Warga Muhammadiyah di Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng) telah melaksanakan Shalat Idul Fitri 1447 Hijriah dengan penuh khidmat. Pelaksanaan ibadah ini tersebar di 56 lokasi berbeda di berbagai kabupaten dan kota di provinsi tersebut, menunjukkan jangkauan luas organisasi ini di wilayah Kalteng.
Shalat Idul Fitri ini dilaksanakan mendahului penetapan pemerintah, sejalan dengan inisiatif Muhammadiyah untuk menerapkan Kalender Hijriah Global Tugas (KHGT). Kalender ini dicanangkan pada bulan Juni tahun 2025 di hadapan perwakilan negara dan organisasi Islam dunia, dengan harapan dapat menyatukan penanggalan umat Islam secara global.
Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Kalimantan Tengah, Ahmad Syar'i, memimpin Shalat Idul Fitri sekaligus menyampaikan khutbah di Kampus II Universitas Muhammadiyah Palangka Raya (UMPR). Dalam khutbahnya, ia mengangkat tema "Ramadhan, Al Quran dan Ilmu pengetahuan", menekankan pentingnya kajian mendalam terhadap Al-Quran.
Advertisement
Advertisement
Penerapan Kalender Hijriah Global Tugas (KHGT)
Muhammadiyah telah mencanangkan dan mulai menerapkan Kalender Hijriah Global Tugas (KHGT) sejak Juni 2025, bertujuan menyatukan penanggalan bagi negara-negara dan umat Islam dunia. Inisiatif ini diharapkan dapat mewujudkan sistem penanggalan yang seragam, di mana hari dan tanggalnya sama, hanya berbeda pada jamnya, mirip dengan penanggalan Masehi.
Langkah besar ini didahului dengan ijtihad, penelitian, pengkajian, serta penelaahan mendalam terhadap sejumlah ayat Al-Quran dan hadis nabi. Proses ini juga dihubungkan dengan fenomena astronomi, menunjukkan pendekatan ilmiah dan keagamaan yang komprehensif dalam penentuan kalender.
Penerapan KHGT merupakan bagian dari visi Muhammadiyah untuk menjadi organisasi Islam berkemajuan. Hal ini mencerminkan komitmen terhadap inovasi dan upaya menyatukan umat melalui penanggalan yang terstandardisasi secara global.
Advertisement
Advertisement
Sebaran Lokasi Shalat Idul Fitri Muhammadiyah di Kalteng
Pelaksanaan Shalat Idul Fitri oleh warga Muhammadiyah di Kalteng tersebar di 56 lokasi strategis di berbagai kabupaten dan kota. Kampus II UMPR di Palangka Raya menjadi salah satu lokasi utama, yang pelaksanaannya mendahului sehari dibandingkan dengan yang ditetapkan pemerintah.
Berikut adalah sebaran lokasi Shalat Idul Fitri Muhammadiyah di Kalteng:
- Kota Palangka Raya: Beberapa lokasi, termasuk Kampus II UMPR.
- Kabupaten Pulang Pisau: Tiga lokasi.
- Kabupaten Barito Timur: Tiga lokasi.
- Kabupaten Barito Selatan: Tiga lokasi.
- Kabupaten Kapuas: Lima lokasi.
- Kabupaten Kotawaringin Barat: Lima lokasi.
- Kabupaten Katingan: Enam lokasi.
- Kabupaten Murung Raya: Dua lokasi.
- Kabupaten Kotawaringin Timur: Dua belas lokasi.
- Kabupaten Barito Utara: Satu lokasi.
- Kabupaten Sukamara: Satu lokasi.
- Kabupaten Lamandau: Satu lokasi.
Advertisement
Distribusi lokasi yang luas ini menunjukkan persiapan matang dan dukungan kuat dari komunitas Muhammadiyah di seluruh Kalteng.
Advertisement
Muhammadiyah dan Spirit Islam Berkemajuan
Dalam khutbahnya, Ahmad Syar'i menekankan bahwa umat manusia, khususnya umat Islam, diperintahkan untuk membaca, mendalami, mengkaji, dan mengimplementasikan nilai-nilai serta kandungan Al-Quran. Al-Quran bukan sekadar bacaan rutin, melainkan petunjuk jalan menuju kesejahteraan, kebahagiaan, dan keselamatan dunia akhirat.
Al-Quran juga berfungsi sebagai obyek kajian dan sumber ilmu pengetahuan, serta pendorong untuk mengkaji fenomena empirik dan berbagai peristiwa alam. Hal ini menginspirasi umat manusia untuk menemukan ilmu pengetahuan dan teknologi demi memenuhi kebutuhan kehidupan.
Muhammadiyah memposisikan diri sebagai organisasi Islam berkemajuan yang mendasarkan diri pada Islam sebagai agama berkemajuan. Posisi ini ditandai dengan konsistensi dalam ijtihad yang harus terus terbuka, serta kajian Al-Quran dengan pendekatan Qauniyah yang dihubungkan dengan fenomena empirik dan kekayaan alam Indonesia.
Advertisement
Advertisement
Inovasi dalam Penentuan Waktu Shalat Subuh
Sebagai bagian dari ijtihad dan penelitian berkelanjutan, Muhammadiyah telah melakukan penelitian ulang terhadap sejumlah dalil naqli dan eksperimen. Penelitian ini melibatkan para ahli dan didukung oleh perguruan tinggi Muhammadiyah (PTM) selama bertahun-tahun.
Hasil penelitian tersebut menemukan bahwa waktu masuknya shalat Subuh yang diterapkan selama ini ternyata terlalu cepat atau pagi. Oleh karena itu, Muhammadiyah memutuskan untuk mengundurkan waktu shalat Subuh selama delapan menit, dan penemuan ini sudah diterapkan sejak beberapa tahun lalu.
Penemuan ini memang belum bisa diterima oleh semua pihak dan bahkan mendapat penentangan, namun Muhammadiyah menyikapinya secara arif dan bijak. Perbedaan ini dianggap sebagai ketentuan Allah yang seharusnya menyatukan umat, bukan memecah belah.
Advertisement
Sumber: AntaraNews