Lauk Ini Diduga Jadi Pemicu 178 Dokter PPDS Keracunan di RSUD Dr Soetomo

Dugaan tersebut muncul setelah pihak rumah sakit menemukan perbedaan kondisi antara peserta mengonsumsi daging dan mereka tidak menyantap lauk tersebut.

Erwin yohanes
Oleh Erwin yohanes - Reporter
Lauk Ini Diduga Jadi Pemicu 178 Dokter PPDS Keracunan di RSUD Dr Soetomo
Direktur RSUD Dr Soetomo, Prof Dr Cita Rosita Sigit Prakoeswa merilis hasil penyelidikan sementara keracunan 178 PPDS. (merdeka.com/erwin yohanes).

Dugaan penyebab keracunan massal menimpa peserta Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (FK Unair) di RSUD Dr Soetomo Surabaya mulai mengerucut. Dari sejumlah makanan dalam nasi kotak dikonsumsi peserta, lauk daging rendang diduga menjadi salah satu pemicu.

Dugaan tersebut muncul setelah pihak rumah sakit menemukan perbedaan kondisi antara peserta mengonsumsi daging dan mereka tidak menyantap lauk tersebut. Peserta memilih menu vegetarian berupa telur dan sayuran dilaporkan tidak mengalami gejala keracunan.

Direktur RSUD Dr Soetomo, Prof Dr Cita Rosita Sigit Prakoeswa mengatakan, menu nasi kotak dalam kegiatan Pra-pendidikan (Pradik) PPDS antara lain terdiri dari telur rebus, sayuran, acar, dan daging rendang.

Menurut Cita, dugaan sementara terhadap rendang muncul berdasarkan laporan kondisi para peserta setelah menyantap makanan tersebut. Peserta tidak mengonsumsi daging disebut tetap dalam kondisi aman.

"Jadi kalau dari kawan-kawan yang vegetarian, yang makan telur dan sayur itu aman. Mungkin, mungkin tadi pengolahan dari, mungkin, tapi kita tentu tidak bisa memastikan sebelum ada hasil lab. Jadi itu hanya dugaan, iya," kata Cita, Selasa (29/9).

Direktur RSUD Dr Soetomo, Prof Dr Cita Rosita Sigit Prakoeswa merilis hasil penyelidikan sementara keracunan 178 PPDS. (merdeka.com/erwin yohanes).
Direktur RSUD Dr Soetomo, Prof Dr Cita Rosita Sigit Prakoeswa merilis hasil penyelidikan sementara keracunan 178 PPDS. (merdeka.com/erwin yohanes).

Meski dugaan mengarah pada lauk rendang, pihak rumah sakit belum menemukan laporan dari peserta menyebut daging tersebut memiliki aroma tidak sedap atau menunjukkan tanda-tanda basi ketika dimakan.

"Dari PPDS-nya enggak melaporkan [kondisi makanan saat kejadian], cuma teman-teman yang makan telur dan sayur kok aman gitu ya. Jadi kemungkinan," ujar dia.

Sementara itu, Kepala Bagian Pendidikan dan Pelatihan RSUD Dr Soetomo, dr Astindari menjelaskan munculnya keluhan kesehatan terjadi beberapa waktu setelah peserta menyantap nasi kotak.

Konsumsi untuk kegiatan Pradik tersebut tiba di Gedung Pusat Diagnostik Terpadu (GPDT) sekitar pukul 09.00 WIB setelah diantar dari FK Unair. Sekitar pukul 09.15 WIB, makanan dibawa ke lantai 7 GPDT yang menjadi lokasi kegiatan.

Selanjutnya, nasi kotak mulai ditata di meja dalam hall sekitar pukul 09.30 WIB. Makanan kemudian dibagikan kepada peserta sekitar pukul 11.30 WIB dan disantap saat waktu istirahat.

"Jadi untuk konsumsi nasi kotaknya itu datang jam 09.00 WIB ya diantar dari FK ke GPDT lantai 2. Kemudian jam 09.15 WIB dinaikkan ke GPDT lantai 7 tempat pelaksanaan," kata Astindari.

Menurut Astindari, keluhan kesehatan mulai dirasakan peserta dalam rentang waktu sekitar 30 menit hingga empat jam setelah makanan dikonsumsi.

"Dan gejala yang dialami PPDS, onset-nya itu mulai kurang lebih 30 menit sampai 4 jam setelah mengonsumsi makanan tersebut," ujar dia.

Kasus tersebut kemudian berkembang menjadi dugaan keracunan massal. Hingga Selasa (29/9), jumlah orang yang mengalami gejala setelah mengikuti kegiatan Pradik mencapai 178 orang.

Mereka terdiri dari peserta atau calon dokter spesialis dan sejumlah pegawai kebersihan RSUD Dr Soetomo.

Untuk memastikan sumber keracunan, pihak rumah sakit tidak hanya mengandalkan dugaan berdasarkan jenis makanan yang dikonsumsi. Sampel sisa makanan dari nasi kotak serta spesimen dari pasien telah dikirim untuk menjalani pemeriksaan laboratorium.

Pemeriksaan dilakukan di sejumlah lembaga, di antaranya Puslabfor Polda Jawa Timur, Laboratorium Kesehatan Masyarakat (Labkesmas), serta Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

Hasil pemeriksaan laboratorium nantinya menjadi dasar untuk memastikan makanan atau bahan tertentu yang menjadi penyebab munculnya gejala pada para peserta.

"Tapi tentu kita tidak bisa memastikan saat ini, menunggu hasil laboratorium," tutur Cita.

 

Rekomendasi