Dari 'Sabuk Karat' Menjadi Magnet Dunia: Kebangkitan Wisata Musim Dingin China Timur Laut
China Timur Laut, yang dijuluki 'Sabuk Karat', kini bertransformasi menjadi destinasi utama Wisata Musim Dingin, menarik jutaan pengunjung dan menggerakkan roda ekonomi dengan pesona es dan salju yang memukau.
Wilayah China Timur Laut, yang dikenal sebagai Dongbei, telah lama menjadi inspirasi bagi para seniman, termasuk penyair Dinasti Tang Li Bai, yang karyanya menggambarkan keindahan salju dan musim dingin. Sensasi melihat salju dan merasakan musim dingin yang bersalju memang menjadi pengalaman tak terlupakan yang mendorong kreativitas, terutama bagi penduduk di kawasan ini. Kini, pesona musim dingin di Dongbei tidak hanya menginspirasi seni, tetapi juga menggerakkan roda ekonomi.
Setelah mengalami masa penurunan ekonomi pasca-reformasi pada akhir 1970-an, yang membuatnya dijuluki 'Sabuk Karat China', wilayah ini kini menemukan kembali kejayaannya melalui industri pariwisata. Sejak tahun 2023, 'Kebangkitan Budaya Timur Laut' telah mengubah cerobong asap yang rusak dan arena seluncur es yang sepi menjadi destinasi wisata kreatif yang ramai pengunjung. Transformasi ini menjadi bukti nyata bagaimana tantangan dapat diubah menjadi peluang ekonomi yang menjanjikan.
Kebangkitan ini tidak lepas dari strategi pemerintah China yang berfokus pada pengembangan ekonomi es dan salju, serta promosi olahraga, budaya, dan pariwisata musim dingin. Dengan musim dingin yang panjang dan bersalju, Dongbei memiliki keunggulan alam yang dimanfaatkan secara optimal. Hasilnya, jutaan wisatawan domestik maupun internasional kini membanjiri wilayah ini, ingin merasakan langsung keajaiban musim dingin yang ditawarkan.
Dongbei: Dari Pusat Industri Menuju Destinasi Pariwisata Global
China Timur Laut, atau Dongbei (东北), meliputi tiga provinsi: Liaoning, Jilin, dan Heilongjiang, dengan luas sekitar 350.000 kilometer persegi. Secara historis, wilayah ini dikenal sebagai Manchuria dan pada abad ke-20 menjadi basis industri berat China, menyumbang lebih dari 13 persen Produk Domestik Bruto (PDB) nasional hingga tahun 1970-an.
Namun, setelah reformasi ekonomi dimulai pada akhir 1970-an, banyak industri di Dongbei mengalami kemunduran, dengan kontribusi PDB yang anjlok hingga sekitar 5 persen pada periode 2020-an. Penurunan ini, ditambah dengan penurunan populasi, membuat wilayah ini dijuluki 'Sabuk Karat China'.
Menyadari potensi alamnya, pemerintah China pada tahun 2003 meluncurkan 'Strategi Revitalisasi untuk wilayah timur laut dan basis industri lama lainnya'. Strategi ini berfokus pada pengembangan ekonomi es dan salju, termasuk promosi olahraga, budaya, peralatan, dan pariwisata musim dingin.
Harbin dan Jilin: Inovasi dalam Festival Es dan Salju
Harbin, ibu kota Provinsi Heilongjiang, dengan cepat menjadi salah satu tujuan wisata musim dingin paling populer di China. Pada musim dingin 2023-2024, Harbin menarik 179 juta pengunjung dan menghasilkan pendapatan pariwisata sebesar 231,42 miliar RMB. Festival Es dan Salju Harbin, yang berlangsung dari pertengahan Desember hingga akhir Februari, termasuk liburan Tahun Baru Imlek, menjadi daya tarik utama dengan pahatan es raksasa dan lampion es yang memukau.
Provinsi Jilin juga tidak ketinggalan, dengan proyek ambisius sejak tahun 2016 untuk membangun resor ski kelas dunia, arena seluncur es raksasa, dan resor ski mewah seperti di Gunung Changhai. Inisiatif ini melahirkan acara-acara besar seperti 'Dunia baru es dan salju Changchun' dan 'Festival memancing embun es (rime) dan salju Danau Chagan'.
Bahkan, serial TV sukses 'The Long Season' yang berlatar China timur laut pada tahun 2023, disebut turut berperan penting dalam mengubah citra kawasan industri tua menjadi destinasi wisata kreatif. Kisah-kisah yang relevan dengan latar belakang industri wilayah ini berhasil menarik perhatian dan minat publik terhadap Dongbei.
Festival Es Changchun: Simbol Harapan dan Kreativitas
Changchun, ibu kota Provinsi Jilin, yang pernah menjadi lokasi pabrik mobil pertama China dan ibu kota negara boneka Manchukuo, kini menjadi tuan rumah festival es yang megah. Pada musim dingin 2025-2026, 'The 7th Changchun Ice and Snow New World' dibuka pada 19 Desember 2025 di area seluas 1,56 kilometer persegi.
Taman es ini dibentuk dari 390.000 meter kubik balok es dan 420.000 meter kubik salju, membentuk puluhan bangunan ikonik dari 31 ibu kota provinsi dan wilayah di China, seperti 'Temple of Heaven' dari Beijing dan Istana Potala di Lhasa. Bangunan-bangunan ini dilengkapi lampu LED warna-warni, menciptakan 'dunia es warna-warni' yang memukau di malam hari.
Pengunjung juga dapat menikmati berbagai atraksi petualangan seperti seluncuran es sepanjang 520 meter, arena seluncur es, ban luncur salju, panggung musik, dan karnaval. Direktur Jilin Provincial Construction Group, Jiang Licheng, mengungkapkan harapannya bahwa 'hamparan dunia es dan salju ini melambangkan sebuah harapan baru.' Selain itu, Pameran Industri Salju dan Es Internasional Jilin ke-9 juga diselenggarakan, memamerkan produk-produk industri es dan salju dari berbagai merek.
Prospek Cerah Ekonomi Es dan Salju China
Laporan China Tourism Academy (CTA) menunjukkan pertumbuhan luar biasa dalam pariwisata es dan salju. Pada musim dingin 2023–2024, sekitar 430 juta wisatawan mengunjungi destinasi es dan salju di China, meningkat 38 persen secara tahunan, dengan pendapatan mencapai 524,7 miliar RMB, naik 60 persen dari tahun sebelumnya.
Untuk musim 2024–2025, jumlah wisatawan es dan salju diperkirakan mencapai 520 juta, dengan proyeksi pendapatan melampaui 630 miliar RMB. Peningkatan ini didorong oleh permintaan pasar yang besar, dukungan kebijakan pemerintah pusat dan daerah, serta inovasi produk wisata yang memadukan budaya tradisional dengan teknologi digital.
Pemerintah pusat China menargetkan ekonomi musim dingin nasional mencapai skala 1,2 triliun RMB pada tahun 2027 dan 1,5 triliun RMB pada tahun 2030. Dengan musim dingin yang panjang dari November hingga Maret, kota-kota di Dongbei memanfaatkan keunggulan alam ini, mengubah cuaca dingin ekstrem menjadi peluang ekonomi yang signifikan melalui kebijakan dan strategi yang tepat.
Sumber: AntaraNews