Alumni ITB Donasikan Koleksi Buku Indonesia ke US Library of Congress
Saat ini sekitar 190.000 koleksi Indonesia tersimpan di US Library of Congress. Koleksi ini meliputi manuskrip kuno, buku langka hingga rekaman audio-visual.
Alumni Institut Teknologi Bandung (ITB) Angkatan 1973 (Fortuga ITB) mendonasikan buku-buku karya para alumni serta berbagai buku tentang Indonesia kepada US Library of Congress di Washington, D.C., Amerika Serikat, Rabu (1/7). Donasi tersebut merupakan kontribusi untuk memperkaya koleksi Indonesia di perpustakaan terbesar di dunia sekaligus memperluas akses terhadap referensi mengenai Indonesia bagi masyarakat dan komunitas akademik internasional.
US Library of Congress memiliki lebih dari 184 juta koleksi, yang mencakup sekitar 39 juta buku dan bahan cetak dalam 470 bahasa, 73 juta manuskrip, jutaan foto, peta, rekaman musik, serta arsip suara. Rak-rak koleksinya membentang sekitar 1.380 kilometer dengan penambahan sekitar dua juta koleksi baru setiap tahun.
Selain menjadi perpustakaan terbesar di dunia, gedung Library of Congress juga dikenal sebagai salah satu bangunan paling indah di Amerika Serikat.
Delegasi Fortuga ITB terdiri atas sejumlah alumni, termasuk empat guru besar, dan didampingi Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Washington DC, Dr. Iip Ichsanudin. Rombongan diterima oleh Dr. Sarah Rhodes dari Congressional and Intergovernmental Office bersama para pustakawan US Library of Congress, yakni Elizabeth Jarcy, Joshua Kueh, dan Kay Qui.
Saat ini sekitar 190.000 koleksi Indonesia tersimpan di US Library of Congress. Koleksi tersebut meliputi manuskrip kuno, buku langka, rekaman audio-visual, hingga artefak teknologi perekaman suara. Berdasarkan data tahun 2021, lebih dari 117.000 koleksi Indonesia telah dikatalogkan pada bagian koleksi Asia yang mencakup bidang ekonomi, politik, sejarah, ilmu pengetahuan, hingga sastra anak.
Jejak Indonesia juga tercermin melalui koleksi mengenai para pemimpin nasional, dengan lebih dari 1.100 buku tentang Presiden Soekarno, 918 buku tentang Presiden Soeharto, serta puluhan karya mengenai Presiden B.J. Habibie.
Selain itu, American Folklife Center menyimpan berbagai rekaman dan dokumentasi Indonesia sejak 1893 hingga 2009. Katalog perpustakaan tersebut juga memuat berbagai karya alumni Fortuga ITB, antara lain karya Dr. Hatta Rajasa (9 buku), Dr. Rizal Ramli (25 buku), Dr. Kusmayanto Kadiman (5 buku), Dr. Ali Herman Ibrahim (1 buku), Prof. Adang Surachman (1 buku), serta 19 buku karya Prof. Indroyono Soesilo.
Koleksi Indonesia Paling Bernilai
Salah satu koleksi Indonesia yang paling bernilai di US Library of Congress adalah manuskrip Jawa beriluminasi tahun 1862 berjudul Pangkat-pangkat Caritanipun Serat Babad ing Tanah Jawi Sedhaya. Naskah tersebut mengisahkan sejarah Jawa dan penyebaran Islam, serta dihiasi ilustrasi artistik yang memperkaya nilai sejarah dan estetikanya.
"KBRI Washington DC akan mendorong penguatan kerja sama antara US Library of Congress dan perpustakaan-perpustakaan di Indonesia melalui pertukaran buku dan pengayaan koleksi. Dalam waktu dekat akan disampaikan surat kepada para rektor perguruan tinggi di Indonesia agar mengirimkan buku-buku karya sivitas akademika melalui perwakilan US Library of Congress di Jakarta untuk diteruskan ke Washington DC. Program ini diharapkan memperkaya referensi tentang Indonesia bagi para peneliti dunia sekaligus memperkenalkan Indonesia secara lebih luas kepada publik Amerika Serikat dan masyarakat internasional," ucap Duta Besar Republik Indonesia untuk Amerika Serikat, Prof. Indroyono Soesilo.
Inisiatif tersebut diharapkan semakin memperkuat kehadiran Indonesia dalam khazanah pengetahuan dunia. Di antara ratusan juta koleksi yang tersimpan di US Library of Congress, buku, manuskrip, dan karya intelektual Indonesia menjadi bagian penting yang memperkaya referensi global tentang sejarah, budaya, ilmu pengetahuan, dan perkembangan bangsa Indonesia.