitar kita," tutup Suyudi.
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9381174/original/041900500_1792760239-drum.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9381200/original/004995100_1792764426-144079.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9381195/original/088967100_1792763474-WhatsApp_Image_2026-10-23_at_19.36.37__3_.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5535764/original/046996300_1774110887-IMG-20260321-WA0246.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9381173/original/033178600_1792760239-aceh.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9381149/original/076127100_1792758018-144000.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9381172/original/000821200_1792759510-IMG_0459.jpeg)