Fakta Gizi Buruk NTT: 200 Guru PAUD di Kota Kupang Dilatih Program PAUD Peduli Wasting
Kolaborasi TP PKK NTT dan UNICEF melatih 200 guru PAUD di Kota Kupang dalam program PAUD Peduli Wasting, upaya krusial atasi prevalensi gizi buruk tertinggi di Indonesia.
Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) bersama UNICEF telah menyelenggarakan orientasi penting. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan kapasitas 200 guru Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) di Kota Kupang. Fokus utama orientasi adalah deteksi dini dan rujukan anak yang berisiko wasting, atau kondisi gizi kurang dan gizi buruk.
Orientasi ini dilaksanakan pada Rabu, 8 Oktober, di Kupang, NTT, sebagai bagian dari upaya kolektif. Tujuannya adalah membekali para pendidik dengan pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan. Dengan demikian, mereka dapat berperan aktif dalam program PAUD Peduli Wasting di lingkungan sekolah dan komunitas.
Inisiatif ini merupakan langkah strategis untuk mengatasi masalah gizi di NTT, yang memiliki prevalensi wasting tertinggi di Indonesia. Diharapkan, guru PAUD dapat menjadi garda terdepan dalam mengedukasi orang tua. Mereka juga diharapkan mampu mengidentifikasi dan merujuk kasus wasting sejak dini.
Meningkatkan Kapasitas Guru PAUD dalam Deteksi Dini
Ketua TP PKK Provinsi NTT, Mindriyati Astiningsih Laka Lena, menjelaskan bahwa kolaborasi ini sangat vital. "Kegiatan kolaborasi ini bertujuan memberikan pengetahuan dan keterampilan bagi 200 guru Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) di Kota Kupang dalam melaksanakan PAUD Peduli Wasting," ujarnya.
TP PKK NTT, dengan dukungan dari UNICEF Perwakilan NTB dan NTT, berupaya keras meningkatkan kapasitas guru. Peningkatan kapasitas ini mencakup kemampuan memberikan pemahaman kepada murid dan orang tua. Hal ini penting untuk memperhatikan asupan gizi seimbang dan aktif melakukan deteksi dini serta rujukan anak berisiko wasting.
Program orientasi ini secara spesifik difokuskan pada beberapa aspek kunci. Aspek tersebut meliputi deteksi dini dan rujukan balita wasting, kelas pengasuhan terkait gizi, demo masak makanan bergizi, dan percontohan kebun gizi pekarangan di satuan PAUD. Ini adalah pendekatan holistik untuk mengatasi masalah gizi.
NTT Hadapi Prevalensi Wasting Tertinggi: Pendekatan Terintegrasi
Provinsi NTT menghadapi tantangan serius terkait masalah gizi. Data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024 menunjukkan prevalensi wasting pada balita di NTT mencapai 12,3 persen. Angka ini menempatkan NTT sebagai provinsi dengan prevalensi wasting tertinggi di Indonesia.
Selain itu, prevalensi balita gizi buruk tercatat sebesar 3,6 persen. Dengan estimasi beban kasus tahunan dihitung berdasarkan prevalensi gizi buruk SSGI 2024, terdapat sekitar 39 ribu kasus per tahun. Situasi ini memerlukan perhatian dan tindakan segera dari berbagai pihak.
Astiningsih menekankan pentingnya pendekatan terintegrasi dalam penanganan kasus wasting. "Untuk itu, penanganan kasus wasting memerlukan pendekatan terintegrasi melibatkan pemerintah, masyarakat, serta program intervensi Pengelolaan Gizi Buruk Terintegrasi (PGBT) dan peningkatan gizi yang fokus pada peningkatan asupan dan kesehatan anak," katanya. Pendekatan ini diharapkan mampu memberikan solusi komprehensif.
Dukungan Multisektoral dan Harapan Generasi Emas 2045
Kepala UNICEF Perwakilan NTT dan NTB melalui Nutrition Officer Ha’i Raga Lawa menyampaikan apresiasi atas kolaborasi ini. Ia menggarisbawahi bahwa PAUD Peduli Wasting mendukung empat dari delapan layanan esensial Pengembangan Anak Usia Dini Holistik Integratif (PAUD HI) di satuan PAUD. Ini menunjukkan relevansi program dengan kerangka kerja yang lebih luas.
Orientasi ini juga memberikan konsep dan pengetahuan tentang layanan PAUD HI secara umum. Materi yang disampaikan meliputi skrining imunisasi dan tuberkulosis, pembiasaan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), serta penggunaan buku Kesehatan Ibu dan Anak sebagai sumber informasi. Buku KIA ini penting untuk kesehatan, pertumbuhan, dan perkembangan anak PAUD.
Fasilitator dalam program ini berasal dari berbagai instansi terkait. Mereka adalah perwakilan UNICEF, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Kupang, Dinas Kesehatan Kota Kupang, Dinas Pertanian Kota Kupang, serta Ikatan Bidan Indonesia (IBI) Kota Kupang. Keterlibatan berbagai pihak ini menunjukkan komitmen bersama.
Astiningsih berharap kegiatan ini tidak hanya meningkatkan kapasitas, tetapi juga menumbuhkan komitmen. Diharapkan ada rencana tindak lanjut dari para guru PAUD untuk melaksanakan PAUD Peduli Wasting setiap bulan. "Semoga orientasi 200 guru PAUD Peduli Wasting ini dapat berkontribusi dalam meningkatkan deteksi dini dan rujukan balita berisiko wasting sehingga mereka mendapatkan perawatan sedini mungkin dengan tumbuh kembang yang optimal menuju Generasi Emas Indonesia 2045," pungkasnya.
Sumber: AntaraNews