Menteri Sosial (Mensos) Saifullah Yusuf (Gus Ipul) mengukuhkan puluhan Wali Asuh dan Wali Asrama Sekolah Rakyat se-Sulawesi Selatan di Balai Besar Pendidikan dan Pelatihan Kesejahteraan Sosial (BBPPKS) Makassar, Jumat (25/9). Gus Ipul berharap untuk tahun kedua pelaksanaan Sekolah Rakyat tidak ada lagi guru, wali asuh, dan wali asrama yang mengundurkan.
Gus Ipul menjelaskan tahun 2026, setidaknya sudah ada 7 ribu orang lulus seleksi menjadi Wali Asuh dan Wali Asrama Sekolah Rakyat. Meski demikian, Gus Ipul mengaku jumlah tersebut masih kurang.
"Lebih dari 7 ribu sudah ditetapkan lolos seleksi, baik itu untuk untuk guru, wali asrama, wali asuh, dan juga tenaga kependidikan yang lain. Masih kurang, tetapi setidaknya sekarang di setiap sekolah (rakyat) sudah ada wali asuh dan wali asrama," ujar Gus Ipul kepada wartawan usai menghadiri penguatan wali asuh serta wali asrama se-Sulawesi.
Karena masih kurang, Gus Ipul menjelaskan saat ini satu wali asuh menangani 10 siswa Sekolah Rakyat. Sementara itu, untuk Wali Asrama satu orang menangani 25 siswa.
"Jadi perbandingannya Wali Asuh itu 1 banding 10. Sementara Wali Asrama 1 banding 25," tutur dia.
Kementerian Sosial akan terus menambah jumlah Wali Asuh dan Wali Asrama secara bertahap. Gus Ipul menyebut 7 ribu Wali Asuh dan Wali Asrama diberikan pelatihan agar bisa bertugas dengan baik.
"Kita tentu memberikan pelatihan kepada seluruh tenaga pendidik di sana, baik kepala sekolah, guru, tenaga administrasi. Nah sekarang wali asrama dan wali asuh. Supaya mereka bisa bertugas dengan baik, mengerti tugas-tugasnya, mengerti pola pengasuhan di boarding school, apa yang harus mereka kerjakan," ujar dia.
Gus Ipul berharap untuk tahun kedua pelaksanaan program Sekolah Rakyat, tidak ada wali asuh dan wali asrama yang mengundurkan diri. Pasalnya, sejak awal telah diminta komitmennya jika lulus seleksi sebagai Wali Asuh dan Wali Asrama.
"Kita beritahu dari awal, bahwa kalau nanti misalnya lolos seleksi, ya mereka mengandatangani beberapa komitmen untuk siap ditempatkan dimanapun dan seterusnya itu. Jadi tentu diharapkan tidak ada yang mundur karena sebelum mereka mengikuti proses seleksi sudah tahu konsekuensi," kata Gus Ipul.
Jika nantinya masih ada guru, wali asuh, dan wali asrama yang mengundurkan, Gus Ipul mengaku prihatin. Baginya, mundur sudah mencederai komitmen di awal.
"Maka saya terus terang prihatin kalau ada yang mundur itu, karena sebelumnya dia sudah komitmen gitu ya," ucap Gus Ipul.
Mantan Wakil Gubernur Jawa Timur ini berharap wali asuh dan wali asrama Sekolah Rakyat se-Sulawesi untuk menjadi garda terdepan dalam upaya pencegahan perundungan dan kekerasan seksual.
“Kalau bullying dan kekerasan seksual, ya kepada guru dan kepada wali asrama serta wali asuh utamanya. Mereka yang harus benar-benar bisa melakukan upaya-upaya pencegahan,” ujar Gus Ipul.
Buku pedoman pencegahan disebut sudah tersedia dan kini diperkuat dengan pelatihan-pelatihan. Harapannya, para wali asuh dan wali asrama mampu memahami tugas, pola pengasuhan di boarding school, serta memiliki integritas dan tanggung jawab.
Advertisement