Kisah Persahabatan Prabowo-Raja Abdullah II Terjalin Lebih dari Tiga Dekade, Berawal di Barak Militer AS
Presiden Prabowo Subianto dan Raja Abdullah II dari Yordania jalin persahabatan yang kuat sejak pendidikan militer di AS, kini berlanjut dalam isu kemanusiaan.
Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, dan Raja Abdullah II dari Yordania, memiliki hubungan persahabatan yang telah terjalin selama lebih dari tiga dekade. Persahabatan ini dimulai pada tahun 1980-an ketika keduanya mengikuti pendidikan militer di Fort Benning, Amerika Serikat. Pada saat itu, Prabowo menjabat sebagai perwira muda Indonesia, sementara Raja Abdullah II adalah pangeran militer Yordania. Keduanya terikat oleh nilai-nilai militer yang sama, termasuk kedisiplinan, keberanian, dan loyalitas.
Hubungan erat antara kedua pemimpin ini terlihat jelas saat Raja Abdullah II menyambut Prabowo dengan hangat dalam kunjungan kenegaraan ke Yordania pada 13 April 2025. Raja Abdullah II tidak hanya menjemput Prabowo di Bandara Militer Marka, Amman, tetapi juga mengemudikan mobil yang membawa Prabowo ke hotelnya. Tindakan ini menunjukkan kedekatan personal yang luar biasa, melampaui sekadar hubungan diplomatik.
Persahabatan mereka bukan hanya sekadar hubungan pribadi, tetapi juga menjadi landasan penting dalam hubungan bilateral antara Indonesia dan Yordania. Kerja sama strategis di bidang kemanusiaan dan keamanan global semakin diperkuat oleh kedekatan ini. Bahkan, pada masa sulit Prabowo setelah pensiun dari militer, Raja Abdullah II menawarkan bantuan dengan mengundangnya tinggal sementara di Amman.
Kunjungan Kenegaraan dan KTT Gaza
Kunjungan Prabowo ke Yordania bertepatan dengan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) bertajuk ‘Call for Action: Urgent Humanitarian Response for Gaza’, yang diselenggarakan atas inisiatif Raja Abdullah II. Dalam forum tersebut, Prabowo menjadi satu-satunya kepala negara dari Asia yang hadir langsung, menegaskan posisi Indonesia dalam isu Palestina. Dalam sesi bilateral, keduanya membahas langkah konkret untuk membantu rakyat Gaza, termasuk kemungkinan pengiriman bantuan kemanusiaan lewat jalur udara serta dukungan terhadap rumah sakit lapangan.
Prabowo menegaskan, "Raja Abdullah dan saya memiliki keprihatinan yang sama terhadap situasi di Gaza. Kami sepakat bahwa upaya kemanusiaan harus diprioritaskan tanpa ditunda." Pernyataan ini menunjukkan kesamaan pandangan dan komitmen kedua pemimpin dalam menghadapi isu kemanusiaan yang mendesak.
Raja Abdullah II juga merupakan salah satu pemimpin dunia pertama yang mengucapkan selamat kepada Prabowo atas kemenangannya dalam Pemilihan Presiden 2024. Ini menunjukkan betapa kuatnya hubungan mereka, yang telah terjalin sejak lama.
Sejarah Persahabatan yang Kuat
Persahabatan Prabowo dan Raja Abdullah II bermula dari pelatihan militer di Fort Benning, yang dikenal sebagai lembaga pendidikan militer terkemuka di Amerika Serikat. Pada tahun 1980-an, keduanya menjalani pelatihan yang menggembleng mereka menjadi pemimpin militer. Dalam sebuah wawancara, Prabowo menyatakan bahwa hubungan mereka tumbuh secara natural melalui kedekatan dalam latihan dan nilai-nilai militer yang sama.
"Raja Abdullah II adalah seorang prajurit sejati, seorang teman yang saya hormati sejak muda," ungkap Prabowo dalam wawancara yang dilakukan pada tahun 2019. Seiring berjalannya waktu, mereka berdua menapaki jalur kepemimpinan nasional masing-masing dan tetap menjaga komunikasi yang baik.
Pada tahun 1995, keduanya bertemu lagi di Jakarta, namun pertemuan tersebut batal dilakukan. Meskipun demikian, kedekatan mereka tetap terjaga, dan pertemuan-pertemuan selanjutnya semakin memperkuat hubungan antara kedua negara.
Peran Strategis dalam Hubungan Bilateral
Persahabatan Prabowo dan Raja Abdullah II tidak hanya menjadi cerita pribadi, tetapi juga merupakan aset diplomatik yang berharga bagi kedua negara. Keduanya memiliki pandangan yang sama terhadap berbagai isu global, termasuk situasi di Gaza. Dalam konteks ini, hubungan mereka menjadi penting dalam memperkuat posisi Indonesia di kancah internasional.
Prabowo sempat ingin kembali ke Indonesia pada akhir tahun yang sama setelah kunjungan ke Yordania, namun keinginan itu dibatalkan atas larangan koleganya. Hal ini menunjukkan betapa kompleksnya dinamika politik yang dihadapi Prabowo dalam menjalankan tugasnya sebagai presiden.
Wakil Ketua Umum Partai Gerindra, Fadli Zon, mengungkapkan bahwa Prabowo hijrah ke Yordania pada bulan September 1998 untuk menghindari fitnah di dalam negeri.
"Inilah hijrah Prabowo, semua atas pengetahuan Presiden Habibie," ungkap Fadli. Hal ini menambah dimensi lain dalam kisah persahabatan mereka yang telah terjalin lama.
Dengan demikian, persahabatan Prabowo Subianto dan Raja Abdullah II menjadi contoh hubungan internasional yang dibangun atas dasar saling menghormati dan kerja sama yang erat. Melalui hubungan ini, Indonesia dan Yordania dapat terus berkontribusi dalam isu-isu global, khususnya yang berkaitan dengan kemanusiaan.