Akademisi UIN Saizu: Nilai Ramadhan Fondasi Kuat Wujudkan Perdamaian Dunia
Akademisi UIN Saizu Purwokerto, Muridan, menegaskan **Nilai Ramadhan** relevan sebagai landasan moral perdamaian dunia. Puasa dan Idul Fitri membentuk etika sosial, memperkuat solidaritas, dan harmoni.
Akademisi Universitas Islam Negeri (UIN) Prof KH Saifuddin Zuhri (Saizu) Purwokerto, Muridan, pada Sabtu (14/3) menyoroti relevansi nilai-nilai yang diajarkan selama bulan suci Ramadhan bagi upaya perdamaian global. Ia menegaskan bahwa ajaran Ramadhan tetap menjadi landasan moral yang kuat.
Menurut Muridan, puasa Ramadhan bukan sekadar ritual, melainkan sebuah proses pendidikan moral yang mendalam. Proses ini melatih individu untuk menahan diri, mengendalikan amarah, serta merasakan penderitaan sesama.
Pengalaman spiritual selama Ramadhan ini secara fundamental mendorong tumbuhnya empati dan kepedulian terhadap sesama, yang pada akhirnya melahirkan etika sosial. Etika sosial ini kemudian memperkuat solidaritas dan harmoni dalam kehidupan bermasyarakat.
Ramadhan: Pendidikan Moral dan Penguatan Empati
Dosen Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam UIN Saizu ini menjelaskan bahwa inti dari puasa Ramadhan adalah latihan menahan diri. Latihan ini mencakup pengendalian hawa nafsu dan emosi negatif, termasuk amarah yang kerap menjadi pemicu konflik.
Lebih lanjut, Muridan menekankan bahwa puasa juga mengasah kepekaan sosial individu. Dengan merasakan lapar dan dahaga, seseorang dapat lebih memahami kesulitan yang dialami oleh mereka yang kurang beruntung, menumbuhkan rasa empati yang mendalam.
Pengalaman spiritual yang didapat selama bulan Ramadhan tidak hanya berhenti pada ranah pribadi. Namun, berkembang menjadi sebuah etika sosial yang mendorong kepedulian dan solidaritas, esensial untuk membangun masyarakat yang harmonis.
Idul Fitri: Momentum Rekonsiliasi dan Harmoni Sosial
Perayaan Idul Fitri, yang menandai berakhirnya bulan Ramadhan, memiliki makna simbolis yang sangat penting. Tradisi saling memaafkan dan mempererat silaturahim menjadi fondasi untuk memulihkan hubungan sosial yang mungkin sempat renggang.
Muridan menggarisbawahi bahwa tradisi saling memaafkan ini menunjukkan potensi rekonsiliasi yang selalu ada. Hal ini terjadi ketika manusia bersedia merendahkan hati dan membuka kembali ruang kebersamaan, melampaui perbedaan yang ada.
Idul Fitri juga dimaknai sebagai momentum untuk kembali kepada fitrah manusia. Fitrah ini cenderung pada kebaikan, saling menghargai, serta menjaga harmoni dalam kehidupan bersama, sebuah prinsip fundamental bagi perdamaian.
Dimensi Kemanusiaan Islam dan Relevansi Global
Spiritualitas Islam, khususnya selama Ramadhan, memiliki dimensi kemanusiaan yang kuat dan nyata. Hal ini tercermin melalui praktik zakat, sedekah, serta peningkatan kepedulian sosial yang masif di bulan suci tersebut.
Menurut Muridan, kesalehan dalam Islam tidak hanya diukur dari hubungan vertikal manusia dengan Tuhan. Namun, juga dari kemampuan individu untuk menghadirkan kebaikan dan manfaat dalam kehidupan bersama dengan sesama manusia.
Pesan moral Ramadhan menjadi semakin relevan di tengah realitas global yang masih diwarnai konflik, pertentangan, dan ketegangan. Puasa mengingatkan bahwa manusia memiliki kapasitas untuk menahan diri dari kebencian dan permusuhan.
Dalam perspektif ilmu sosial, hubungan antara pengalaman spiritual dan tanggung jawab sosial dapat dipahami melalui gagasan sociological imagination. Konsep ini menjelaskan bahwa pengalaman pribadi tidak terpisah dari persoalan sosial yang lebih luas.
Sumber: AntaraNews