Kemdiktisaintek Dorong Kuat Kolaborasi Riset Kesehatan Indonesia Inggris untuk Dampak Nyata
Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) mendorong kolaborasi riset kesehatan Indonesia Inggris. Tujuannya adalah menghasilkan inovasi yang siap dihilirisasi dan memberikan dampak signifikan bagi masyarakat, sekaligus membuka.
Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) secara aktif mendorong penguatan kolaborasi antara Indonesia dan Inggris dalam bidang riset kesehatan. Inisiatif ini bertujuan untuk menghasilkan riset yang tidak hanya berkualitas tinggi tetapi juga siap dihilirisasi dan memberikan dampak nyata bagi kesejahteraan masyarakat. Dorongan ini disampaikan langsung oleh Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan (Dirjen Risbang) Kemdiktisaintek, Fauzan Adziman, dalam sebuah keterangan di Jakarta pada Jumat.
Fokus utama dari upaya kolaborasi ini adalah riset berbasis tantangan yang bersifat multidisipliner, melibatkan berbagai kemitraan dan institusi. Pendekatan ini diharapkan dapat meningkatkan daya saing nasional melalui peningkatan kualitas riset secara berkelanjutan. Kemitraan strategis dengan berbagai institusi di Inggris membuka peluang besar bagi Indonesia.
Peluang tersebut mencakup penguatan kapasitas peneliti, transfer teknologi yang esensial, serta pengembangan model pendanaan riset berbasis kolaborasi internasional. Dengan demikian, riset yang dilakukan diharapkan akan semakin berdampak dan relevan dengan kebutuhan negara. Strategi ini dirancang untuk menyelesaikan permasalahan utama yang paling penting dan dibutuhkan oleh negara, seperti peningkatan kondisi layanan kesehatan di Indonesia.
Fokus dan Tujuan Strategis Kolaborasi Riset
Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan Kemdiktisaintek, Fauzan Adziman, menjelaskan bahwa kolaborasi ini berfokus pada riset berbasis tantangan dengan pendekatan multidisipliner. "Sekarang kita berfokus pada riset berbasis tantangan. Kita ingin riset bersifat multidisipliner dengan menerapkan kerangka kerja kolaborasi antara berbagai kemitraan dan juga institusi. Inilah alasan mengapa kami ingin mendorong Indonesia dalam kolaborasi ini, sehingga kita dapat meningkatkan daya saing nasional melalui upaya peningkatan kualitas riset," kata Fauzan Adziman.
Program ini dirancang secara strategis untuk menyelesaikan permasalahan utama yang paling penting dan dibutuhkan oleh negara. Peningkatan kondisi layanan kesehatan di Indonesia adalah salah satu contoh konkret dari tujuan tersebut. Kolaborasi dapat dilakukan secara mandiri maupun bersama mitra internasional untuk mencapai hasil yang maksimal. "Melalui program ini, kami merancang strategi ini untuk menyelesaikan permasalahan utama yang paling penting dan dibutuhkan oleh negara. Sebagai contoh, strategi tersebut dapat berupa peningkatan kondisi layanan kesehatan di Indonesia, dan dengan bekerja sama secara mandiri maupun bersama mitra internasional. Dengan menjalankan program strategis ini, riset kita menjadi semakin berdampak," ujarnya.
Kemitraan dengan Inggris menawarkan peluang besar bagi penguatan kapasitas peneliti Indonesia dan transfer teknologi yang mutakhir. Selain itu, pengembangan model pendanaan riset berbasis kolaborasi internasional juga menjadi fokus penting. Hal ini diharapkan dapat mempercepat inovasi dan penerapan hasil riset untuk kepentingan masyarakat luas.
Posisi Strategis Indonesia dalam Kemitraan Kesehatan Global
Senada dengan Kemdiktisaintek, Direktur Jenderal Farmasi dan Alat Kesehatan (Dirjen Farmalkes) Kementerian Kesehatan (Kemenkes), Lucia Rizka Andalucia, menegaskan posisi penting Indonesia dalam kemitraan global ini. Indonesia memiliki urgensi yang didorong oleh tekanan kesehatan dan ekonomi, sekaligus kapasitas yang berakar pada kekuatan ilmiah, skala klinis, dan reformasi regulasi yang sedang berjalan.
Dalam konteks ini, Indonesia dan Inggris dipandang bukan sekadar kolaborator, melainkan mitra yang saling melengkapi di sepanjang spektrum transnasional. Kemitraan ini memungkinkan kedua negara untuk memanfaatkan kekuatan masing-masing. "Dalam konteks ini Indonesia dan Inggris bukan sekadar kolaborator, melainkan mitra yang saling melengkapi di sepanjang spektrum transnasional," kata Lucia.
Dengan menyelaraskan kekuatan pada tahap Tingkat Kesiapterapan Teknologi (TKT) spesifik, inovasi kesehatan dapat dikembangkan, divalidasi, dan disampaikan bersama secara efektif. Tujuan akhirnya adalah menghasilkan inovasi yang kokoh secara ilmiah, layak secara komersial, dan berdampak secara sosial.
Keunggulan Komparatif dan Tingkat Kesiapterapan Teknologi
Peneliti Pusat Riset Kedokteran Preklinis dan Klinis, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Reza Yuridian Purwoko, memaparkan pentingnya kolaborasi strategis yang memanfaatkan kekuatan masing-masing negara. Inggris memiliki keunggulan dalam penyampaian riset klinis yang matang dan jalur adopsi yang kuat. Ini menjadi aset berharga dalam kemitraan.
Di sisi lain, Indonesia menawarkan keuntungan komparatif berupa populasi yang besar dan beragam, kebutuhan kesehatan yang mendesak, serta kekayaan biodiversitas yang melimpah. Keunggulan ini memberikan lahan subur bagi pengembangan riset kesehatan yang inovatif dan relevan. Potensi ini sangat besar untuk dieksplorasi melalui kolaborasi.
Fokus utama kolaborasi ini berada pada fase TKT 4 hingga 6, yang mencakup validasi, uji coba, hingga peningkatan skala. "Fokus utama kolaborasi kita berada pada fase TRL/TKT 4 hingga 6, yang mencakup validasi, uji coba, hingga peningkatan skala," ucap Reza. Ini menunjukkan komitmen untuk tidak hanya menghasilkan ide, tetapi juga mewujudkannya menjadi produk atau solusi yang siap diterapkan di masyarakat.
Sumber: AntaraNews