Gubernur Khofifah Ajak Masyarakat Jatim Tingkatkan Disiplin Ibadah dan Iman di Momen Isra Mikraj 1447 H

Dalam peringatan Isra Mikraj 1447 Hijriah, Gubernur Khofifah Indar Parawansa mengajak masyarakat Jawa Timur untuk meningkatkan disiplin ibadah dan iman, menekankan nilai-nilai luhur peristiwa monumental ini.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Gubernur Khofifah Ajak Masyarakat Jatim Tingkatkan Disiplin Ibadah dan Iman di Momen Isra Mikraj 1447 H
Dalam peringatan Isra Mikraj 1447 Hijriah, Gubernur Khofifah Indar Parawansa mengajak masyarakat Jawa Timur untuk meningkatkan disiplin ibadah dan iman, menekankan nilai-nilai luhur peristiwa monumental ini. (AntaraNews)

Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, menyerukan kepada masyarakat untuk memperkuat kedisiplinan dalam beribadah serta meningkatkan keimanan dan ketakwaan. Seruan ini disampaikan dalam rangka memperingati Isra Mikraj Nabi Muhammad SAW 1447 Hijriah yang jatuh pada hari Jumat. Peristiwa Isra Mikraj dianggap sebagai momentum penting untuk refleksi diri dan perbaikan spiritual.

Khofifah secara khusus menyoroti perintah salat lima waktu yang lahir dari peristiwa Isra Mikraj, menjadikannya fondasi utama perbaikan diri. Ia menekankan bahwa disiplin salat bukan sekadar rutinitas, melainkan sarana efektif untuk membentuk keteraturan hidup. Ini mencakup penghargaan terhadap waktu, tanggung jawab, dan ketertiban dalam menjalankan peran sosial di masyarakat.

Menurutnya, Isra Mikraj adalah peristiwa monumental yang sarat makna dan mengandung pesan sosial mendalam. Peristiwa ini sangat relevan dengan tantangan kehidupan modern yang membutuhkan nilai-nilai luhur. Nilai-nilai yang terkandung di dalamnya diharapkan dapat memberikan dampak luas jika dimaknai secara substantif.

Memperbaiki Disiplin Salat sebagai Fondasi Keteraturan Hidup

Gubernur Khofifah menegaskan bahwa perbaikan disiplin salat harus menjadi prioritas utama dalam memaknai Isra Mikraj. Rasulullah SAW dipanggil langsung ke langit ketujuh untuk menerima perintah ini, menunjukkan betapa fundamentalnya ibadah salat. Disiplin dalam salat mengajarkan individu untuk menghargai waktu dan bertanggung jawab.

Di tengah kehidupan yang serba cepat dan penuh distraksi, nilai disiplin ini menjadi semakin krusial. Disiplin moral yang tercermin dalam salat juga mencerminkan kejujuran dan sifat amanah seseorang. Ini menjadi bekal penting dalam menghadapi berbagai dinamika sosial.

Khofifah menambahkan bahwa ritual keagamaan tidak akan berdampak luas tanpa pemaknaan substantif dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, salat harus dilihat sebagai lebih dari sekadar rutinitas, tetapi sebagai pembentuk karakter. Ini adalah langkah awal untuk menciptakan masyarakat yang lebih tertib dan berintegritas.

Keimanan yang Matang Melahirkan Toleransi dan Empati

Peristiwa Isra Mikraj juga merupakan ujian keimanan, mengingat kisah perjalanan Nabi Muhammad SAW yang melampaui nalar manusia pada masanya. Khofifah menekankan bahwa peristiwa ini menuntut kedewasaan dalam mengimaninya, memperkuat keyakinan akan kebesaran Tuhan. Keimanan yang matang adalah kunci untuk menciptakan masyarakat yang harmonis.

Menurutnya, keimanan yang kokoh akan melahirkan sikap saling menghargai di tengah kemajemukan masyarakat. Orang yang beriman tidak akan mudah menghakimi atau merendahkan pihak lain, melainkan akan menjunjung tinggi toleransi. Di Indonesia, iman seharusnya menjadi sumber ketenangan, bukan pemicu konflik.

Mantan Menteri Sosial Republik Indonesia itu juga menegaskan bahwa hubungan dengan Tuhan tidak dapat dipisahkan dari tanggung jawab sosial. Ketakwaan harus tercermin dalam perilaku sehari-hari, seperti bersikap adil, jujur, serta memiliki empati terhadap sesama. Ini adalah wujud nyata dari keimanan yang mendalam.

Pesan Kebersamaan dan Bhinneka Tunggal Ika dalam Salat Berjamaah

Selain disiplin dan keimanan, Isra Mikraj juga mengajarkan nilai kebersamaan tanpa diskriminasi, yang sangat jelas terlihat dalam praktik salat berjamaah. Khofifah menyoroti bagaimana kesetaraan dalam saf salat mengandung pesan persatuan yang kuat. Ini sejalan dengan semangat Bhinneka Tunggal Ika yang menjadi pilar bangsa.

Dalam shaf salat, semua umat berdiri sejajar, tanpa memandang status sosial, jabatan, maupun latar belakang. Pesan kuat ini menunjukkan bahwa kebersamaan tidak berarti menyeragamkan, melainkan menyatukan langkah untuk mencapai tujuan yang lebih besar. Ini adalah manifestasi nyata dari persatuan dalam keberagaman.

Khofifah menambahkan bahwa pesan kebersamaan ini sangat relevan di tengah masyarakat yang seringkali terpolarisasi akibat perbedaan pandangan politik, sosial, maupun keagamaan. Ia berharap peringatan Isra Mikraj menjadi momentum refleksi bersama. Tujuannya adalah untuk menghidupkan kembali nilai-nilai spiritual dalam kehidupan sehari-hari, memperkuat persatuan bangsa.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi