Denny JA Ikut Arahan Prabowo, Komisaris Harus Benahi BUMN Bukan Berburu Tantiem
Tantiem adalah bonus tahunan yang diberikan kepada direksi dan komisaris sebuah perusahaan
Presiden Prabowo Subianto ingin para komisaris fokus dalam membenahi manajemen dan keuangan BUMN atau anak usahanya bukan untuk mencari tantiem, insentif dan penghasilan lainnya.
Pernyataan ini disampaikan Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi berkaitan dengan kebijakan baru Daya Anagata Nusantara (Danantara) mengatur soal anggota Dewan Komisaris BUMN dan anak usaha, tidak diperkenankan mendapatkan tantiem dan insentif.
Tantiem adalah bonus tahunan yang diberikan kepada direksi dan komisaris sebuah perusahaan, sebagai bentuk penghargaan atas kinerja keuangan atau pencapaian target tertentu.
Komisaris Utama Pertamina Hulu Energi, Denny JA mendukung penuh kebijakan tersebut. Menurutnya, pesan Prabowo untuk mengembalikan jabatan publik pada kodratnya, sebagai sarana pengabdian bukan ladang insentif.
"Saya menerima pesan Presiden sebagai panggilan hati. Sebuah kesempatan untuk menjadikan jabatan bukan sekadar posisi strategis, tapi jalan kontribusi yang bermakna," ujar Denny JA dalam keterangannya, Rabu (6/8).
Sejak diangkat pada Juli 2025, Denny memilih untuk bekerja bukan hanya melalui rapat. Tetapi Denny juga bergerak lewat pemikiran, tulisan, dan semangat perubahan.
Ia juga telah menyampaikan beberapa pidato pengarahan, bukan demi formalitas melainkan untuk menanamkan mindset baru. Indonesia hanya bisa bangkit jika ia juga mandiri di dunia energi.
Dalam polemik tentang tantiem komisaris, Denny JA juga mengklarifikasi pandangannya yang sempat ditafsirkan berbeda oleh publik.
Menurutnya, dalam perspektif ilmu tata kelola korporasi global, pemberian tantiem kepada komisaris di sistem two-tier board (seperti di Indonesia) adalah praktik yang sah dan lazim.
"Di banyak negara Eropa, dewan komisaris yang aktif menjalankan fungsi pengawasan strategis diberi tantiem. Di dalam sistem two-tier, komisaris bukan sekadar simbol, tapi aktor nyata dalam pengambilan keputusan," tutur Denny.
Namun ketika Presiden Prabowo memutuskan untuk menghapus tantiem sebagai bentuk transformasi moral BUMN, Denny langsung menyatakan komitmennya. "Saya ikut memenangkan Presiden dan menyetujui banyak gagasan besarnya," tegas Denny.
Denny juga menyetujui reformasi BUMN seharusnya tidak berhenti pada struktur atau kebijakan, tetapi menyentuh jiwa dan etos kolektif lembaga negara.
"Kontribusi terbaik tidak diukur dari angka yang masuk ke rekening pribadi, tapi dari nilai yang tertanam dalam sejarah negeri. Nilai itu hanya bisa lahir dari kekuatan paling sunyi, namun paling dahsyat: Power of Giving," tandasnya.