Standar Keselamatan Jadi Syarat Otomotif RI Tembus Pasar Dunia

Indonesia bidik pasar otomotif dunia. Penerapan fitur keselamatan canggih dan standar global jadi syarat utama agar produk lokal bersaing.

Idris Rusadi Putra
Oleh Idris Rusadi Putra - Reporter
Standar Keselamatan Jadi Syarat Otomotif RI Tembus Pasar Dunia
Ekspor Mobil Toyota buatan Indonesia. (Dok. TMMIN)

 

Indonesia tak lagi ingin sekadar jadi pasar jualan kendaraan. Ambisi besar kini ditancapkan yaitu menjadi basis produksi utama, pemain rantai pasok global, sekaligus tujuan investasi otomotif dunia.

Wakil Menteri Perindustrian Faisol Riza dan Menperin Agus Gumiwang menegaskan optimismenya terhadap potensi ini. Namun, persaingan global tak lagi cuma soal berapa banyak unit yang diproduksi atau seberapa murah biayanya. Pertanyaan utamanya kini bergeser: seberapa canggih dan aman produk otomotif buatan Indonesia?

Ketua GIAMM sekaligus Dirut PT Astra Otoparts, Yusak Kristian, menekankan pentingnya menyelaraskan kemampuan manufaktur lokal dengan tren dunia. Saat ini, standar keselamatan kendaraan bergerak sangat cepat.

Pada mobil, fitur Advanced Driver Assistance Systems (ADAS) seperti Autonomous Emergency Braking (AEB) hingga blind spot detection mulai jadi tuntutan. Sementara pada sepeda motor, teknologi seperti ABS, Traction Control System(TCS), dan parking brake lock terus digenjot untuk memenuhi standar pasar ekspor.

Sistem kendaraan modern kini sangat bergantung pada perangkat lunak, sensor, dan otomatisasi. Ketua BPKN Mufti Mubarok mengingatkan bahwa perkembangan teknologi sering kali melaju lebih cepat dibanding regulasinya.

"Teknologi sering kali melaju jauh lebih cepat daripada regulasinya. Karena itu, kami mendorong penguatan standar keselamatan, pengujian berkala, sertifikasi, serta transparansi informasi agar perlindungan konsumen benar-benar terjamin," tegas Mufti.

 

Kolaborasi Teknologi dan Faktor Manusia

Meskipun fitur keselamatan makin pintar, peran pengemudi tetap memegang kendali. Ketua Subkomite Investigasi Kecelakaan LLAJ KNKT, Wisnu Hariadi, mengingatkan pentingnya pemahaman pengoperasian fitur oleh pengemudi.

"Bagaimanapun canggihnya teknologi kendaraan, jika human behavior-nya tidak teredukasi dengan baik, risiko bahaya tetap akan mengintai," kata Wisnu.

Namun, faktor manusia tetap rentan terhadap kelalaian. Di sinilah pendekatan Safe System dari WHO berlaku: teknologi hadir sebagai benteng pertahanan kedua untuk meminimalkan dampak saat terjadi kesalahan manusia (human error).

Anggota Komite Teknis ASEAN NCAP, Adrianto Sugiarto Wiyono, menyoroti masih adanya ketimpangan informasi (information asymmetry) antara produsen dan konsumen. Produsen memegang data pengujian lengkap, sementara konsumen kerap kesulitan membandingkan keunggulan fitur keselamatan antar-kendaraan.

Menurutnya, penilaian keselamatan kini tak boleh berhenti pada ada atau tidaknya fitur di brosur, melainkan seberapa efektif teknologi tersebut bekerja melindungi nyawa pengemudi saat situasi darurat terjadi.

 

 

 

Rekomendasi