Jelang Perdamaian, Kericuhan Yalimo Kembali Pecah: Wagub Papua Pegunungan Terjebak Protes Warga
Kericuhan Yalimo kembali terjadi di Elelim jelang prosesi perdamaian, memicu protes warga hingga melukai pejabat dan merusak fasilitas, mengungkap ketidakpuasan mendalam.
Kericuhan kembali melanda Kota Elelim, Ibu Kota Kabupaten Yalimo, Provinsi Papua Pegunungan, pada Jumat (3/10), tepat saat prosesi perdamaian warga hendak dilaksanakan. Insiden ini berawal dari pembakaran kios kelontong milik warga di depan Puskesmas Elelim, yang kemudian memicu serangkaian protes.
Pembakaran tersebut dipicu oleh ketidakpuasan beberapa warga terkait pelaksanaan acara bakar batu dalam rangka perdamaian yang dianggap tidak adil. Laporan dari Polda Papua menyebutkan bahwa kemarahan warga timbul karena kegiatan bakar batu hanya melibatkan satu distrik, padahal Kabupaten Yalimo memiliki lima distrik.
Selain itu, warga juga memprotes keputusan untuk tidak membeli hasil pertanian dari petani lokal, melainkan mendatangkan pasokan dari Wamena. Situasi ini menciptakan ketegangan yang memuncak di tengah upaya menuju rekonsiliasi antarwarga.
Penyebab Kericuhan dan Protes Warga
Ketidakpuasan warga menjadi pemicu utama kericuhan yang terjadi di Elelim. Prosesi bakar batu yang seharusnya menjadi simbol perdamaian justru menimbulkan gejolak karena dianggap tidak representatif. Warga merasa diabaikan karena hanya satu dari lima distrik yang dilibatkan dalam acara tersebut.
Kabid Humas Polda Papua Komisaris Besar Polisi Cahyo Sukarnito menjelaskan, "Dari laporan yang diterima terungkap warga marah karena kegiatan bakar batu hanya melibatkan satu distrik, sementara di Kabupaten Yalimo ada lima distrik." Ini menunjukkan adanya kesenjangan partisipasi yang memicu rasa tidak adil.
Selain masalah partisipasi distrik, warga juga memprotes kebijakan pengadaan bahan makanan. Mereka kecewa karena panitia perdamaian tidak membeli hasil pertanian dari petani lokal, melainkan memilih untuk mendatangkan pasokan dari Wamena. Hal ini merugikan perekonomian petani di Yalimo dan menambah daftar panjang keluhan warga.
Detik-detik Kericuhan dan Korban Pejabat
Situasi memanas saat rombongan Wakil Gubernur Papua Pegunungan Ones Pahabol dan Bupati Yalimo Nahor Nekwek tiba di lapangan Kantor Bupati Yalimo di Elelim. Kedatangan mereka langsung disambut dengan protes keras dan kericuhan dari masyarakat yang menolak acara bakar batu tersebut.
Saat Wagub Ones Pahabol dan Bupati Yalimo Nahor Nekwek mencoba memberikan penjelasan kepada warga yang protes, beberapa individu tiba-tiba melakukan pelemparan batu. Lemparan batu tersebut mengenai kepala Wakil Kepala Polres Yalimo Komisaris Polisi Elias Endang yang berada di belakang Wagub Ones.
Insiden ini menyebabkan Bupati Yalimo Nahor Nekwek mengalami luka memar di pelipis, sementara Wakapolres Yalimo Kompol Elias Endang mengalami luka memar di kepala sebelah kanan. Pelemparan batu tersebut menjadi puncak dari kemarahan warga yang tidak dapat dibendung lagi.
Penanganan Situasi dan Dampak Kerusakan
Melihat situasi yang semakin tidak terkendali, aparat keamanan segera mengevakuasi Wagub Ones Pahabol ke Wamena melalui jalur darat. Sementara itu, Bupati Nekwek dievakuasi ke Markas Polres Yalimo untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut dan keamanan.
Setelah evakuasi, perwakilan masyarakat sempat melakukan pertemuan dengan Bupati Nekwek untuk mencari solusi. Hasil pertemuan tersebut adalah kesepakatan bahwa empat distrik yang tidak terlibat akan diberi bantuan masing-masing Rp100 juta. Setelah kesepakatan tercapai, warga akhirnya membubarkan diri.
Kericuhan ini tidak hanya menyebabkan luka pada pejabat, tetapi juga menimbulkan kerusakan material. Dua unit mobil milik Pemkab Yalimo mengalami kerusakan kaca pecah di bagian samping kiri dan kanan. Selain itu, kaca jendela bagian depan Kantor Bupati Yalimo juga pecah akibat lemparan batu.
Riwayat Kerusuhan di Elelim
Kericuhan yang terjadi pada 3 Oktober bukanlah insiden pertama di Kota Elelim. Sebelumnya, kerusuhan besar pernah terjadi pada 16 September 2025, yang mengakibatkan puluhan bangunan dan kendaraan dibakar massa. Peristiwa ini menunjukkan pola konflik yang berulang di wilayah tersebut.
Kerusuhan sebelumnya bermula dari insiden di lingkungan sekolah saat proses pembelajaran berlangsung. Salah satu siswa berinisial AB diduga mengeluarkan ucapan yang menyinggung teman sekelasnya, memicu reaksi keras.
Ucapan tersebut memicu reaksi dari beberapa siswa yang kemudian melakukan pemukulan terhadap AB. Insiden kecil ini kemudian berkembang menjadi kerusuhan yang lebih besar, mengakibatkan pembakaran sejumlah bangunan dan kendaraan di Elelim.
Sumber: AntaraNews