Pertandingan antar atlet bela diri berujung duka dan kesedihan

Serangan lawan di ulu hati menyebabkan atlet meninggal dunia.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Pertandingan antar atlet bela diri berujung duka dan kesedihan
Ilustrasi seni bela diri tae kwon do. ©Shutterstock.com/Kzenon

Kalimat veni vidi vici atau dalam bahasa Indonesia berarti saya datang, saya melihat, dan saya menang, banyak dipakai atlet sebagai penyemangat dalam sebuah pertandingan.Tetapi akhir dari sebuah pertandingan tidak selalu manis. Seperti kasus-kasus berikut, laga berakhir dengan kematian salah satu peserta.I Gede Eka Artawan (18), pelajar SMA Pariwisata Saraswati, Semarapura, Bali sekaligus atlet silat meninggal dunia saat bertanding di kejuaraan Pekan Olahraga Seni Pelajar (Porsenijar) yang digelar di GOR Swecapura, Klungkung, Jumat (17/4). Artawan merupakan anak pertama dari delapan bersaudara.Artawan adalah atlet silat dari aliran Prisai. Dia meninggal dunia setelah pingsan kena tendang lawannya. Korban sempat dilarikan ke RS Klungkung namun tidak berhasil diselamatkan jiwanya.Ayah korban I Nyoman Jenda Astawa mengaku kehilangan atas kepergian putranya. Namun dia mengaku ikhlas. Almarhum Artawan dikenal cukup rajin membantu orangtuanya. Korban juga mempunyai cita-cita ingin melanjutkan sekolah kapal pesiar di Gianyar."Karena gugur saat menjalankan tugas sebagai atlet, korban adalah pahlawan olahraga. Di mana yang bersangkutan gugur dalam menjalankan tugasnya di ajang pertandingan yang penuh sportifitas," ujar Bupati Klungkung, Bali Nyoman Suwirta, Senin (20/4).Masih di Bali, atlet judo Kabupaten Bangli, Bali, Wayan Agus Widantara meninggal dunia setelah terkena jurus bantingan dari lawan, di pertandingan penyisihan Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Bali ke-12 di GOR Undiksha Singaraja.

"Atlet bersangkutan dinyatakan meninggal di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kabupaten Buleleng," kata Ketua Pelaksana Pertandingan, Agus Putra Adnyana kepada wartawan, Selasa (8/9).Kejadian nahas itu terjadi saat pertandingan hari ketiga. Wayan Agus Widyantara berhadapan dengan atlet tuan rumah Buleleng atas nama Gede Sandy Juniartha, di kelas berat 90-100 kilogram putra."Pada awalnya pertandingan berlangsung lancar dan sesuai dengan aturan yang berlaku pada cabang judo, sesuai dengan aturan Persatuan Judo Seluruh Indonesia (PJSI)," kata dia.Pertandingan diawali dengan Hajime. Kemudian pada saat kedua pejudo melakukan bantingan pada area pertandingan sisi kiri, lawan dari Wayan Agus membanting dengan teknik bantingan Kosi Guruma, berlanjut dengan bantingan di bawah."Pada bagian bergumul di bawah tidak ada hasil, maka wasit menghentikan pertandingan di detik ke-21, dan kedua pejudo kembali ke tengah pertandingan," ungkap dia.Ketika pertandingan dilanjutkan, wasit menghampiri dan menepuk bahu Wayan Agus tetapi tidak mendapatkan respons, sehingga wasit membaringkannya di lantai untuk memberikan perawatan medis."Petugas medis memberikan perawatan berupa bantuan oksigen tambahan, melakukan pengecekan detak jantung," imbuhnya.


Karena keadaan korban kritis, tim medis memberi petunjuk panitia pelaksana agar membawa Wayan Agus ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut."Dokter yang merawat menyatakan atlet tersebut meninggal dunia, di mana secara medis dinyatakan henti napas," imbuhnya.Tewasnya Agus menyisakan trauma bagi Sandi. Sandi yang masih harus berlaga di kelas 90-100 kg, seolah ingin menyerah untuk kembali turun. Kematian Agus, membuat dirinya terus merenung. Bahkan hingga hari ini, Sandi belum bisa ditemui.Ketua panitia penyelenggara Porprov Bali, Nyoman Artha Widnyana mengatakan kejadian tersebut disebabkan murni karena musibah."Pertandingan sudah sesuai dengan aturan yang berlaku dalam aturan pertandingan judo internasional," imbuhnya.Artha Widnyana menambahkan, pihaknya saat ini mengintensifkan penanganan atlet cidera ketika bertanding."Setiap hari kami menyiagakan 50 orang tim medis yang selalu siap memantau pertandingan," katanya.Kasus pesilat tewas saat bertanding juga terjadi di Madiun. Alfut Dinansyah anggota perguruan pencak silat Persaudaraan Setia Hati Terate tewas saat mengikuti ujian kenaikan tingkat.Kepala Satuan Reskrim Polres Madiun Kota, AKP Tatang Panjaitan mengatakan, peristiwa itu terjadi saat korban sedang bertarung dengan teman seperguruannya dalam ujian kenaikan tingkat. Pada babak pertama pertandingan berjalan lancar.Kemudian, pada babak berikutnya, tanpa disengaja, tendangan teman korban mengenai ulu hati korban. Akibatnya, warga Kelurahan Rejomulyo, Kecamatan Kartoharjo, Kota Madiun itu mundur perlahan-lahan dan setelah itu terjatuh.Pelatih dan para seniornya berupaya memberikan penanganan dengan memberi pijatan dan balsem. Karena tidak ada reaksi, korban lalu dibawa ke RSUD dr Soedono guna mendapatkan perawatan medis."Sesampai di UGD, oleh petugas medis Alfut dinyatakan sudah meninggal dunia," kata senior seperguruan korban, Bagus.Diduga, anak kedua dari pasangan Budi dan Sri itu mengalami luka dalam serius di bagian ulu hatinya. Akibatnya korban tidak dapat bernapas.Setelah menjalani pemeriksaan luar, jenazah siswa kelas 11 SMA Negeri 3 Kota Madiun itu langsung diserahkan ke keluarga guna dimakamkan.Ketua Persaudaraan Setia Hati Terate Ranting Kartoharjo, Supriyono mengatakan, setelah kejadian itu kegiatan ujian kenaikan tingkat langsung dihentikan."Kejadian seperti ini baru yang pertama kalinya. Biasanya sambung yang dilakukan tergolong aman dan tidak masalah. Kasus ini masih didalami lebih lanjut," ujar Supriyono.

Rekomendasi