Pameran seni mengenang Tirto Adhi Soerjo digelar di Yogyakarta

Sekitar 14 karya seni, baik lukis ataupun instalasi dari 12 seniman ikut dalam pameran yang digelar hingga Senin besok.

Kresna
Oleh Kresna - Reporter
Pameran seni mengenang Tirto Adhi Soerjo digelar di Yogyakarta
Tirto Adhie Soerjo. ©2013 Merdeka.com

Sebagai bapak pers Indonesia, sosok Raden Mas Djokomono Tirto Adi Soerjo belum banyak dikenal baik. Berangkat dari gagasan tersebut sekelompok seniman yang tergabung dalam komunitas Rangka Tulang menggelar pameran bersama 'Tinta Perlawanan' untuk mengenang sosok Tirto Adi Soerjo sang Pemula.Ide terselenggaranya pameran ini menurut salah satu panitia yang juga seniman, Adnan Cempe Aditya berangkat dari keingintahuan dia dan teman-temannya di Komunitas Rangka Tulang tentang sosok Tirto."Awalnya kita baru baca buku tetralogi pulau buru-nya pram, lalu diskusi-diskusi, setelah itu diberitahu teman kalau sosok Minke dalam tetralogi itu gambaran Tirto Adi Soerjo. Lalu ada satu teman yang pinjamkan buku sang pemula, dari situ gagasan bermulai," ujar Adnan, saat ditemui di tempat pameran di De Kongkow Kafe, Yogyakarta, Sabtu (21/12) malam.Setelah mendapat banyak informasi dan membaca beberapa buku tentang Tirto, Cempe dan teman-temannya akhirnya berinisiatif untuk menginterpretasikan sosok Tirto dan perjuangannya lewat seni."Sebelum membuat pameran ini berdiskusi dengan teman-teman Gerakan Literasi Indonesia, di situ tercetus untuk membuat pameran estafet dengan tajuk sang pemula, yang pertama kami kenal adalah Tirto, jadi Tirto yang kami angkat sekaligus mengenang hari kematian Tirto yang jatuh pada bulan Desember," urai Adnan.Sekitar 14 karya seni, baik lukis ataupun instalasi dari 12 seniman ikut dalam pameran ini. Beberapa di antaranya menginterpretasikan sosok Tirto dalam perjuangannya melawan kolonialisme. Seperti karya Adnan sendiri yang menggambarkan fragmen aktivitas Tirto bersama kaum mardika, buruh dan upayanya membuat pers pertama di nusantara."Saya ingin menggambarkan fragmen kenangan dari seorang Tirto yang pada masa itu berani melakukan perlawanan terhadap kolonialisme lewat aktivitas dan pers," urainya.Menurut salah satu kurator, Nanda, upaya interpretasi para seniman dalam lukisan dan seni instalasi ini perlu mendapat apresiasi. Pasalnya karya-karya yang dilahirkan dari interpretasi sosok Tirto tidak hanya sebatas romantisme perjuangan, tapi juga menggugah kesadaran.Salah satunya karya Vina salah satu perupa dari komunitas Rangka Tulang yang menggambar sebuah pisau dengan latar belakang koran-koran dan kutipan kata-kata Tirto Adi Soerjo."Karya Vina ini bukan sekedar semata-mata kenangan tentang sosok Tirto, tapi menegaskan bahwa pers lewat tulisan mampu lebih tajam dari pisau atau senjata yang lainnya," jelas Nanda.Menurut Nanda keunikan dari karya-karya dalam pameran ini karena diangkat dari sebuah interpretasi sejarah pergerakan anti-kolonialisme. Bukan saja terpaku pada sosok Tirto sebagai tokoh, tapi melihat sebuah sejarah dalam karya seni."Sosok Tirto yang bunuh diri kelas, orang pribumi yang pertama kali memberikan bantuan hukum bagi pribumi. Bukan sekedar itu saja yang digambarkan dalam karya-karya di pameran ini, tapi secara global sejarah perlawanan terhadap kolonialisme," pungkasnya.Pameran tinta perlawanan ini berlangsung tiga hari hingga hari Senin (23/12). Selain pameran akan digelar juga diskusi mengenang sosok sang Pemula Tirto Adi Soerjo.

Rekomendasi