Prabowo Ingatkan Teknologi Bisa Gantikan Ribuan Pekerja, Indonesia Harus Siap Mental
Prabowo mengakui tantangan terjadi ketika masyarakat lebih memilih pekerjaan di kota besar yang nyaman. Padahal, peluang besar justru terbuka di desa-desa.
Presiden Prabowo Subianto menyatakan keyakinannya bahwa Indonesia akan mengalami peningkatan signifikan dalam penciptaan lapangan kerja dalam waktu dekat. Proyek hilirisasi di berbagai sektor dinilai akan membuka peluang bagi jutaan tenaga kerja.
"Kita mau bikin hilirisasi di bidang perkebunan, kelautan, perikanan dan sebagainya. Itu kurang lebih bisa ciptakan 8 jutaan kerja," kata Prabowo di Hambalang, Bogor, Minggu (6/4).
Selain itu, pengembangan koperasi desa juga berpotensi menyerap jutaan pekerja. Ia menyebut setidaknya ada 1,6 juta pekerjaan yang bisa tercipta dari sektor tersebut, sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani.
“Belasan juta petani penghasilan dia akan naik. Kita yakini akan naik,” kata Prabowo.
Namun, ia mengakui tantangan terjadi ketika masyarakat lebih memilih pekerjaan di kota besar yang nyaman. Padahal, peluang besar justru terbuka di desa-desa.
“Kalau mau kerja di kota besar, ruangan AC mungkin terbatas. Sarjana pintar pun mau saya kirim ke desa,” tegasnya.
Menurut Prabowo, para lulusan sarjana bisa menjadi manajer koperasi, penggerak masyarakat, hingga pembina ekonomi desa. Ia berharap pertumbuhan ekonomi bisa dimulai dari bawah.
“Anda jadi penggerak, guru, motivator. Ini yang saya harapkan,” ujarnya.
Dengan peningkatan pendapatan masyarakat desa, daya beli juga ikut naik. Hal ini akan menguatkan pasar domestik sekaligus memperkuat industri nasional.
“Penghasilan naik, konsumsi naik, pasar kuat. Industri kita kuat,” ucapnya.
Ancaman Robotik
Prabowo juga menekankan perlunya keberpihakan pemerintah dalam menghadapi tantangan teknologi dan efisiensi. Ia menyoroti pengaruh robotik dan kecerdasan buatan dalam mengurangi kebutuhan tenaga kerja.
“Pabrik yang tadinya 5.000 orang, sekarang dijalankan 15 orang. Ini keputusan politik, tapi kita harus punya keberpihakan,” tegasnya.
Ia mencontohkan efisiensi birokrasi yang mulai diterapkan negara-negara lain seperti Uni Emirat Arab. Di sana, kementerian bisa berjalan hanya dengan 300 pegawai, jauh lebih ramping dibanding Indonesia.
“Kementerian Pertahanan yang saya pimpin 5.000 orang, tapi waktu COVID yang masuk hanya 1.000 orang, yang masuk hanya 1.000 orang. Jadi berarti 1.000 orang cukup berarti iya kan?” katanya.
Industri Padat Karya
Meski demikian, Prabowo menilai Indonesia masih memiliki banyak potensi industri padat karya. Salah satunya adalah sektor perikanan budidaya atau aqua farming.
“Tahun ini kita mulai 20.000 hektare di pantai utara. Minimal menimbulkan 40.000 pekerjaan langsung,” ungkapnya.
Tak hanya itu, rencana pembangunan 1.000 kapal tangkap ikan dalam tiga tahun ke depan juga akan membuka peluang kerja besar. Tiap kapal akan mempekerjakan sekitar 20 orang.
“Itu bisa 20.000 orang. Dengan sistem shift, bisa 40.000 orang,” jelasnya.
Proyek tersebut juga akan menciptakan ekosistem industri lain seperti pelabuhan, cold storage, pengolahan, hingga pengalengan. Ini akan berdampak luas pada ekonomi dan gizi masyarakat.
“Ini lapangan kerja lagi, devisa lagi, protein untuk anak-anak kita,” pungkas Prabowo.
Namun, ia mengingatkan bahwa disrupsi teknologi tetap harus diwaspadai. Pemerintah dituntut mengambil keputusan strategis agar kemajuan teknologi tetap menciptakan kesejahteraan.