Janggalnya kasus pencabulan siswi magang di Pemkot Jakpus

PAR yang merupakan siswi SMEA mengaku diperlakukan tidak senonoh oleh tiga PNS di Pemkot Jakpus.

Lia Harahap
Oleh Lia Harahap - Reporter
Janggalnya kasus pencabulan siswi magang di Pemkot Jakpus
Ilustrasi Pencabulan. ©2016 Merdeka.com

PAR (17) mendatangi Mapolres Jakarta Pusat sekitar pekan lalu. Dia melaporkan kasus pencabulan yang dialaminya pada Rabu 4 Agustus lalu.Dalam laporannya, peristiwa memalukan itu terjadi di Kantor Pemkot Jakarta Pusat. PAR memang tengah menjalani praktik tugas lapangan atau magang di sana.PAR yang merupakan siswi SMEA mengaku diperlakukan tidak senonoh oleh tiga PNS di sana.Kejadian itu berawal saat dirinya sedang sendirian di ruangan karena sebagian PNS sedang istirahat. Meski sepi, dia sempat melihat ada tiga PNS lelaki yang belakangan diketahui berinsial H, Y dan Z.Rupanya tiga laki-laki itu datang dari belakang tubuh korban, kemudian membekapnya dari menggunakan sapu tangan yang diduga bercampur cairan obat bius. Dalam waktu singkat, korban pingsan dan selebihnya tidak mengetahui apa lagi yang terjadi.Beberapa saat kemudian, remaja itu siuman. Saat terjaga ia melihat dirinya dalam kondisi bugil di satu ruangan. Korban pun dengan perlahan mengambil pakaian seragam sekolah yang tak jauh dari tempat dia pingsan. Dia langsung menghubungi keluarga dan melaporkan ke polisi.

Sejumlah orang telah dimintai keterangan terkait peristiwa itu. Termasuk tiga PNS yang disebut-sebut namanya oleh PAR. Namun belum ada satu orang yang ditetapkan sebagai tersangka."Sampai saat ini keterangan saksi belum bisa dijadikan bukti kuat, sebab tidak ada yang melihat langsung peristiwa itu. Rata-rata tidak ada yang tahu secara persis karena tidak ada di lokasi," kata Kasat Reskrim Polres Metro Jakarta Pusat AKBP Tahan Marpaung, pada Minggu (7/8) kemarin.Total saksi yang diperiksa mencapai 12 orang. Namun belum ada satupun keterangan yang menguatkan adanya tindak asusila tersebut.Selain itu, selama penyelidikan pihaknya menemukan beberapa keganjilan dalam laporan korban. Salah satunya, soal terduga pelaku berinisial A. Dalam pemeriksaan saksi, A disebut tidak berada di lokasi kejadian."Kebanyakan saksi mengatakan kalau pegawai berinisial A ketika itu tidak ada di tempat. Saat itu A sedang ada tugas di luar kantor. Yakni A datang di pagi hari pukul 07.00 WIB untuk absen, dan tidak kembali lagi ke kantor," ungkapnya.Untuk terduga pelaku H dan Y, lanjut Tahan, keduanya merupakan petugas keamanan. Sehingga, dirinya merasa aneh bila keduanya melakukan tindakan pencabulan. "H dan Y bertugas sebagai petugas keamanan. Jadi sangat sulit rasanya kalau mereka melakukan pelecehan seksual di lantai 6," terangnya.

Dalam pemeriksaan lainnya, polisi merasa janggal dengan pengakuan korban soal warna baju yang dia kenakan saat itu. Sebab, saat mereka mengecek CCTV ruang, justru warna baju yang dipakai saat kejadian berbeda dengan yang terekam."Salah satunya keterangan saksi pelapor masalah warna bajunya (pelaku). Keterangan saksi warna baju pelaku saat kejadian, dan warna baju pelaku dalam rekaman CCTV itu berbeda. Kami buktikan dengan konfrontir," katanya.Bahkan hasil visum yang dilakukan menunjukkan, PAR tidak menjadi korban perkosaan."Hasil visum negatif, tak ada peristiwa pemerkosaan. Memang di situ di bagian kemaluan ada yang robek, tapi itu sudah lama," kata Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Awi Setiyono dalam kesempatan terpisah.Selain hasil visum negatif, pihaknya juga tak menemukan bekas sperma di rok yang bersangkutan. "Jadi itu tidak ditemukan sperma," jelasnya.Hasil penyelidikan sejauh ini, lanjut Awi, tidak mengarah pada adanya tindakan pelecehan yang dilakukan tiga pria seperti yang dituduhkan PAR."Jadi ada tiga orang diduga pelaku, tapi tiga orang itu mengaku tidak melakukannya. A tidak ada di situ. Tidak ada sperma dan belum ditemukan tindak pidana. Tapi ya itu urusan terlapor kalau mau melapor (balik)," tambahnya.Namun untuk menarik garis merah kasus ini, pada Selasa (10/8) kemarin PAR kembali diperiksa. Dia dikonfrontir dengan sejumlah saksi.

Rekomendasi