Khofifah Ajak Makmurkan Masjid: Jadikan Tautan Hati, Pikiran, dan Gerakan Umat
Khofifah Ajak Makmurkan Masjid sebagai pusat spiritual dan gerakan keumatan. Simak ajakan Ketua Umum Muslimat NU ini untuk menjadikan masjid lebih hidup, memperkuat iman dan toleransi.
Ketua Umum Dewan Pembina Pengurus Pusat Muslimat Nahdlatul Ulama (NU), Khofifah Indar Parawansa, menyerukan kepada seluruh jamaah untuk menjadikan masjid sebagai pusat spiritual dan gerakan keumatan. Ajakan ini disampaikan dalam peringatan Isra Mikraj di Masjid Istiqlal, Jakarta, pada Sabtu (17/1). Khofifah menekankan pentingnya masjid sebagai tautan hati, pikiran, dan gerakan umat dalam kehidupan sehari-hari.
Acara sakral ini dihadiri oleh sekitar 6.000 anggota Muslimat NU dari wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek). Kehadiran ribuan jamaah menunjukkan antusiasme tinggi terhadap pesan yang disampaikan, serta komitmen untuk memperkuat nilai-nilai keagamaan. Peringatan Isra Mikraj ini menjadi momentum refleksi dan penguatan iman bagi seluruh hadirin.
Selain Khofifah, peringatan Isra Mikraj ini juga dihadiri oleh sejumlah tokoh penting. Hadir pula Menag Prof. K.H. Nasaruddin Umar dan Menteri KemenPPPA Arifah Choiri Fauzi, serta penceramah Ustadz Das’ad Latif. Kolaborasi para tokoh ini memperkaya makna acara, menegaskan peran masjid sebagai pusat kegiatan keagamaan dan sosial.
Memakmurkan Masjid sebagai Pusat Kehidupan Umat
Khofifah Indar Parawansa mengajak jamaah untuk senantiasa meramaikan dan memakmurkan masjid. Ia menegaskan bahwa kecintaan terhadap masjid harus diimplementasikan dalam berbagai gerakan keumatan. Hal ini sejalan dengan konsep “minal masjid ilal masjid”, yang berarti segala aspek kehidupan harus berpusat pada masjid.
Menurut Khofifah, kehadiran ribuan Muslimat NU dalam majelis ilmu ini merupakan bentuk penguatan amal ibadah dan nilai spiritual. Melalui pembacaan ayat suci Al-Qur'an, lantunan kalimat thayyibah, shalawat, dan silaturahmi, jamaah diharapkan dapat meningkatkan kualitas keimanan. Kegiatan semacam ini dicatat sebagai amal ibadah yang mengantarkan pada husnul khatimah.
Pentingnya keseimbangan antara hablu minallah (hubungan dengan Allah) dan hablu minannaas (hubungan dengan sesama manusia) juga ditekankan. Ibadah personal seperti salat dan puasa harus diimbangi dengan kesalehan sosial. Kolaborasi, sinergi, dan harmoni sosial menjadi wujud nyata dari hubungan baik antar sesama, memperkuat persatuan umat.
Makna Isra Mikraj dan Toleransi Beragama
Menag Prof. K.H. Nasaruddin Umar memaknai Isra Mikraj sebagai perjalanan spiritual Nabi Muhammad SAW atas undangan Allah SWT. Beliau menjelaskan bahwa Isra adalah perjalanan yang dapat dicerna akal, sedangkan Mikraj adalah perjalanan dari bawah ke atas yang melampaui nalar manusia. Hakikat Mikraj adalah mencapai puncak spiritual untuk kemudian bersosialisasi dengan masyarakat.
Menag juga menyampaikan apresiasi kepada Khofifah dan Menteri KemenPPPA Arifah Choiri Fauzi atas kolaborasi dalam pelaksanaan peringatan Isra Mikraj ini. Beliau bahkan menawarkan fasilitas Masjid Istiqlal untuk kegiatan Muslimat NU secara rutin. Hal ini menunjukkan dukungan penuh terhadap upaya memakmurkan masjid dan mempererat tali silaturahmi antarumat.
Sementara itu, Ustadz Das’ad Latif menegaskan bahwa makna terpenting dari peristiwa Isra Mikraj adalah salat. Ia mengingatkan jamaah untuk kembali kepada salat saat menghadapi masalah, bukan membagikannya di media sosial. Salat menjadi solusi dan evaluasi diri dalam menghadapi setiap tantangan kehidupan.
Setelah acara, Khofifah bersama Arifah Choiri Fauzi meninjau Terowongan Silaturahmi. Terowongan ini menghubungkan Masjid Istiqlal dan Gereja Katedral Jakarta, menjadi simbol nyata toleransi dan persaudaraan antarumat beragama di Indonesia. Ini menunjukkan bahwa semangat keagamaan juga harus diiringi dengan semangat kebersamaan dan saling menghargai.
Sumber: AntaraNews