Surat kabar ini menyatakan dukung salah satu capres

Dukungan media ini sudah jamak terjadi di negara-negara penganut demokrasi yang menjamin kebebasan pers.

Laurencius Simanjuntak
Oleh Laurencius Simanjuntak - Reporter
Surat kabar ini menyatakan dukung salah satu capres
Jokowi-Prabowo. ©2014 merdeka.com/imam buhori

Dukungan media terhadap kandidat atau partai tertentu dalam pemilu selalu menyisakan perdebatan etis. Biasanya, terdapat dua kutub perdebatan: peran media sebagai pemimpin masyarakat (civic leader) dan objektivitas media.Pendapat pertama mengatakan, dukungan media terhadap salah satu kandidat atau partai penting untuk menggerakkan diskusi publik, yang terkadang apatis jelang pemilu. Padahal, pemilu sangat krusial untuk menentukan nasib bangsa ke depan. Penggerak diskursus publik ini adalah peran media sebagai pemimpin masyarakat.Sementara pendapat kedua beranggapan, dukungan media terhadap kandidat atau partai tertentu akan menimbulkan bias dalam pemberitaan. "Bagaimana media yang sudah mendukung kandidat atau partai tertentu bisa objektif dalam pemberitaan pemilu?" Kira-kira begitu alasan para pengkritik.Dukungan media ini sudah jamak terjadi di negara-negara penganut demokrasi yang menjamin kebebasan pers. Amerika Serikat misalnya. Di negara demokrasi tertua ini, dukung mendukung bahkan sudah menjadi tradisi di setiap pemilu.Di Indonesia, dukungan media terhadap kandidat atau partai ini mulai terjadi pada pemilu pasca-reformasi. Sama seperti di AS, dukungan media ini juga tidak lepas dari perdebatan etis yang jauh dari kata selesai.Berikut media-media yang resmi mendukung capres, baik di dalam maupun luar negeri:

The Jakarta Post

The Jakarta Post, harian bahasa Inggris terbesar di Indonesia, resmi mendukung pasangan Jokowi - JK dalam Pilpres 2014. Dukungan ini ditulis dalam tajuk rencana atau editorial, yang merupakan kolom kebijakan redaksi, Jakarta Post hari ini, Jumat (4/7).Dalam tajuknya, Jakarta Post menulis, sejak 31 tahun berdiri, pihaknya tidak pernah mendukung satu kandidat atau partai tertentu dalam pemilu. Namun, koran di bawah pimpinan Pemred Meidyatama Suryodiningrat tersebut kini menyatakan mendukung Jokowi - JK dengan alasan moral (moral choice)."Kami tidak mengharapkan dukungan kami akan memengaruhi suara," demikian tulis Jakarta Post.Jakarta Post menilai visi dan misi Jokowi - JK sesuai dengan nilai yang selama ini dijunjung mereka yakni, pluralisme, hak asasi manusia, masyarakat sipil dan reformasi."Satu kandidat menawarkan putus hubungan dengan masa lalu, sementara yang lain beromantis dengan era Soeharto," tulis Jakarta Post tentang Jokowi dan Prabowo.Catatan merdeka.com, sejak era reformasi, dukungan resmi media di Indonesia terhadap kandidat atau partai tertentu dalam pemilu, baru pertama kali dilakukan Jakarta Post.

The Economist

Setelah The Jakarta Post, koran berbahasa Inggris terbesar di Indonesia, kini The Economist, majalah mingguan asing berbasis di London, yang menyampaikan dukungannya pada pasangan Jokowi-JK.Pandangan The Economist terhadap pilpres di Indonesia sedianya baru terbit 5 Juli. Namun, lewat situsnya, hari ini Jumat (4/7), majalah yang berdiri sejak 1843 itu, sudah mem-posting tulisan yang berjudul 'Competing visions'."Dalam pandangan The Economist, Jokowi adalah pilihan yang tepat untuk Indonesia," tulis pimpinan redaksi majalah tersebut seperti dikutip merdeka.com dari economist.com.The Economist memaparkan Jokowi adalah tokoh yang menampilkan sesuatu yang baru untuk Indonesia. "Pria 53 tahun ini adalah generasi pertama setelah kejatuhan Soeharto pada 1990an yang mencapai panggung nasional."The Economist juga memaparkan, karier politik Jokowi mulai dari menjadi wali kota Solo, gubernur DKI Jakarta, sampai mencalonkan diri sebagai presiden."Munculnya Jokowi tidak terbayangkan tanpa adanya desentralisasi politik yang radikal, yang mungkin menjadi sukses utama dari perjalanan demokrasi Indonesia."Sebaliknya, The Economist menilai Prabowo Subianto sebagai sosok yang lebih hidup saat berkampanye ketimbang Jokowi yang tidak karismatik. "Namun, pria yang pernah menjadi menantu Soeharto ini adalah sebuah kemunduran ke arah masa lalu yang gelap."The Economist juga menyorot sisi gelap Prabowo saat menjadi Danjen Kopassus. "Sebagai mantan komandan pasukan khusus Indonesia yang terkenal buruknya, Prabowo punya cacat terkait tentang HAM, pertama di Timor Timur dan kemudian selama demo anti-Soeharto."The Economist berpandangan, baik Jokowi dan Prabowo menawarkan sebuah perbaikan dari pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). "Namun dalam pandangan surat kabar ini, perubahan nyata akan terwujud hanya bersama Jokowi."The Economist dikenal sebagai satu dari sedikit majalah prestisius di dunia. Majalah ini berkantor di London, Inggris, terbit pertama kali pada September 1843. Sirkulasinya di seluruh dunia setiap terbit mencapai 1,5 juta eksemplar.

The New York Times

The New York Times, koran harian yang diterbitkan di New York dan didistribusikan secara internasional ini, mendukung Barack Obama untuk masa jabatan kedua dalam Pilpres AS 2012. Dukungan ini ditulis oleh pemimpin redaksi koran beroplah 1,2 juta itu dalam editorial berjudul 'Barack Obama for Re-election' pada 27 Oktober 2012.Dalam editorial itu, 'The New York Times' menilai periode jabatan pertama Obama menorehkan sejumlah pencapaian yang impresif dan karenanya harus dilanjutkan. "Presiden Obama telah menunjukkan komitmen yang kuat untuk menjalankan pemerintahan untuk membantu mendorong pertumbuhan."The New York Times pertama kali diterbitkan pada 18 September 1851 oleh Henry Jarvis Raymond, seorang jurnalis dan politikus, dan George Jones, seorang bankir. Koran ini dimiliki oleh perusahaan The New York Times Company, yang juga menerbitkan 15 koran lainnya, antara lain International Herald Tribune dan Boston Globe. Koran ini dijuluki 'Gray Lady' karena gaya dan penampilannya, dan dianggap sebagai koran yang bisa diandalkan sebagai sumber referensi resmi untuk kejadian-kejadian terkini. Anggota stafnya telah berhasil memenangi lebih dari 100 Penghargaan Pulitzer, terbanyak dibandingkan dengan organisasi berita lainnya.

The New York Post

Berbeda dengan 'The New York Times' yang mendukung Barack Obama, koran satu kota 'The New York Post' memilih menyokong Mitt Romney dalam Pilpres AS 2012. Dukungan ditulis koran beroplah 500 ribu itu dalam editorial berjudul 'For America’s future, The Post endorses Mitt Romney for president' pada 25 Oktober 2012.Dalam tajuknya, pimpinan redaksi 'The New York Post' mengkritik kinerja Obama sebagai inkumben, terutama di bidang ekonomi. "Obama mengatakan ia diwarisi kekacauan, tapi dia tidak melakukan apa-apa untuk memperbaikinya," demikian tulis editorial koran tertua ke-13 di AS ini.Menurut The New York Post, persoalan fundamental yang belum selesai di tangan Obama adalah filsafat inti (core philosophy) dari seorang presiden. Romney, menurut mereka, memiliki filosofi yang cocok untuk memperbaiki AS. "Mitt Romney for president," demikian tutup editorial tersebut.

Rekomendasi