Megawati Sindir Tugas Polisi: Fungsinya Itu Ngayomi Rakyat
Menurut dia, masyarakat seharusnya tidak perlu takut, terlebih yang disampaikan adalah kebenaran.
Ketua Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) sekaligus Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri, menyoroti sikap masyarakat yang kerap takut menyuarakan pendapat, terutama jika menyangkut polisi.
Menurut dia, masyarakat seharusnya tidak perlu takut, terlebih yang disampaikan adalah kebenaran. Bahkan, ia menegaskan kesiapannya untuk berhadapan langsung dengan polisi jika ucapannya dianggap menyinggung.
“Jadi kalau misalnya ada polisi di sini, suruh masuk lah sini. Terus apa? Mau nangkap saya? Ya, silakan. Saya kan bilang, kamu kan yang misahkan saya loh, lah jangan. Kenapa saya menyinggung polisi? Karena saya berkeinginan juga polisi itu mengayomi rakyatnya,” ungkap Megawati dalam acara peluncuran Buku ‘Naskah Sumber Arsip Dasar Negara Volume I: Masa Sidang Pertama BPUPK 29 Mei-1 Juni 1945’ dan Peresmian Serambi Pancasila di Gedung Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI), Jalan Gajah Mada, Jakarta Barat, Senin (11/8).
Setiap institusi negara, lanjut dia, memiliki fungsi jelas yang harus dijalankan secara optimal. Dia mengingatkan, perbedaan tugas antara TNI dan Polisi. TNI fokus pada pertahanan dan keamanan. Sedangkan Polisi fokus pada pengayoman dan perlindungan rakyat.
“Lah polisi, saya mikir ini mau jadi apa toh ya. Orang dia tuh ada kok fungsinya, ngayomi rakyat, membela rakyat,” ucapnya.
Megawati mengkritik bahwa fungsi itu kini tidak sepenuhnya berjalan sebagaimana mestinya. Dia mengaku kesal dengan aparat keamanan yang saat ini tidak menjalankan tugas sesuai fungsinya.
“Bukan sekarang meleyot, meleyot, meleyot. Ya saya jengkel dong. Jengkel banget loh. Ini Indonesia mau dijadikan apa?” ujar Megawati.
Megawati menegaskan Pancasila, khususnya sila kedua yakni kemanusiaan yang adil dan beradab, harus menjadi pegangan aparat.
Ia menyoroti kasus-kasus di mana anggota TNI atau polisi meninggal atau diperlakukan tidak adil, namun jarang ada penegakan tanggung jawab yang jelas dari para jenderal atau pimpinan.
“Kalau saya lihat di tentara, di polisi, enggak ada rasanya jenderal yang kena kalau anak buah dibegitukan. Yang meninggal lah, begini lah, begitu lah,” kata dia.
Megawati menilai, Pancasila tidak boleh berhenti di hafalan teks. Ia mengajak seluruh elemen negara untuk memasukkan nilai-nilai Pancasila ke dalam hati dan tindakan nyata.
“Ngapalin jangan cuma ngapalin saja. Masukkan ke sini (pikiran) dan masukkan ke sini (hati). Kalau tidak ada Pancasila, bagaimana kita ini?” ujarnya.
Awal mula Megawati berbicara seperti itu saat dia mengutip pandangan Presiden ke-1 RI, Soekarno tentang pentingnya kekuatan partai politik sebagai tiang negara. Ia menyinggung sejarah politik ayahandanya yang pernah dijatuhi TAP MPRS dengan tuduhan berkhianat.
Bagi Megawati, tuduhan tersebut tak masuk akal karena saat itu Bung Karno adalah Presiden seumur hidup. Ia pun bertanya kepada hadirin yang hadir apakah tuduhan itu masuk akal, namun para tamu undangan tak memberikan jawaban lantang.
“Masa ngomong gitu aja takut? Takut sama polisi?,” kata Megawati.