Sejak awal Ramadan, kota Jakarta penuh dengan penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS). Baik itu gelandangan pengemis atau biasa disebut gepeng maupun 'manusia gerobak' dan juga orang sakit jiwa. Namun apapun jenisnya, PMKS ini perlu perlakuan khusus mengingat masyarakat mulai terganggu dengan fenomena ini.Kepala Dinas Sosial Pemerintah Provinsi Daerah Kota Istimewa Jakarta Kian Kelana mengatakan, berbagai upaya telah dilakukan jajarannya untuk mengatasi permasalahan yang sudah menjadi rutin harus dihadapi. Dari catatan dia, tahun ini ada 550 PMKS yang berhasil terjaring dalam razia, 200 orang sudah dipulangkan ke daerah asal."Sampai saat ini belum ada peningkatan, mulai dari 1 Ramadan ada 550 orang dan sudah dipulangkan 200," kata Kian kepada merdeka.com. PMKS itu kata dia berasal dari daerah Jawa Barat, Jawa Tengah dan Lampung.Mengenai fenomena 'manusia gerobak' yang menjamur saat Ramadan setiap tahunnya, dia menjelaskan bahwa untuk upaya pencegahan seperti penertiban 'manusia gerobak' tidak ditangani langsung oleh Dinas Sosial melainkan dibawahi Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP)."Tapi kalau Satpol PP menangkap, orangnya itu diserahkan ke Dinas Sosial, kita yang menangani orangnya," ujarnya. Dia beralasan tidak menangani 'manusia gerobak' karena membawa barang dan sudah ada Perda yang mengatur jika manusia gerobak ditangani oleh Satpol PP. "Itu di luar jangkauan, kalau pengemis itu bagian dari kita," katanya.Meski 'manusia gerobak' hanya fenomena kecil yang kerap ada di Jakarta, namun tidaklah bagi pengemis. Tiap tahun pengemis yang datang ke Jakarta jumlahnya terus bertambah. Arist Merdeka Sirait, Ketua Komisi Pelindungan Anak Indonesia mengatakan, menurut perkiraan dia jumlah pengemis tahun ini jumlahnya akan bertambah. Arist memprediksi, sekitar empat ribu pengemis akan mengeruduk Jakarta hingga dua pekan setelah hari raya Idhul Fitri."Kalau melihat kenaikan BBM saat ini jumlahnya akan naik, ada 25 titik di Jakarta yang dijadikan lokasi untuk mengemis," kata Arist akhir Juni lalu.Menariknya, para pengemis ini mampu mengontrak rumah seharga Rp 25 juta yang dijadikan mereka sebagai tempat beristirahat. "Karena pendapatan mereka cukup untuk membayar itu," ujarnya.Dari penelusuran merdeka.com, fenomena pengemis jalanan ini kerap terlihat di perempatan lampu merah di Jalan Fatmawati Raya, Cilandak, Jakarta Selatan. Para pengemis yang kebanyakan anak-anak dibawah umur itu beroperasi hingga malam hari meminta belas kasian pengguna jalan.Kian Kelana saat dikonfirmasi terkait masih banyaknya pengemis di jalan itu mengatakan, pihaknya saban hari melakukan razia terhadap PMKS hingga pukul 9 malam. Dia juga mengklaim telah menaruh petugas di tempat tersebut. Namun berdasarkan pengamatan merdeka.com, tidak ada petugas berbaju biru yang disebut menunggu tempat tersebut."Kita sudah tempatkan petugas berbaju biru, kalau tidak ada anda lapor ke saya," katanya.Kepala Satpol PP Pemprov DKI Jakarta, Kukuh Hadi Santoso saat dikonfirmasi melalui sambungan telepon mengenai pernyataan Kian Kelana yang mengatakan manusia gerobak ditangani Satpol PP tidak kunjung mengangkat selulernya. Pesan singkat yang dikirim juga belum direspons.
Fenomena 'manusia gerobak' tak ditangani Dinas Sosial
Para pengemis mampu mengontrak rumah seharga Rp 25 juta yang dijadikan mereka sebagai tempat beristirahat.
Advertisement
Rekomendasi